Ketika Cinta Menyatukan Kita

Ketika Cinta Menyatukan Kita
Mari menikah


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Laura sudah tiba di depan rumah mewah bertingkat milik Aisyah. Dengan perasaan khawatir, gugup dan serba salah Laura kembali menarik nafas, mengumpulkan keberanian untuk yang kesekian kalinya.


Langkahnya terburu-buru tapi sedikit pelan ketika memasuki rumah besar Aisyah.


Dimitri beranjak dari duduknya dan langsung mendekap tubuh Laura yang terlihat lemah. "Kau kemana saja."


Laura tak bergeming, membiarkan Dimitri memeluk hingga semuanya tak berjarak.


"Kami sangat khawatir." Aisyah ikut berdiri menyaksikan Dimitri yang tak juga melepaskan pelukannya.


Sekilas mata Laura menangkap sorot mata hitam pekat itu menatap ke arahnya. Pria yang pernah bersama dan lebih dari sekedar memeluknya itu tampak membuang pandangannya dan pura-pura tak peduli.


"Jangan ulangi lagi menghilang seperti ini." ucap Dimitri setelah melonggarkan pelukannya.


"Aku hanya bermain dan bersenang-senang, apa tidak boleh?" tanya Laura sedikit manja.


"Tentu saja boleh, tapi tidak dengan mengabaikan aku. Kemarin tiba-tiba kau pergi kemari tanpa memberitahu aku, sekarang kau pergi seharian tanpa memberi tahu aku juga, aku merasa kau berubah Sayang." Dimitri menatapnya dengan lebih dalam, tentu dengan banyak pertanyaan yang tak bisa di ungkapkan saat ini.


"Aku tidak berubah, aku masih mencintaimu seperti dulu." jawab Laura dengan mata berkaca-kaca. Ucapannya memang tulus, tapi hatinya berdenyut nyeri.


"Kalau begitu kita menikah." ucap Dimitri cepat.


"Me,, menikah?" ulang Laura menatap wajah tampan Dokter Dimitri.


"Ya! Kita menikah." Dimitri tersenyum manis seraya menikmati wajah cantik Laura.


Tapi berbeda dengan Laura, mata indahnya semakin berkaca-kaca, dan sekilas ia kembali melirik laki-laki yang saat ini ada di samping Aisyah.


Aneh!


Begitu pikir Dimitri, bukankah selama ini menikah adalah impian mereka, tapi mengapa kali ini Laura tampak berpikir ketika mendengar kata menikah.


"Apa kau sudah tidak ingin menjadi istriku?" tanya Dimitri masih di posisi berdiri, Dimitri sudah tidak ingin membuang waktu. Perubahan sikap Laura akhir-akhir ini membuatnya takut kehilangan.


"Bukan begitu, hanya ini terlalu tiba-tiba." Laura berusaha tersenyum meski canggung dan sesekali kembali melirik Aisyah dan El yang menatap tajam padanya.


Dimitri menautkan alisnya, menoleh Aisyah yang tersenyum senang dengan lamaran mendadak Dimitri pada saudaranya, tapi tidak dengan Eliezer, dia terlihat dingin dan langsung membuang pandangannya ketika Dimitri menoleh padanya.

__ADS_1


"Baiklah, kita bicara di depan saja." Dimitri merasa jika Laura tak nyaman dengan Aisyah dan El di sana.


"Kalau begitu aku pulang dulu, lagi pula kakakmu sudah ada di rumah." El beranjak dari duduknya.


"Terimakasih sudah menemani aku dan Kayla hari ini." Aisyah memegang lengan Eliezer, tentu itu adalah sebuah kemajuan bagi hubungan mereka.


El memandang tangan lentik yang menyentuh lengannya itu, kemudian tersenyum hangat dan meraih jemarinya.


"Aku harap kita akan selalu bersama. Aku akan sangat bangga menjadi suami dari Aisyah Adinata." ucap Eliezer mengecup tangan Aisyah.


Aisyah tersenyum bahagia mendengar ungkapan El padanya, pria tampan dan romantis itu selalu saja membuat Aisyah berbunga-bunga. Terlebih lagi saat bibir seksi El menyentuh punggung jarinya, pria itu sengaja mengecup sedikit lama agar Aisyah merasa hangat hingga ke hatinya.


