KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR

KETABRAK CINTA KETUA GENG MOTOR
BAB 3


__ADS_3

***


Syifa mendekati Zidan yang tengah asyik main game online di ruang tengah.


“Mas, salat magrib dulu, yuk!” ajak Syifa dengan nada lemah lembut.


“Mas,” imbuh Syifa, saat tak mendapat respons dari Zidan.


“Argh!” Zidan mengacak rambutnya kesal. Sejurus kemudian membanting ponselnya ke atas meja kaca yang terletak di depannya.


“Gara-gara elu nih, gua jadi kalah main gamenya!” bentak Zidan, nyolot.


“Ya, ma’af, Mas!” ucap Syifa lirih, sambil menunduk.


“Ck, udah deh, sono! Kalok mau salat, ya, salat aja. Gosah ngajak-ngajak gua!” Zidan semakin nyolot.


“Mas, salat itu kewajiban. Kita harus ....”


“Eh, elu kalau mau ceramah bukan di sini tempatnya. Sono di mesjid!” sela Zidan, seraya menunjuk tak tentu arah.


“Satu lagi, jangan panggil gua, ‘Mas’ jijik gua dengernya,” imbuh Zidan.


“Te-terus saya mesti panggil Mas, apa?” tanya Syifa.

__ADS_1


“Udah dibilang jangan panggil gua, mas! Terserah elu mau panggil gua apa asal jangan mas, jijik gua dengernya.” Zidan terus merepet.


Syifa terdiam tidak tahu lagi mesti berkata apa.


Zidan berdiri dengan sekali hentakan. Lalu menghadap ke arah Syifa.


“Elu ngapain masih di sini? Katanya elu mau salat? Sono pegi! Ngerusak pemandangan aja, lu!” sentak Zidan, seraya mendorong tubuh ramping Syifa hingga hampir tersungkur. Syifa pun pergi salat sendiri sambil menahan sesak di dada.


***


Ketika masuk waktu salat isya, Syifa kembali mengingatkan Zidan untuk ikut salat atau salat di masjid.


“Arrgh!” Lagi, Zidan mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu pergi keluar rumah.


Syifa menghela napas pajang. Menunduk sedih. Lalu menutup pintu. Kemudian salat sendiri lagi.


Selepas salat, Syifa duduk termenung di atas sajadah. Memikirkan nasibnya yang jauh dari ekspektasinya. Dulu ia bermimpi dan berdoa siang malam meminta jodoh yang soleh. Tapi kini ia dihadapkan dengan jodoh yang jauh dari bayangannya.


Air mata Syifa pun menetes.


“Enggak, aku nggak boleh nangis! Ini kan baru permulaan. Lagian aku yakin, Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.” Syifa kemudian menguatkan diri sendiri. Menghela napas pajang lalu mengusap air matanya. Lantas ber-istighfar hingga berulangkali.


***

__ADS_1


Zidan memarkirkan motornya dengan gusar. Sehingga menarik perhatian teman-teman gengnya yang sudah stay di basecampnya.


“Elu kenapa bos? Gusar amat!” tanya salah satu temannya.


Zidan  duduk lalu mengembuskan napas kasar. “Gua kesel sama bini gua!” ucapnya, keceplosan.


Sontak membuat teman gengnya melongo. Bingung. Karena selama ini Zidan tidak pernah bilang pada teman-temannya kalau sudah menikah.


“Hah! Bini?” sahut salah satu anak buahnya.


“Bos sudah menikah? Kapan? Sama siapa? Kok kita nggak tahu?” cerocos satunya lagi.


Zidan mengusap wajahnya dengan kasar. ‘Argh!  Ini mulut ngapa jadi lemes pake acara keceplosan segala. Sial!’ umpat Zidan dalam hati.


Kemudian Zidan menggaruk kepalanya dengan kasar. “Jadi gini ceritanya ....” Ucapan Zidan terhenti sejenak merasa ragu dan malu hendak menjelaskan kronologisnya. Namun, akhirnya ia berhasil menjelaskan pada anggota gengnya. Dan anggotanya mengerti, bahkan siap membantu Zidan untuk mengerjai Syifa agar tidak betah tinggal di rumahnya.


“Oke, kalau kalian siap bantu gua ngusir secara halus itu bini cupu gua. Kita mulai dari malam ini juga,” ajak Zidan, dan anak buahnya pun setuju.


Zidan pun mengajak gengnya yang lumayan banyak jumlahnya ke rumahnya untuk pesta miras.


***


Waduh! Apa yang akan terjadi pada Syifa, ya?

__ADS_1


Temukan jawabannya di next part.


__ADS_2