
"Laura." gumam Dimitri, tak kalah terkejut di pagi ini melihat wanita yang pernah menemani hari-harinya dulu.
Laura berbalik meninggalkan ruangan itu, langkahnya,begitu cepat dan tanpa menoleh meskipun suara langkah Dimitri mengejarnya.
"Kita ke rumah sakit saja Bi." Laura meraih tangan Bibi.
"Tunggu Laura." Dimitri menahan lengannya.
"Jangan sentuh aku Dimitri." ujarnya menarik lengannya dari cengkeraman Dimitri.
Dimitri tampak serba salah mendapat tatapan mata Laura.
"Ayo Bi, kita pergi."
Bibi mengangguk mengerti, beranjak dari duduknya namun Dimitri kembali menahan Laura.
"Tunggu Laura, aku ingin bicara."
"Tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi." suara seseorang mengejutkan ketiganya.
El datang dengan senyum di bibirnya, mendekati Laura dan merangkul bahunya.
Dimitri menatapnya dengan tak suka, terlebih lagi Laura terlihat senang dengan kedatangan El di sana.
"El." panggil Laura pelan mendongak wajah tampannya.
'Ah, sepertinya akting akan di mulai.' gumam Bibi di dalam hati melihat majikannya terlihat mesra.
"Kita periksa di tempat lain saja, ada banyak rumah sakit yang bagus di kota ini, tidak hanya klinik miliknya." ucap El semakin memeluk Laura.
"Iya." jawab Laura mengangguk, kemudian berlalu lebih dulu bersama Bibi.
"Syukurlah jika kau sudah mencintainya." ucap Dimitri melengos membuang muka.
"Ya, dia istriku, mengandung anakku, sudah sepantasnya aku menjaganya. Lagi pula Aisyah sudah ada yang menjaga, tak perlu lagi aku memikirkannya."
Dimitri tersenyum sinis, mencoba bersikap tenang walau hatinya kacau terlebih lagi Laura sempat menoleh saat nama Aisyah di sebut oleh suaminya.
"Tadinya aku berpikir jika akulah laki-laki yang jahat, tidak taunya kalianlah penghianat sesungguhnya." dengan tatapan mengejek.
"Jangan menghina Aisyah, dia tidak tahu apa-apa termasuk pernikahanmu." jelas Dimitri membela istrinya.
"Kalau begitu kita sama, Laura tidak tahu jika kau sudah menikahi adiknya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika dia tahu bahwa mantan kekasihnya yang selama sepuluh tahun bersamanya malah menikahi adiknya. Aku harap ketika waktu itu tiba kalian sudah siap."
__ADS_1
El berlalu meninggalkan Dimitri yang berdiri terpaku, tampak dari wajahnya ia masih ingin menjawab membela diri, tapi sayangnya El tak perduli. "Sikapnya seperti tidak berdosa, padahal dia yang memulai masalahnya."
Di dalam mobil milik El, Laura duduk menunduk memikirkan sesuatu.
"Mengapa kau menyusul?" tanya Laura tanpa melihat wajah suaminya yang kini duduk di sampingnya.
El menoleh Laura. "Hanya khawatirkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu, dan ternyata memang kedatanganku berguna." jawab El tersenyum sedikit, lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Kau bilang Aisyah _" Laura tak melanjutkan ucapannya lantaran tak yakin dengan apa yang baru saja di dengar olehnya.
"Ya, dia baik-baik saja. Sebaiknya kau berhenti memikirkan Aisyah atau siapapun, aku ingin kau tetap fokus dengan kandungan mu. Saat ini dia lebih penting dari apapun juga." El melirik perut Laura.
Ada kehangatan menjalar mendengar ucapan El padanya, tangannya terulur mengusap perut yang mulai membesar itu.
"Apakah kau tidak sibuk?" tanya Laura menoleh El yang ikut mengantar hingga ke dalam rumah sakit.
"Sibuk itu pegawaiku, kau lupa jika aku bosnya." El bersikap lebih hangat hari ini, merangkul Laura menuju ruang periksa.
Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah selesai. Mereka kembali melaju tapi bukan ke rumah Laura.
"Kita akan kemana El?" tanya Laura menoleh suaminya.
