Ketika Cinta Menyatukan Kita

Ketika Cinta Menyatukan Kita
Tamat


__ADS_3

Hari-hari berganti dengan begitu cepat, tanpa terasa usia kehamilan Laura sudah sembilan bulan.


Ia duduk di balkon kamarnya, di rumah El yang menjadi tempat ternyaman untuknya beberapa waktu ini. Ditambah lagi dengan sikap hangat El yang semakin hari semakin bertambah kepadanya.


"Sayang, bukankah perkiraan dokter hari ini adalah jadwal kelahiran anak kita?" El menatap wajah Laura sangat detail pagi itu.


Laura mengangguk, sambil mengelus perut besarnya yang semakin membuncit.


"Apakah ada yang sakit, atau terasa nyeri?" tanya El terlihat khawatir, juga penasaran dengan sikap istrinya yang hanya diam saja.


Lagi-lagi Laura menggeleng seraya menikmati wajah tampan El yang semakin memesona di setiap harinya.


El mengusap matanya menyadari jika Laura sedang menatapnya dengan kagum. "Istriku sedang memikirkan apa?" El mendekati wajah Laura dengan tatapan yang lembut dan mesra.


"Aku sedang menikmati menjadi istrimu. Pada akhirnya aku sangat bersyukur bisa bersamamu, dan adanya anak kita." Laura menunduk sambil memeluk perutnya yang besar.


"Tentu saja, begitu pula aku yang merasakan kebahagiaan berbeda semenjak pernikahan kita." El menyibak rambut Laura yang menghalangi keningnya. "Maafkan aku sempat menolak kehadiranmu. Saat itu aku tak pernah tahu akan sebahagia ini memilikimu dan dia." El menunjuk perut Laura, selalu menyebut anak mereka dengan 'dia'.


"Kau ini, bagaimana jika anak kita perempuan? Apakah sikapmu akan tetap seperti itu?" Laura memegang telunjuk El yang gemar sekali menunjuk perutnya seolah yakin bahwa anak mereka laki-laki.


"Entahlah, tapi aku yakin sekali jika dia adalah laki-laki. Kalaupun perempuan aku akan bersikap mesra sekali padanya." El terkekeh pada akhirnya.


Laura ikut tertawa namun sedikit lemas di pagi ini.


"Ayo kita ke rumah sakit." Ajak El meraih tangan Laura.


"Aku malas bergerak." jawabnya tak mau beranjak.


"Aku akan menggendong kalian berdua." El membungkuk akan mengangkat tubuh istrinya.


"Tidak El, aku begitu berat!"


"Kau bilang sedang malas bergerak, lalu bagaimana kita ke rumah sakit jika kau tak bergerak." El memeluk dan mengecup keningnya kali ini.


"Baiklah." Laura beranjak dengan tangannya masih memeluk tengkuk El dengan mesra. Juga El yang tak melepaskan istrinya yang tampak susah bergerak akhir-akhir ini.


El meraih tas milik Laura, sambil memeluk istrinya berjalan keluar.


"Non, ada Tuan Richard baru saja tiba." Bibi baru saja naik ke atas untuk mengambil perlengkapan Laura.


"Benarkah?" Laura tertawa senang.


"Aku yang menghubungi Papa." ucap El mengawasi langkah Laura di anak tangga.


"Ternyata kau sedekat itu dengan Papa." Laura semakin senang.

__ADS_1


"Tentu saja, ku rasa dia menyukai menantu yang tampan." ucap El bangga membuat keduanya terkekeh bersama.


"Apa kabar Sayang?" Richard baru saja masuk dan langsung menyambut Laura di depan anak tangga.


"Papa."


Laura menghambur ke dalam pelukan ayahnya, haru dan rindu menjadi satu semenjak hari pernikahan ia dan El Laura tak pernah bertemu lagi dengan Richard ayahnya.


Richard hanya tersenyum sedikit dengan wajah dinginnya tak berubah hangat meskipun sedang meluapkan rindu berat.


"Papa tidak pernah datang, apakah kau tidak merindukan aku?" Laura menatap wajah ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja Papa merindukanmu. Tapi ada suamimu sekarang, jadi Papa tidak khawatir." jawabnya sedikit bertambah kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kau terlalu cepat percaya pada orang asing." gerutu Laura masih memeluk lengan Richard.


Bibir tipis Richard tertarik sedikit menatap El yang berdiri di hadapannya. "Papa hanya merasa dekat." jawabnya datar.