"Akulah yang akan sangat bangga memilikimu El, aku menjadi wanita yang kau pilih dari sekian wanita yang bersedia memberikan segalanya untukmu. Sedangkan aku tak ada apa-apanya di bandingkan mereka yang masih gadis, cantik dan karier yang bagus."


"Bagiku sebaliknya." jawab El selalu terdengar menyenangkan.


Bibir Aisyah tak henti tertarik di kedua sudut, tersenyum manis menciptakan khayalan hangat di setiap malam Eliezer.


"Aku jadi ingin mencium mu." Eliezer terkekeh kecil, karena tak mungkin baginya Aisyah akan setuju.


"Setelah kita menikah." bisik Aisyah, mendekati wajah El dengan sedikit manja.


"Hem." Aisyah mengangguk, tak menjauhi wajah tampan El.


El memeluknya kali ini, tak peduli Aisyah akan marah nantinya. Tapi kebahagiaan yang mendadak itu membuatnya ingin berteriak tapi tertahan, dan memeluk tubuh Aisyah adalah luapan kebahagiaannya.


"El!" Aisyah mencoba lepas tapi percuma, Eliezer semakin memeluk dan menciumi pundak Aisyah.


"Akhirnya, kau mau menjadi istriku." ucap El sedikit bergetar.


Aisyah mendorong pelan tubuh gagal Eliezer, jujur saja rasanya sangat nyaman, tapi tidak untuk sekarang.


"Karena aku tidak bisa kehilanganmu lagi, aku jadi pencemburu dan curiga. Itu buruk sekali." jawab Aisyah tersenyum malu-malu.


El, semakin tersenyum lebar. Tentu jawaban itu adalah yang dia tunggu selama ini.


"Baiklah, aku akan berbicara kepada ayahmu, besok kami bertemu dan setelah selesai meeting aku akan berbicara pribadi padanya. Kita akan menikah secepatnya."

__ADS_1


"Apa harus secepatnya?" tanya Aisyah menggoda El yang sudah tidak sabar sejak lama.


"Tentu saja, aku tidak akan membuang kesempatan yang belum tentu ku dapatkan lagi setelah ini, aku takut kau berubah pikiran." jelas El kembali menggenggam tangan Aisyah.


"Aku bukan anak belasan tahun yang masih labil." Aisyah menggeleng.


"Aku hanya takut, aku tidak mau kehilangan Aisyah Adinata yang cantik." El mencolek dagu Aisyah.


Aisyah mengerucutkan bibirnya, tak suka El mulai berani.


"Baiklah, sepertinya aku harus segera pulang. Aku takut tidak bisa menahan diri dan membawamu masuk ke kamar dan menerkam mu seperti singa yang sedang kelaparan." canda El menghembus nafas lega.


"Sepertinya aku tidak akan selamat." balas Aisyah tertawa lepas.


"Tentu saja." El memegang kepala Aisyah.


"Pergilah, sebentar lagi Maghrib." Aisyah melihat jam dinding.


"Ya Sayang, assalamualaikum." dengan senyum manisnya.


"Wa'alaikum salam El." jawab Aisyah halus, tangan lentiknya perlahan dilepaskan Eliezer.


Sedangkan di luar rumah, tampak Laura dan Dimitri juga sedang berbicara serius. Dan mata kecoklatan Laura sedikit berhenti ketika melihat Eliezer keluar dari rumah Aisyah dengan senyum masih tersisa di wajahnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Dimitri ikut menoleh dimana Laura memandang.


"Tidak ada apa-apa, hanya melihat senyum El, sepertinya mereka juga sedang bahagia." jawab Laura hanya menebak.


"Ya, sepertinya El memang ingin segera menikah Aisyah."


"Hah!" Laura membulatkan matanya menatap wajah Dimitri.


"Ya, mereka sudah cocok, sama seperti kita." jawab Dimitri lagi.


Laura berusaha menguasai diri, sedikit tersenyum dan berusaha baik-baik saja. Lagi pula Dimitri tak tahu apa-apa.


"Maka dari itu kita juga harus menikah, seperti El yang takut kehilangan Aisyah, aku pun tak mau kehilangan dirimu." Dimitri masih berusaha meyakinkan Laura.

__ADS_1


Laura menarik nafas beratnya. "Aku akan menjawabnya besok pagi." jawabnya kemudian.


Dimitri menautkan alisnya, sungguh sikap Laura membuatnya berpikir, 'Ada apa dengan Laura?'


__ADS_2