
Pagi yang tak biasa, sungguh sebuah ikatan yang bernama pernikahan membuat Laura berpikir, jika pagi ini suaminya ada dimana. Mata yang baru saja terbuka itu mendadak segar tanpa sentuhan air, ia segera beranjak keluar dari kamarnya. Melihat sekeliling ruang keluarga tapi tak ada, mengintip kamar yang bersebelahan dengan kamarnya juga tak ada siapa-siapa.
"Dia tidak pulang." gumam Laura mengerucutkan bibirnya.
Namun kemudian ia berpikir lagi, pernikahan mereka memang hanya sebuah ikatan yang berdasarkan keharusan saja, tak ada kewajiban apalagi cinta.
Laura kembali masuk ke dalam kamarnya. Lemas dan malas masih setia menemani di setiap pagi, kehamilan yang lumayan membuatnya lelah namun tak bisa melakukan apa-apa selain menjalaninya.
Bagaimana wajahnya nanti? Laura tersenyum sendiri mengelus perut yang belum terlihat membesar itu. "Aku rasa dia akan sangat tampan, atau cantik." gumam Laura dengan senyum di wajahnya, dari samping terlihat manis sekali dengan gigi rapih dan wajah halus diterpa cahaya matahari dari jendela yang sudah di buka.
"Siapa yang membuka jendela?" tanya Laura bergumam melihat kiri kanan dan kebelakang.
"Aku."
El baru saja dari kamar mandi, sengaja berdiri di depan pintu menyaksikan ibu hamil yang suka berbicara sendiri.
"Mengapa kau ada di sini?" menatap El dengan penuh selidik.
"Aku baru saja berkeliling, melihat pintu kamarmu terbuka tapi kau tidak ada." jawabnya santai.
Tak mungkin mengatakan sejujurnya jika baru saja Laura mencari dirinya di luar. Lebih baik diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Aku akan bekerja hari ini, mungkin akan pulang agak sore." ucap El memperhatikan wajah Laura yang juga sedang memperhatikan dirinya.
Laura mengangguk polos, sedikit merasa kagum dengan sosok yang sangat dicintai adiknya. Tentu saja anaknya nanti tampan atau cantik, karena ayahnya sangat tampan sekali.
"Jangan melihatku seperti itu, nanti kau jatuh cinta." ucap El mendekati Laura.
Laura memalingkan wajahnya dan berusaha bersikap biasa-biasa saja. "Hanya aneh, bukankah saat itu kau tak sebaik ini." jawab Laura tak mau menatap El.
El terkekeh. "Aku tidak ingin anakku menjadi seseorang yang cengeng, terlebih lagi penakut dan rendah diri hanya karena aku sering membuatmu menangis dan bersedih."
__ADS_1
"Apakah seperti itu?" Laura menatap laki-laki di hadapannya dengan mata terbuka lebar.
"Harusnya kau yang lebih memahami hal itu, bukan aku." El melewati Laura menuju meja rias dan duduk di sana, menyisir rambutnya dengan jari dan merapikan kemejanya yang tampak kusut. Semua itu tak luput dari perhatian Laura.
"Apa sebaiknya kau mandi dulu?" tanya Laura merasa pria itu akan lebih baik jika setelah mandi.
"Tidak perlu, belum mandi saja aku sudah tampan." El beranjak melewati Laura, sedikit melirik wajah wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Laura mengikuti langkah El hingga diambang pintu keluar, menyaksikan bagaimana seorang suami masuk ke dalam mobil dan pergi bekerja.
"Andaikan saja yang menikah denganku adalah Dimitri." Laura menarik nafas berat.
"Tuan sudah pergi Non?" tanya Bibi melihat Laura berdiri memandangi mobil yang kian menjauh.
"Iya Bi, sepertinya dia terburu-buru." jawab Laura masih enggan beranjak, memandang halaman rumahnya yang tampak hijau dengan rumput yang tertata rapi.
"Baiknya disuruh sarapan dulu, kan tugas istri begitu." ucap Bibi melewati Laura menuju halaman, perempuan paruh baya tapi masih energik itu meraih sapu lalu mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan semalam.
