
"Aku rasa Papa sedang salah menilai." Laura berlalu namun seperti biasa El meraih lengannya. "Bersiaplah, kita akan pulang ke rumahku."
"Tapi aku ingin tinggal di sini."
"Aku tidak bisa bekerja jika di sini, aku seperti orang bodoh yang tak bisa apa-apa." ucap El lagi sedikit menekankan.
"Kalau begitu kau pulang saja, aku lebih suka suasana di sini, menenangkan dan tidak ada yang menganggu." jawab Laura menatap El kali ini.
"Kata siapa kau aman di sini?"
"Kata ku! Tidak ada orang yang tahu keberadaanku." jawab Laura lagi sangat yakin.
"Dasar bodoh." El berbalik menuju dapur. " Bibi, kemas semua barangnya dan bawa ke mobil." perintah El kepada Bibi.
"Tidak, tidak!" Laura melarang Bibi dan menghadang El.
"Tidak bagaimana? Kau istriku sekarang."
"Aku tetap ingin tinggal di sini." jawab Laura pelan, sedikit serba salah setelah mendengarkan kata 'istriku'.
El mendengus kesal, pria itu melepas jasnya dan menuju kamar Laura.
"Tunggu, kau tidak boleh masuk." Laura mengejar dan menghalangi El di depan pintu.
"Aku ingin istirahat." El menyingkirkan tubuh Laura dan masuk begitu saja.
Tak
langkah pertama El di dalam kamar itu terhenti ketika melihat banyak foto seorang lelaki yang juga dikenalnya.
Tak hanya foto Dimitri sendiri tapi juga bersama Laura, mereka terlihat serasi dengan jas dokter berwarna putih dan Laura juga memakai gaun berwarna putih.
El tersenyum kecut, menatap dengan malas lalu mendekati sisi ranjang Laura, satu persatu ia melepaskan foto tersebut tanpa meminta persetujuan Laura, tentu saja wanita yang berdiri sejak tadi kini menjerit-jerit.
"Apa yang kau lakukan?" Laura mencoba menghentikan tangan El yang sibuk melepaskan foto Laura di dinding.
El tak peduli, terus saja melepaskan hingga ada yang robek saat tangannya menarik fotonya berukuran besar.
"El!" Laura masih terus menghalangi tidak terima fotonya bersama Dimitri rusak dan di buang sembarangan oleh Eliezer dilantai.
El menatap Laura dengan tatapan sulit diartikan.
__ADS_1
"Kau jahat El! Aku hanya memiliki foto ini, setelah aku membuat Dimitri kecewa, dan kami tak mungkin kembali bersama." ucap Laura sambil meneteskan air mata, terlihat sangat menyedihkan mengumpulkan foto yang sebagiannya telah robek, memungutnya di lantai.
El mendekati Laura, duduk menekuk kakinya. "Lupakan dia Laura." ucap El pelan.
Laura mengangkat wajahnya, melihat bagaimana wajah orang yang sudah lancang merusak miliknya.
"Tidak puaskah kau merusak segalanya? Dan sekarang kau juga masih suka merusak milikku." Laura memarahinya.
"Kau bisa menyalahkan aku Laura, tapi tidak suatu saat nanti. Ingat jika sekarang kau istriku, dan aku tidak suka melihat foto Dimitri ada di kamar istriku."
El beranjak meninggalkan Laura yang masih memegang banyak sekali foto Dimitri.
Tentu saja dia menangis. Walau entah apalagi yang harus di tangisi tapi rasanya menangis membuat Laura merasa lega.
Begitu juga El yang ada luar sana, berjalan menuju mobilnya dengan perasaan kesal. Walaupun merasa bersalah karena merusak milik Laura, tapi tak bisa di benarkan juga jika Laura masih saja memikirkan Dimitri, sedangkan pria itu sedang menikmati waktu bersama Aisyah.
Ya! El sedang marah juga cemburu.
Cemburu pada Dimitri yang sudah menikahi Aisyah, cemburu dengan Dimitri yang kini tertawa lepas bersama Adinata mantan calon mertuanya.
