Ketika Cinta Menyatukan Kita

Ketika Cinta Menyatukan Kita
Kita pergi bersama


__ADS_3

"Laura."


Terdengar suara El memanggil namanya di malam itu, El baru saja pulang dari kantor.


"Ada apa?" Laura keluar dari dapur dengan makanan di tangannya.


"Ku pikir kau ada dimana, aku mencarimu di kamar." El mendekati Laura dan ikut duduk di meja makan.


"Kau mau makan apa?" tanya Laura meletakkan makanan yang ia bawa.


"Tadi aku sudah makan, tapi jika kau menginginkan aku menyicipi makananmu aku tidak menolak." El melihat ada banyak sekali kentang goreng, kacang dan buah di dalam piring lebar di atas meja.


Laura tertawa. "Apakah kau butuh izinku?"


El ikut tertawa, lalu mengambil potongan kentang itu, memasukkan ke mulutnya.


"Oh iya, besok malam ada acara peresmian Mega proyek di hotel Grand Media. Aku ingin mengajakmu." ucap El pelan, ragu Laura akan setuju.


Laura menatap wajah El yang tampak serius. "Yakin mau mengajakku? Aku tidak secantik Aisyah." Laura menunduk.


El menautkan alisnya, la memperhatikan wajah Laura lalu terkekeh.


"Mengapa tertawa?" Laura sedikit kesal hingga mengerucut bibirnya.


"Aku rasa sekarang kau lebih cantik, entah jika karena kau sedang mengandung anakku." El tersenyum lebar dengan gigi berbaris rapi. Pujian ringan itu sukses membuat Laura tersipu.


El kembali tersenyum menertawai wanita yang terlalu polos menurutnya, atau bukan polos tapi sedang jatuh cinta.


"Apakah begitu caramu membuat para gadis berlutut?" tanya Laura mulai menguasai dirinya.


"Entahlah, aku sudah lupa. Tiba-tiba aku ingin kau jatuh cinta padaku seperti mereka." rayu El lagi, semakin berani setelah mendapat respon sedikit dari istrinya.


"Aku tidak mau." jawab Laura tetap fokus dengan makannya.


El menarik kursinya agar lebih dekat dengan Laura. "Mengapa tidak mau?"


"Ya_ ak_aku tidak mau." jawabnya gugup.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu." El menusuk potongan buah milik Laura lalu mengarahkan ke mulut istrinya. "Kalau begitu aku yang akan jatuh cinta padamu."


Tatapan dan ucapan mesra dari El membuat bibir mungilnya rapat tak bergerak.


"Aa' " El meminta Laura membuka mulutnya. Namun seperti sedang di kunci ia kesulitan membuka mulutnya sendiri.


El semakin terkekeh gemas melihat Laura seperti itu, tak tahan rasanya untuk tidak semakin menggoda Laura.


"Mau di buka tidak? Atau aku akan mencium mu?"

__ADS_1


Laura membulatkan matanya mendorong El sedikit dan meraih garpu dari tangannya.


El semakin terkekeh geli. "Ternyata menyenangkan sekali menggoda mu, baiknya kau terbiasa."


"Aku sudah selesai." ucapnya meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


"Aku juga sudah selesai." El mengikutinya dari belakang.


"Jangan menjahili ku, aku mau istirahat." Laura menuju ranjang mereka tanpa menoleh El yang terus saja mengikutinya.


"Tidak, aku juga lelah. Setelah mandi aku juga akan istirahat." El meraih handuk lalu menuju kamar mandi, membiarkan ibu hamil itu mengintip lalu bersembunyi di balik selimut.


Sore itu El pulang lebih cepat, mereka bersiap akan pergi bersama menghadiri sebuah perta peresmian Mega proyek kerja sama El bersama beberapa perusahaan lainnya. Dengan penuh semangat ia langsung menuju kamarnya.


"Halo Tuan El yang tampan." Seorang bernama Jenni menyapa, dia bukan wanita tulen, hanya kecantikannya melampaui wanita pada umumnya.


"Halo Jay." jawab El membuat bibir Jenni mengerucut.


"Ish.." kesalnya, tangan lentiknya kembali fokus merias Laura yang ikut terkekeh melihat reaksi wanita jadi-jadian itu.


"Jangan terlalu berlebih, aku tidak suka." pinta El kepada temannya bernama Jenni tersebut.


