
Mengapa harus Dimitri?
Begitu El berpikir dan terus berpikir, bagaimana bisa Aisyah menerima Dimitri yang sudah jelas tidak baik menurutnya.
"Apakah Aisyah sengaja, ingin menyakiti aku juga Laura?" gumamnya masih terlihat gelisah, semua posisi terasa tak nyaman bagi El saat ini.
"Maafkan aku Aisyah, aku membuatmu bersedih. Andai saja aku tidak pernah pergi ke Australia saat itu, mungkin sekarang kita sudah menikah." ucapnya menyandar lelah dan memejamkan mata.
"Dan tak perlu ada Laura diantara kita."
Teringat akan Laura, tentu dia juga tidak bersalah.
El tersenyum kecut, menyadari jika dirinya sudah menghancurkan hubungan banyak orang.
Pria itu mengusap wajahnya beberapa kali, menarik nafas dan membuang kasar. Percuma terus memikirkan Aisyah, sedangkan Laura pun tak kalah menderita saat ini.
El kembali melajukan mobilnya menuju rumah Laura.
Saat itu, matahari kian meninggi menampakkan sinar terang pada dunia yang terkadang terasa sudah sangat tua. Terlebih lagi untuk orang-orang yang sudah dewasa, mereka sedang berjuang untuk mencari sebuah kata yang semakin sulit di temukan, yaitu bahagia.
Entah bagaimana dan seperti apa kenyataan akan merubah hidup semua orang, tak ada pilihan lain selain hadapi.
"Non." panggil Bibi menghentikan langkah yang sudah beberapa kali mondar-mandir di ruang tamu tersebut.
"Iya Bi." jawab Laura menoleh wanita teman sekaligus asisten rumah tangganya.
"Apa tidak pusing dari tadi bolak-balik?" tanya Bibi melihat Laura.
"Papa sudah datang, tapi aku lupa meminta nomor ponsel El Bi, lalu bagaimana mereka bisa bertemu? Aku juga tidak mungkin menghubungi Aisyah dan meminta nomor ponsel mantan kekasihnya." Laura memijat kepalanya.
"Lha, gimana Non?" Bibi balik bertanya, dan membuat Laura semakin bingung.
"Aku tidak tahu Bibi." jawabnya semakin memijat dua sisi pelipisnya, walau kemudian menoleh pintu yang terdengar di ketuk dari luar.
"Ada yang datang Non." ucap Bibi segera membuka pintu.
"Tuan!" panggil Bibi membuat Laura kembali menoleh siapa yang datang.
Pria itu melangkah masuk melihat kiri kanan dengan santai.
"Bagaimana kau tahu rumahku?" tanya Laura menatap curiga kepada El, ada kelegaan pula di hatinya.
"Apa yang aku tidak tahu." jawab El membuka kaca mata, dalam suasana rumit pun dia tak mengesampingkan penampilannya.
__ADS_1
"Papa sudah menunggu." ucap Laura lagi, membuang pandangan tak mau melihat wajah El terlalu lama.
"Baiklah." El melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, menuju ruang tengah.
"Mengapa dia hapal sekali rumahku?" gumam Laura.
Bibi menggeleng, semua orang terlihat aneh baginya.
Di ruang keluarga itu, seorang laki-laki gagah dengan rambut rapi, berusia lima puluh tahun. duduk dengan sebuah buku milik Laura di tangannya.
"Selamat pagi Paman." El menyapa lebih dulu.
"Selamat pagi." jawab pria itu kemudian meletakkan buku.
Keduanya saling menatap, memberi penilaian masing-masing kemudian Laura meminta El duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Maaf, aku terlambat." ucap El lagi tampak tenang dan tak menghindari tatapan ayah Laura.
"Terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali." jawab ayah Laura tak kehilangan sikap berwibawa seorang pemimpin.
"Terimakasih." El menundukkan kepalanya sedikit, dengan senyum tipis.
"Bagaimana dengan rencana mu terkait dengan kehamilan Laura?" tanya pria itu.
"Baiklah, tak perlu membahas apapun yang sudah berlalu. Aku tahu banyak tentang dirimu juga kalian semua, dan ku rasa kau pun sama." ayah Laura tak suka basa-basi, dia tergolong orang yang serius dan dingin. Jauh berbeda dengan Adinata ayah dari Aisyah.