El tersenyum kecut, tak habis pikir dengan kenyataan yang bisa menukar pasangan yang dicintai masing-masing. Malah membuat mereka semua terjebak dalam kisah membingungkan.
El melajukan mobilnya entah kemana, tak ingin menyaksikan kesedihan Laura yang membuat El semakin mendidih. Tak adil rasanya meluapkan kekesalan kepada Laura, sedangkan Laura tidak tahu apa yang sudah terjadi di belakangnya.
Sedangkan di rumah Aisyah, wanita itu tampak duduk termenung di halaman belakang. Memandangi kursi kosong di hadapannya, seolah ada seseorang di yang mengisi di sana.
"Kayla." ucapnya pelan.
Terbayang ketika gadis kecil itu menyukai kebersamaan mereka, ada El juga di sana.
Tawa dan canda itu tak pernah pudar dalam ingatan, Kayla sangat menyukai Eliezer.
Mendadak lamunan itu berhenti ketika satu nama melintas di kepalanya.
El bukan lagi kekasihnya saat ini, melainkan Dimitri yang akan mendampinginya, bersamanya setiap waktu.
"Ay." suara berat Dimitri membuat Aisyah menoleh, masih terasa aneh ketika pria jangkung itu mendekat dan memanggil namanya, berbeda jauh ketika El yang memanggil dan menatapnya mesra.
Aisyah menggeleng, melarang diri sendiri untuk merindukan Eliezer.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Dimitri duduk di samping Aisyah.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya teringat masa-masa bersama Kayla." jawab Aisyah tersenyum sedikit.
"Sudahlah, dia sudah bahagia di surga sana. Jangan bersedih disaat dia sudah tenang, itu akan memanggilnya untuk kembali bersedih." Dimitri mengusap kepala Aisyah.
"Dimana Mama?" tanya Aisyah melihat sekitar tak ada wanita yang saat ini sudah menjadi ibu mertuanya.
"Dia ada keperluan mendadak, di rumah sakit ada yang butuh dirinya." jelas Dimitri.
"Rumah sakit? Bukankah Mama_"
"Mama membangun rumah sakit dan klinik di sini, dan baru saja rampung dua Minggu yang lalu. Jadi aku akan menetap di sini bersamamu." jelas Dimitri mencoba menghibur Aisyah.
"Begitu rupanya." Aisyah mengangguk mengerti.
"Sebaiknya kau istirahat, kau lelah Ay." ucap Dimitri pelan.
Aisyah tersenyum dan beranjak masuk bersama Dimitri, sungguh Dimitri adalah pria yang lembut. Tak akan sulit bagi Aisyah untuk membuka hati.
Sempat terselip tanya di hatinya, bagaimana dengan Laura?
Tapi sudahlah, tak perlu banyak berpikir dan menjalani hidup. Lagi pula mereka sama-sama sedang kecewa, lalu berusaha bangkit dan menata hati. Tak terkecuali Dimitri, Aisyah yakin jika pria di sisinya itu masih mengingat Laura seperti dia juga masih kesulitan menghapus nama El di hati dan pikirannya.
"Aku ingin mandi." Aisyah meraih handuk dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan Dimitri.
Pria itu mengangguk, hanya menatap punggung Aisyah yang kemudian menghilang di balik pintu.
Menjatuhkan diri di kasur empuk milik Aisyah, menatap langit-langit dan menarik nafas lega.
Tak memungkiri jika Aisyah sangat cantik, tapi Laura masih saja menghantui dirinya.
...ΩΩΩ...
Mobil mewah Eliezer memasuki halaman rumah Laura, malam yang yang gelap mendadak membuatnya gelisah, tak seperti biasa sebelum ada Laura dalam hidupnya.
"Sepi." gumamnya tak menemukan siapa-siapa diruang tamu. El berjalan masuk menuju kamarnya Laura.
Perlahan tangannya membuka handle pintu, dan ternyata tidak dikunci.
Menyesal tadi siang membuat wanita itu menangis, El hanya ingin melihat apakah dia sudah tidur, membuka pintu itu sedikit lalu menutup kembali.
Pria itu menuju sofa ruang keluarga, mencoba istirahat di sana dan berhenti memikirkan semuanya.
__ADS_1