El tersenyum manis, ada rasa bangga di dalam hatinya ketika mendengar ungkapan dekat dari ayah mertuanya yang seperti bongkahan es batu. Walaupun berbeda dari Adinata yang hangat, tapi sekalinya kenal dan dekat, Richard juga sangat baik. Dan yang paling membuat El bangga adalah kepercayaannya yang penuh, dapat di pastikan jika Richard adalah orang yang benar-benar serius dalam menilai orang.


"Kami akan ke rumah sakit, apakah Papa langsung ikut, atau ingin istirahat dulu?" tanya El kepada ayah mertuanya.


"Aku akan ikut, Papa meminta sopir mu." ucapnya kepada El.


"Baiklah, aku hanya khawatir Papa masih lelah." jawab El lagi.


"Ayo Sayang, mulai sekarang aku yang akan menggandeng mu." El terkekeh melihat Richard yang begitu cuek, dingin dan sedikit kaku.


"Beruntungnya aku menikah dengan Pria sepertimu, walaupun terkadang sedikit gila." ungkap Laura memeluk lengan El.


"Tentu saja aku menggila jika bersamamu." El menggoda istrinya.


Hari itu masih belum ada tanda akan melahirkan dari Laura, permintaan operasi sempat diajukan Richard ayahnya.


"Lebih baik di operasi saja, aku tidak sanggup melihat dan mendengar putriku menjerit kesakitan." ucapnya terlihat sangat khawatir dengan setengah ketakutan.


"Tidak Papa, lagi pula dokter mengatakan jika bayiku tidak terlalu besar." tolak Laura kepada ayahnya.


"Besar atau kecil tetap saja sakit!"


"Papa!" Laura tetap tak mau.


"Baiklah, Papa tunggu di luar. Aku yang akan menemani Laura." El menengahi keduanya.


"Tetap saja aku khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Richard masih tak bisa menerima keputusan Laura.

__ADS_1


"Papa! Aku sehat dan jangan berpikir yang tidak-tidak." kesal Laura kali ini.


"Baiklah." jawabnya menyerah walaupun hatinya masih tak tenang


Hingga malam kemudian. Laura sedikit meringis dengan memegangi punggung juga perutnya. "El." panggilnya tak mau melepaskan tangan suaminya.


"Aku disini, kau tak perlu khawatir. Aku mencintaimu." El mengecup pucuk kepala Laura.


Beberapa menit berlalu, dan kemudian jam berganti, terasa sangat lama bagi Richard yang ada di luar. Langkah kakinya tak terhitung lagi meskipun hanya berjalan putar balik berulang-ulang di depan ruangan bersalin putrinya.


"Ya Tuhan, tolong putriku." ucapnya dengan kedua tangannya saling menggenggam.


"Tuan sebaiknya Anda duduk." Sopir El menyarankan, tak hanya kasihan dengan kekhawatiran yang berlebihan itu, tapi kepala sang sopir merasa pusing melihat kelakuan bos besar tersebut.


"Tidak, putriku masih berjuang diantara hidup dan mati." jawabnya malah semakin mondar-mandir.


Tak lama kemudian pintu ruangan bersalin itu terbuka.


"Tuan, putri Anda sudah melahirkan." Dokter itu mempersilahkan Richard masuk.


Dengan terburu-buru ia masuk tapi tak juga bicara, di buat menganga ketika El sedang menggendong bayi di tangannya.


"Papa, ini putraku." ucap El mendekati ayah mertuanya.


"Benarkah?" Richard menatap bayi merah itu dengan tak percaya.


"Putrimu hebat sekali." ucap El lagi, kemudian keduanya berpelukan, tepatnya bertiga dengan bayi merah itu di antara mereka.


Richard beralih kepada Laura lalu memeluk putrinya.


"Cucuku?" Richard menoleh El.


"Laki-laki." jelas El lagi pada ayah mertuanya.


"Papa mendapatkan penerus yang hebat!" ucapnya senang.


"Dia putraku." ucap El tak mau mengalah.


"Kau bisa membuatnya lagi." jawabnya menjadikan suasana semakin bahagia. Tanpa sadar kebahagiaan itu merubah ayah Laura yang beku menjadi hangat.


"Aku lelah sekali." ucapnya tiba-tiba dan jatuh diantara banyak orang di ruangan itu, beruntung seorang suster sempat menahan tubuh Richard yang kelelahan karena khawatir dan berjalan mondar-mandir hingga satu jam di depan ruangan bersalin putrinya.


*


*

__ADS_1


*


...Tamat...


__ADS_2