
Dimitri.
Ketika Ribuan hari sudah terlewati bersama dirimu, ribuan impian dan kenangan yang sudah kita jalani bersama terukir indah di dalam ingatan. Dan itu menyakitkan setelah kini kau meninggalkanku.
Terkadang rasa sesak itu begitu menyiksa.
Terkadang pula sakit karena kau tinggalkan membuat hancur rasa yang ada.
Terkadang juga, aku kesulitan membuang rindu yang tak mau pergi dari hati yang terluka ini..
Ingin melawan tapi tak tau pada siapa meluapkan amarah.
Ingin membenci tapi rasanya percuma kecuali pada diri sendiri. Begitu bodohnya hingga Sepuluh tahun itu sia-sia.
Yang ku dapat hanya kenangan saja. ~~
"Papa akan datang." begitu ayahnya tak meminta Laura pulang.
"Terimakasih Papa." jawab Laura pelan, sedih dan juga merasa bersalah.
'Apakah ini jalan terbaik?'
Laura masih saja memikirkan hal seperti itu, terlebih lagi Aisyah. Bagaimana sekarang keadaan adiknya?
Kemarin masih berbicara dan bercanda dengan Aisyah, tapi kemudian terpisah karena seorang lelaki yang merusak segalanya, dan sekejap kemudian kehilangan Kayla.
Panggilan gadis kecil itu masih terdengar menyayat hati, hingga bagaimana mobil menghantam tubuh mungilnya.
"Maafkan Aunty." lirihnya meneteskan air mata.
Belum lagi suara tangisan Aisyah dan teriakan mengusir saat itu. Suara dan luapan kesedihan yang masih menghantui hingga saat ini.
"Aku memang salah." ucapnya sendiri.
Namun tak ada yang bisa dilakukan Laura, menolak El pun tak akan mengembalikan segalanya.
Meski terkadang benci itu menguasai, namun ketika melihat wajahnya malah tak sanggup untuk membenci lagi. Tak munafik, perut yang mulai berisi penuh itu butuh seorang lelaki yang mengakuinya nanti.
...ΩΩΩ...
Keesokan harinya, El datang lebih pagi ke kantornya. Rencana akan menemui ayah Laura membuat pria itu harus menyelesaikan semua pekerjaan pagi ini.
"Pak, ini beberapa berkas yang harus di tandatangani." asisten El meletakkan berkas tersebut di atas meja.
El langsung membuka dan membubuhkan tandatangan di atas kertas di dalamnya hingga selesai.
"Aku harus pergi." ucap El pada asistennya tersebut.
"Apakah ke rumah Nona Aisyah? Aku mendengar kabar jika kalian akan segera menikah." Asisten sekaligus sahabatnya itu berkata dengan santai.
__ADS_1
El menautkan alisnya. "Kata siapa? bahkan kami tak bertemu sudah satu bulan." jawab El tersenyum kecut.
"Tapi Diana mengatakan jika Nona Aisyah akan menikah besok." ucap asisten El lagi, wajah Tomy tampak serius juga heran.
"Tidak Tom, aku tidak sedang bercanda. Dia tidak mau bertemu denganku, dan aku harus menemui seseorang karena aku sudah membuat kesalahan dengan seorang wanita, seperti yang kau tahu." jelas El lagi, ia tampak berpikiran dengan info yang baru saja di dengarnya.
"Lalu dengan siapa dia menikah?" Tomy semakin berpikir.
Begitu juga El, dia menjadi gelisah karena hal tersebut. "Tanyakan pada Diana, dengan siapa dia menikah?"
"Baik Pak." jawab Tomy segera menghubungi kekasihnya yang merupakan sekretaris Adinata.
Bagaimana mungkin Aisyah menikah secepat itu setelah kehilangan Kayla. Rasanya itu sedikit mustahil walau mungkin saja Aisyah menerima seseorang yang menyukainya.
Wanita secantik Aisyah tentu tidak sulit untuk mendapatkan suami dalam waktu dekat. Selama ini El selalu khawatir tentang hal itu, selalu takut kehilangan Aisyah dan sekarang menjadi nyata.
Rasanya masih sakit!
Sekalipun Aisyah sudah memintanya melupakan tentang mereka dan mencari Laura, tentu rasa cinta tak bisa di hilangkan begitu saja. Masih ada Aisyah di dalam hatinya, masih begitu dalam namanya tersemat dan memenuhi di setiap tarikan nafasnya. "Dia terlalu cantik untuk di lupakan."