"Ya, ane paham selera Ente." jawabnya masih kesal.


El meraih handuk, sempat melirik Laura sedikit, namun wanita itu menghindari tatapannya.


Laura turun dengan gaun berwarna ungu tua, rambutnya tertata rapi dengan riasan natural namun terkesan sempurna.


"Gimana? Ente puas?" tanya Jenni tersenyum bangga, terlebih lagi melihat El hampir tak berkedip.


"Uangnya sudah ku kirim." ucap El tak mau menanggapi Jenni yang semakin bangga.


"Terimakasih, selamat bersenang-senang." Jenni melenggang pergi membawa koper berisi alat kosmetik miliknya.


"Kau yakin membawaku bersamamu?" tanya Laura untuk yang kesekian kalinya.


El berlalu menuju mobilnya, tak mau berlama-lama atau mereka akan terlambat.


"El?" Laura masih butuh jawaban, bahkan setelah mereka duduk di dalam mobil.


"Tentu saja aku yakin, kau istriku." jawab El tanpa menoleh Laura.


"Tapi aku merasa ragu." gumamnya pelan.


"Apa yang membuatmu ragu, atau kau tidak mau menjadi istriku malam ini?" El menolehnya kali ini.


"Bukan itu." jawabnya masih terlalu berpikir.

__ADS_1


Hingga tiba di hotel mewah tersebut, El membukakan pintu untuk Laura.


"El." panggil Laura lagi kali ini setengah merengek.


"Ada apa?" El memeluk pinggang Laura.


"Apa setiap di depan keramaian kau akan bersikap mesra seperti ini?" Laura melirik tangan El yang terlihat aman memeluknya.


"Karena jika di keramaian kau tak akan menolak." jawab El tertawa senang, menggandeng Laura masuk ke dalam.


"El sebenarnya aku_"


"Aku tahu." El menatap Laura sambil berjalan pelan. "Kau takut bertemu Aisyah."


Laura mengangguk, memperlihatkan wajah bersalah dan juga sedih kepada suaminya.


El tersenyum tapi kemudian bola matanya mengelilingi langit-langit ruangan megah itu. "Mungkin setelah bertemu dengannya akan mengurangi rasa bersalah mu."


"Maksudmu?" tanya Laura tidak mengerti.


"Ya, untuk sekarang kau hanya boleh memikirkan anak kita, ingat dia butuh kebahagiaan. Jadi kau harus bahagia."


"Kau sedang berusaha?" Laura tersenyum sedikit.


"Ya. Dan aku bahagia sudah bisa memeluk kalian di setiap malamnya." El malah menggodanya.


"Apa yang kau bicarakan?" Laura melihat sekeliling mereka.


"Hanya memeluk, tidak lebih." ucapnya lagi terkekeh senang. "Kita duduk di sini saja." El melonggarkan kursi untuk Laura.


"Terimakasih." Laura mulai menikmati perlakuan hangat El padanya, lama-lama dia terbiasa walaupun itu terjadi hanya ketika berada di keramaian.


"Selamat malam Pak El?" seseorang menyapa El yang baru saja duduk, hingga kembali beranjak dan berjabat tangan dengan rekan bisnisnya.


"Selamat malam, perkenalkan ini Laura istriku." El memegang lengan Luara.


"Kak Laura?"


Tiba-tiba dari samping suara Aisyah terdengar, membuat Laura menoleh.


"Ay." ucapnya pelan, terdengar gugup.


Aisyah melirik El yang membuang muka, kembali berbincang dengan rekan bisnisnya. Aisyah berpikir jika Laura dan El benar-benar sudah menikah.


Namun lebih mengejutkan bagi Laura, dengan hadirnya Dimitri bersama Adinata di ruangan itu. Pria jangkung itu berjalan sejajar dengan Adinata mendekati Aisyah.


"Sayang." Dimitri yang belum melihat kehadiran Laura langsung meraih tangan Aisyah dari samping dan terlihat begitu mesra.

__ADS_1


"Ay." pelan Laura tanpa sadar, matanya terpaku pada sosok laki-laki yang dulu menemani harinya selama sepuluh tahun. Tak bisa di bohongi jika hatinya masih berdenyut nyeri ketika melihat tangan Dimitri meraih lengan Aisyah begitu hangat.


__ADS_2