"Pulang ke rumah kita." jawab El tetap fokus pada jalanan lalu berbelok masuk menuju sebuah jalan komplek perumahan elite.
"Rumahku yang akan ku berikan pada anak yang sedang ada di dalam sana." El menoleh Laura sedikit, lalu menghentikan mobilnya di sebuah rumah. Pintu pagar rumah itu segera di buka oleh seorang scurity yang berjaga.
"Besar sekali rumahnya." celetuk Bibi ketika mobil mereka sudah berhenti.
"Rumah Laura lebih besar dari ini di Australia Bibi." ucap El mengajak mereka semua keluar, sedangkan Laura hanya tersenyum mendengarnya.
"Itu rumah Papa." jawabnya menyahuti El.
"Selamat datang Tuan." seorang ART menyambut hormat.
"Ya. perkenalkan ini Istriku, katakan pada yang lain jika Laura akan tinggal di sini mulai hari ini, layani semua kebutuhannya dengan baik." ucap El seperti perintah.
"Baik Tuan." jawab asisten rumah tangga tersebut.
"Mengapa kau tidak bilang jika akan menginap di sini?" protes Laura.
"Bukan menginap, tapi tinggal di sini." El mengajak Laura naik kelantai dua menuju kamar mereka, sedangkan Bibi bersama asisten rumah tangga El di lantai dasar.
"Ini kamarmu?" tanya Laura lagi.
__ADS_1
"Ya." El membuka gorden jendela, hingga tampak pemandangan yang menyejukkan di depan sana, tampak indah dengan taman buatan dan banyak hewan peliharaan juga di belakang sana.
"Kau suka kelinci?" tak habis pertanyaan Laura banyak sekali.
"Ya, dia lucu sekali." ucap El berdiri di samping Laura menatap halaman belakang sana.
Laura tersenyum senang dengan suasana kamar itu, tempat yang baru tapi sepertinya teramat nyaman berada di sana.
"Kau suka?" tanya El pada Laura.
Laura mengangguk. "Tapi_"
"Tidak ada tapi, Laura. Kita sudah menikah dan kau adalah istriku. Aku ingin kita menikmati waktu kita dengan baik, bukan dengan memikirkan masa lalu." El meraih bahu Laura menghadap dirinya.
"Jelas bagiku jika Dimitri bukanlah orang yang harus tetap aku pikirkan. Tapi aku tidak yakin jika kau dapat melupakan Aisyah." Laura memberanikan diri untuk membahas urusan pribadi mereka.
El tersenyum kecut, lalu menunduk menarik nafasnya. "Kita sama saja Laura, bedanya di sini, akulah penyebab masalahnya."
"Terkadang aku merasa jika aku tak layak bahagia." ungkap Laura dengan wajah sendu.
"Jika kita tak layak bahagia, bagaimana dengan anak kita? Apakah dia juga tidak akan bahagia? Jika kau tidak bahagia maka dia juga sama." ucap El memberikan keyakinan.
"Kau yakin kita akan tinggal bersama di sini?" Laura kembali melihat ke luar.
"Ya, rumahmu tidak aman sekarang." ungkap El membuka gorden yang lainnya.
"Tidak aman bagaimana?" Laura menertawai ucapan suaminya.
"Bisa saja mantan kekasihmu itu kambuh dan mengunjungimu."
Laura terkekeh geli mendengarnya. "Dia sehat." jawab Laura kemudian.
"Aku tahu, tapi mendadak tidak sehat karena hari ini. Ku rasa dia menyesal karena_" El menghentikan ucapannya menyadari sesuatu.
"Karena apa?" Laura mendekati El, menatapnya penasaran.
"Karena cemburu mungkin." El meninggalkan Laura keluar kamarnya.
Laura tampak berpikir, merasa ada yang sedang ditutupi El darinya. Tapi apa?
Laura mencoba berpikir positif, lagipula saat ini ia sedang tinggal di rumah pribadi Eliezer. Mana mungkin ia merahasiakan sesuatu jika saat ini saja El membawanya ke dalam kehidupan pribadinya.
'Atau ada hubungannya dengan Dimitri?' Laura kembali berpikir tentang pertemuan mereka tadi pagi. "Untuk apa Dimitri ada di negara ini?"
__ADS_1