
"Bibi, persediaan kita sudah mulai habis." ucap Laura membuka lemari pendingin tersebut biasanya di penuhi buah dan makanan.
"Iya Non, biar Bibi saja yang belanja." jawab Bibi mendekati Laura di meja makan, memotong buah terakhir untuk majikannya.
"Aku ikut Bi, sekalian jalan-jalan."
Bibi tertawa, tentu majikannya itu sedang bosan.
"Ya sudah, Bibi bersiap dulu." Bibi meninggalkan Laura yang sedang asyik mengunyah buah apel.
Tak berapa lama Bibi sudah siap, lalu Laura juga beranjak menuju kamarnya mengambil tas dan bersiap untuk berbelanja bersama Bibi.
Sore yang cerah, pas sekali rasanya jika berjalan-jalan dan berbelanja sebentar.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah itu.
"Tuan sudah pulang Non." Bibi kembali membuka pintu rumahnya.
Tampak El turun dan melangkah menuju tempat Laura dan Bibi berdiri. "Mau kemana?" tanya El kepada Laura juga Bibi, menatapnya bergantian.
"Mau belanja Tuan, tapi Non Laura mau ikut." ucapan Bibi melirik El yang selama di sana belum pernah tersenyum.
"Aku akan mengantarmu."
El berjalan lebih dulu menuju mobilnya.
"Ayo Non." Bibi terlihat bersemangat berjalan menyusul El menuju mobilnya.
Dengan langkah ragu Laura tak punya pilihan, terlebih lagi asisten rumah tangganya yang super pintar itu sudah masuk ke dalam mobil tanpa menunggunya.
Namun kemudian berdiri di depan pintu mobil Eliezer, membuat pria itu sedikit kesal.
"Mau pergi atau tidak?" tanya El membuka kaca mobilnya.
"Mau Tuan, tapi pintunya harus dibukain." Bibi menautkan tangannya, takut El marah karena ucapan lancangnya.
Benar saja El melirik Bibi, tapi kemudian keluar dan membukakan pintu untuk Laura. "Masuklah, aku tidak mau anakku kekurangan gizi hanya karena kau terlalu manja dan tidak jadi belanja."
"Aku tidak manja." Laura sedikit protes dengan ocehan suaminya.
"Kalau bukan manja apa namanya?" El menutup kembali pintu mobil setelah Laura ada didalam.
__ADS_1
Mobil melaju tanpa ada yang berbicara, hanya alunan musik yang lembut mengiringi sepanjang jalan menuju pusat perbelanjaan.
"Jauh sekali, bukankah tak jauh dari rumah kita ada pusat perbelanjaan." Protes Laura ketika mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan lumayan besar.
"Itu punya orang, lebih baik belanja di pusat perbelanjaan milik kita. Kau bebas mengambil apa saja." El melangkah lebih dulu memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
"Selamat sore Tuan." seorang satpam senior menyapa El dengan hormat, benar saja dia adalah pemiliknya. Laura dan Bibi mengikuti langkah pria itu.
"Perhatikan semuanya, dia adalah istriku, layani dan berikan apa yang dia mau."
El merangkul bahu Laura dan memperkenalkan istrinya kepada semua staf yang ada di depan.
"Baik Pak." Mereka semua menunduk hormat.
Laura terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, mana mungkin seorang El begitu membuatnya istimewa. Dia masih tak percaya.
"Pergilah, ambil apa saja yang kau mau." Perintah El lagi kepada Laura yang seolah masih terhipnotis oleh perlakuannya sore ini.
"Ayo Non." Bibi menggandeng tangan majikannya menuju rak yang berjejer rapi, tak peduli dengan wajah terkejut Laura yang tak juga berubah.
"Apa yang dia lakukan." gumamnya masih menoleh El yang sibuk melihat laporan di atas meja kasir.
Laura masih berpikir, namun kemudian tersenyum tipis.
Jika dia saja sudah mencoba menjadi seorang suami, harusnya aku juga mencoba untuk menjadi seorang istri.
Senyum di bibirnya semakin terbentuk indah.