El benci mengingat itu, nyatanya mereka lebih menyukai Dimitri. "Aku akan menikahi Laura besok pagi."
"Lebih cepat lebih baik, dengan catatan tidak menyakiti putriku." pria itu berkata tegas.
"Kau tahu semua tentangku, jika itu soal perasaan maka aku tak bisa berjanji." jawab El juga tak berbasa-basi.
"Aku menyukai kejujuran mu, silahkan kau bicara pada Laura." ucapnya menyandar tak mau diganggu.
Laura beranjak dari duduknya menuju halaman rumahnya.
"Ayahmu dingin sekali." ucap El ketika sudah duduk di halaman rumah Laura.
"Dia tak menyukai suasana yang hangat, baginya tawa dan canda itu semua palsu." jawab Laura tak mau memandang wajah El.
Lama saling berdiam, terlebih lagi Eliezer yang hanya menunduk masih mengingat Aisyah yang akan menikah dengan Dimitri.
Ingin rasanya mengatakan semua itu kepada Laura, namun urung dan kembali berpikir jika wanita di hadapannya tidak siap mendengarkan hal itu.
__ADS_1
"Persiapkan dirimu besok, dan setelah itu kau tinggal di rumahku." ucap El menatap Laura serius.
"Mengapa harus di rumahmu, di sini sudah sangat nyaman. bagiku. Lagi pula kita hanya menikah, hanya demi anak ini saja. Jadi tak perlu berlebihan."
Malas menjawab, apalagi harus berdebat. Lagi pula yang dikatakan Laura semuanya benar.
Lagi-lagi bayangan Aisyah menikah dengan Dimitri mengganggu pikiran Eliezer. Masih tak rela, tak suka bahkan ingin kembali ke rumah itu dan menghajar pria itu hingga tak bernyawa.
Andai saja bukan Dimitri, mungkin El akan merelakan Aisyah. Entahlah, atau mungkin rasanya akan sama, tidak mau kehilangan Aisyah.
...ΩΩΩ...
Pukul 08:30, Waktu yang hampir bersamaan mereka melaksanakan ijab Kabul di tempat yang telah dipilih masing-masing. Aisyah di rumah besar miliknya, Laura dan El di rumah sederhana milik Laura.
Dimitri yang terlihat gugup mengulang Ijab Kabul hingga dua kali, berbeda dengan El yang hanya sekali dan menjawab lantang tanpa keraguan.
Laura tampak menjatuhkan air mata dengan pernikahan yang tak disangka itu, namun satu hal yang dia rasakan adalah kelegaan karena anak yang ada di dalam kandungannya sudah punya ayah.
"Tidak perlu menangisi yang sudah berlalu, hadapi dan nikmati saja takdir tuhan yang sudah di tetapkan untukmu." ucap ayahnya mengusap kepalanya Laura.
"Maafkan Laura Papa." ucapnya semakin memeluk ayahnya.
Kemudian bergantian El yang memeluk ayah Laura yang bernama Richard tersebut.
"Aku titip putriku, aku percaya padamu." ucapnya diantara pelukan ayah dan menantu itu.
El mengangguk, lagi-lagi tak ada yang perlu dijawab untuk saat ini. Namun El yakin jika Richard sudah tahu tentang Dimitri.
"Papa akan pulang ke Australia." ucapnya setelah acara mereka selesai.
"Apakah secepat itu Papa?" Laura masih enggan melepaskan tangan ayahnya.
"Ya, Papa sangat sibuk. Dan sekarang kau milik suamimu, bukan lagi milikku." jawab Richard dengan wajah datar namun menghangat di mata Laura.
"Papa." Laura memeluk Richard dan menangis.
"Menurut pada suamimu." ucap pria itu lagi.
Dua orang laki-laki berkacamata hitam sudah menunggu akan mengantarkan Richard ke bandara.
"Bagaimana bisa Papa percaya sekali pada pria asing seperti dia?" gumam Laura masih kesal dengan sikap ayahnya.
"Karena aku orang baik." jawab El yang ternyata berdiri tegap di belakang Laura.
__ADS_1