"Kalau tidak mau ya tidak pulang! Kan Tuan juga punya rumah." Bibi menoleh Laura, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Benar apa yang di katakan Bibi, tapi tidak semudah itu memulai semuanya. El masih mencintai Aisyah, dan aku masih saja tak bisa berhenti memikirkan Dimitri.
Terkadang sangat penasaran dengan kabar Dimitri saat ini, apakah dia juga bersedih seperti Laura juga sangat bersedih?
Lagi-lagi Laura merasa sangat bersalah kepada Dimitri, pria yang dalam ingatannya tak pernah bersalah, apalagi mengecewakan barang sekalipun.
Kembali lagi pada kenyataan, saat ini Laura adalah istri orang lain, dan sedang mengandung anak orang lain.
"Jadi istri itu harus menyenangkan hati suami, apapun keadaannya. Baik susah ataupun senang, baik cinta ataupun tidak, suami tetap harus di layani. Setelah ijab kabul yang dilakukan bersama ayahnya Non Laura, sejak itu pula tanggung jawab dunia dan akhirat atas diri Non Laura berpindah pada suami yaitu Tuan El." Bibi menyambung nasehatnya, sambil merapikan pot-pot bunga kecil di samping Laura.
Laura memandangi Bibi, tentu wanita itu tahu apa yang sedang dipikirkan Laura setelah beberapa waktu mereka selalu bersama.
__ADS_1
"Jangan memikirkan orang yang sudah pergi, tapi sambutlah orang yang datang dengan setulus hati. Tidak menuntut juga memaksa, artinya dia orang yang ikhlas. Jadi untuk apa memikirkan orang yang tidak mau menerima?" ucapan yang mungkin menyadarkan Laura.
"Tapi El tidak mencintai aku Bi, kami hanya menikah demi anak ini saja." jawab Laura menunduk sedih.
"Ya justru karena anak itu, Non harus perjuangkan keutuhannya. Dia harus punya ayah dan ibu yang lengkap! Apakah setelah lahir kalian akan bercerai?" tanya Bibi menatap Laura.
Laura tercekat, sedikit ngeri dengan kata cerai. Dia telah melalui pahitnya kehidupan saat orangtuanya bercerai dalam usia yang masih kecil, rasanya sangat menyedihkan.
"Kalau begitu jangan sampai." ucap Bibi tersenyum meyakinkan Laura.
...ΩΩΩ...
"Silahkan masuk Pak El." seorang sekretaris wanita mempersilahkan Eliezer masuk ke ruang rapat di kantor Adinata.
Mau tak mau dia harus berhadapan dengan mantan calon mertuanya, juga mantan kekasihnya mungkin. Hubungan bisnis yang masih satu tahun lagi itu tak mungkin diputuskan begitu saja, mengingat ada banyak rekan yang lainnya ikut terlibat.
"Selamat pagi Pak El Bagaskara?" begitu seseorang menyapa El di pagi itu.
"Selamat pagi Pak." El mengangguk dengan senyum tipis.
"Selamat atas pernikahan Anda, sayang sekali di selenggarakan secara tertutup dan tidak mengundang kami semua." Pria itu tertawa melirik Adinata pula.
"Oh, itu karena ayah mertuaku sangat sibuk dan tidak punya waktu membuat acara besar-besaran." jawab El tertawa, kali ini melirik Aisyah. Wanita itu sengaja di bawa ke kantor mungkin sedang bersiap untuk menggantikan ayahnya.
Semua orang tampak bingung, saling melempar pandangan dengan beberapa orang di ruangan itu. "Aku menikah dengan orang lain." jelas El agar mereka tak lagi bertanya-tanya.
Suasana mendadak hening. Dapat di lihat Aisyah masih tak dapat mengendalikan pandangannya, melirik El yang tampak tak peduli.
'El sedang menyindirku, atau benar-benar sudah menikahi Kak Laura?'
Berkali-kali ia mencoba mencari tatapan Eliezer, tapi pria itu malah tak melirik sama sekali.
__ADS_1