Laura menjadi lebih semangat, membeli susu dan banyak lagi makanan bergizi, tak hanya sekedar suka tapi kini lebih memperhatikan kandungan dari makanan yang ia beli.
"Non, ayo pulang?" Bibi mendekati Laura dengan troli yang penuh dengan barang belanjaan.
"Sebentar Bi." Laura melihat beberapa makanan ringan yang mungkin di sukai El suaminya.
Ah, itu terlalu indah, namun kenyataannya memang El suaminya, dan berharap pada suami sendiri adalah hal yang wajar. Berharap pada Dimitri yang tak boleh terjadi, karena sudah jelas dia tak peduli. Nama itu masih saja melintas walaupun tak sedang di inginkan.
"Apakah sudah selesai?"
Suara El menyapa Laura, pria itu sudah berdiri begitu dekat.
"Kau menyukai apa?" tanya Laura menoleh El sedikit.
__ADS_1
"Aku bisa makan apa saja." Jawabnya tak mempermasalahkan apa yang akan di ambil Laura, membiarkan wanita itu mengambil lebih banyak hingga selesai.
"Tolong bawa semua ini ke dalam mobil." Perintah El kepada seorang pegawai laki-laki.
"Baik Pak." jawab pegawai tersebut, meraih troli yang penuh itu dari tangan Laura dan Bibi.
'Ternyata dia bisa baik juga.' Laura tersenyum mengikuti pria itu hingga menuju mobil mereka.
Kembali terulang El membuka pintu dan meminta Laura masuk lebih dulu. Perlakuannya lembut dan terlihat begitu menyayangi Laura. Sungguh tubuh gagah dan wajah tampannya terlihat sempurna dengan sikap penuh kasih sayang.
Seseorang baru saja berhenti di depan pusat perbelanjaan itu dan mengamati keberadaan keduanya.
Masih terasa sakit, hubungan yang sepuluh tahun itu tak mudah di lewati begitu saja. Bisa dikatakan dewasa bersama dalam suka duka.
Dimitri tertegun menyaksikan tangan El yang menghalangi bagian atap mobil seolah takut kepala Laura menyentuh bagian itu.
"Ternyata." ucapnya tersenyum getir.
Ada sesal yang sulit di jelaskan atas hubungan yang sudah berlalu, namun tak dapat melakukan apa-apa karena saat ini mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing.
Wajar jika mereka menikah, yang tidak wajar itu adalah pernikahannya dengan Aisyah. Namun tak menampik jika Aisyah lebih cantik dari Laura. Hanya saja kenangan itu tak bisa digantikan begitu saja dengan wajah cantik Aisyah.
Jika Dimitri butuh waktu, Aisyah pun pasti juga butuh waktu. Tapi mereka seperti tak butuh waktu untuk menyatu. Laura terlihat nyaman, dan El terlihat sangat menyayanginya.
Dimitri kembali masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah Aisyah.
Pikiran yang mendadak tak nyaman melihat sang mantan, membuat Dimitri hanya menatap lurus jalanan, hingga tak terasa sudah sampai di rumah Aisyah .
Dimitri keluar dari mobilnya masih lengkap dengan jas berwarna putih. Pria itu melangkah masuk mencari keberadaan Aisyah istrinya.
"Kau sudah pulang?"
Suara Aisyah terdengar lembut meyambut kedatangan Dimitri.
"Iya Sayang." jawab Dimitri terdengar mesra, membiarkan Aisyah mengecup punggung tangannya lalu melepaskan jas berwarna putih, selain ia adalah seorang dokter, dia adalah direktur rumah sakit.
"Terimakasih Ay." ucapnya menatap wajah cantik Aisyah.
"Tak perlu berterimakasih, aku istrimu." jawab Aisyah tersenyum manis mengajak Dimitri duduk di tepi ranjang besar di kamar mereka.
"Tadi aku melihat Laura dan El di sebuah pusat perbelanjaan, mereka terlihat mesra sekali. Aku rasa mereka sudah menikah karena Laura berbelanja bahan makanan banyak sekali." ungkapnya menatap wajah Aisyah, mencari tahu apa reaksi istrinya.
__ADS_1