"Tunggu sebentar." asisten El meminta Tuannya menunggu.
"Apa Diana tidak mau memberi tahu?" tanya El penasaran melihat asistennya memandangi ponsel.
Tapi kemudian ponselnya berdering.
"Tuan Adinata melarang memberitahumu, aku tidak berani." jawab wanita yang sedang di hubunginya.
"Tapi aku butuh informasi itu." Tomy sedikit merengek dengan kekasihnya.
"Begini saja, kau datang saja ke rumah Nyonya Aisyah sekarang. Di sana semua orang sedang membantu menyiapkan pernikahan mereka besok."
"Apakah pria itu juga ada di sana?" tanya Tomy lagi.
"Ya, pukul delapan pagi ini calon suami nyonya Aisyah tiba di Indonesia." jelas Diana lagi.
"Tiba?" Tomy semakin terkejut, menatap wajah El yang juga mengerutkan keningnya.
"Calon suami Nyonya Aisyah berasal dari Australia."
"??"
El meraih kunci mobil dan segera meluncur menuju kediaman Aisyah.
Dengan berbagai macam pikiran yang menerka-nerka ia tak mungkin berdiam diri dan hanya mendengarkan.
"Tidak." gumamnya dengan nafasnya naik turun tak beraturan. Sesekali tangannya mengepal dengan sebelahnya tetap mengendalikan kemudi mobilnya.
"Jangan dia Ay." ucapnya bergumam dengan perasaan semakin tak karuan.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian ia sudah tiba di depan rumah Aisyah, mobil mewah miliknya masuk dengan begitu mudah karena memang sudah terbiasa berada di sana.
Dengan tak sabar ia keluar dari mobil itu, melangkah keluar dan,....
Dimitri!
Jantung yang sejak tadi memang terganggu kini semakin berpacu ketika melihat siapa laki-laki yang ada di teras rumah Aisyah, pria itu duduk di kursi teras dengan senyum mengembang berbicara dengan Aisyah.
Tangan yang sudah gemetar itu mengepal erat, teringat ketika pria itu membongkar kehamilan Laura di hadapan semua orang, kini malah dia yang berdiri di rumah itu, menggantikan posisi Eliezer.
El melangkah cepat dan meraih bahu Dimitri, tanpa aba-aba ia memukul wajah Dimitri berkali-kali.
"El hentikan!" teriak Aisyah yang sungguh terkejut.
Tak peduli Dimitri sudah terjatuh di lantai dan El terus saja memukulnya hingga merasa puas.
"El!" Aisyah semakin berteriak hingga sopir dan satpam rumah tersebut datang melerai mereka.
"Ada apa ini?" Adinata keluar dari rumah tersebut.
"Kemarin kau yang membongkar kebusukanku dan menghancurkan hubunganku dengan Aisyah, ternyata kau punya tujuan yang lain." geram El mencoba mengendalikan amarahnya sendiri.
"Tidak El kau salah paham." Aisyah menengahi keduanya.
"Salah paham apa Aisyah?" El menatap wajah Aisyah penuh amarah.
"El!"
"Dia sudah mencampakkan kakakmu karena dia mengandung anakku, bahkan hubungan yang sangat lama itu tak berarti baginya, sekarang kau akan menikahinya setelah semua itu terjadi?" El setengah membentak.
"Jaga sikapmu!" marah Adinata.
"Harusnya kau berpikir seribu kali, dia sangat tak layak untukmu."
"Lalu siapa yang layak untukku? Apakah pria yang sudah menghamili kakakku pantas ku jadikan suami? Coba tanyakan pada dirimu sendiri." desis Aisyah dengan mata yang sudah berembun.
"Aku tidak seburuk itu Aisyah."
"Kau merasa lebih baik setelah apa yang kau lakukan?"
"Dialah yang tidak sebaik itu Ay, aku tidak yakin dia akan memilihmu jika Kayla masih ada!"
"Jangan sebut nama Kayla!" teriak Aisyah menangis pilu, tak terbendung kesedihannya ketika mendengar nama putrinya di sebut.
"Aku hanya_"
"Pergi!" usir Aisyah semakin menangis, jari lentik yang sempat di genggam erat kini menunjuk ke luar meminta El menjauh.
"Pikirkan lagi Ay, menikahlah! Tapi jangan dia."
__ADS_1