
"Kalian?" Laura tak melanjutkan kata-katanya, menatap kedua orang di hadapannya dengan perasaan tak menentu.
"Ya, aku sudah menikah dengan Dimitri." ucap Aisyah kemudian, mata beningnya mulai berkaca-kaca. Sedangkan Dimitri masih terpaku menatap Laura yang hampir menangis.
"Seperti kalian juga sedang menjalani pernikahan dengan sebaik-baiknya, kamipun sama." ucap Aisyah lagi. Membuang pandangannya ke sembarang arah, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang.
Laura menelan paksa ludahnya, sadar jika Dimitri bukan siapa-siapa baginya, terlebih lagi sekarang mereka sudah sama-sama menikah.
"Kau benar sekali, akan lebih baik bagi kita fokus dengan kehidupan masing-masing. Tak perlu tahu kabar dari mantan apalagi berusaha berbicara dengannya. Itu jangan sampai terjadi." El berkata dengan menatap tajam Dimitri, tampak jelas jika mata dokter itu masih memperhatikan wajah Laura.
"Tentu saja, kau tak perlu khawatir." Aisyah tersenyum dengan terpaksa.
"Ya, dan jangan melihat wajah istri orang." ketus El menyindir suami Aisyah tersebut.
Aisyah menoleh Dimitri, lalu kemudian Laura yang terpaku dengan wajah pias.
"Kita pergi dari sini, tempat ini mendadak tak nyaman untuk kita." El meraih tangan Laura, melangkah keluar meninggalkan acara besar mereka.
"El." Laura menahan langkahnya di depan pintu mobil.
"Ada apa Laura?" tanya El pelan.
Laura kembali melihat ke dalam sana, masih ingin berbicara kepada Aisyah, tapi rasanya tidak mungkin. Posisi yang sama-sama terkejut itu membuat dia juga Aisyah kesulitan berbicara dari hati kehati.
"Nanti kau akan menemukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Aisyah." El merangkul bahu Laura, mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Apakah itu alasannya kau bersikap baik padaku?" tanya Laura menatap El suaminya.
El menyandar di belakang setir itu, menghembuskan nafas berat. "Ya. Kita harus melupakan masa lalu dan memulai hidup baru. Seperti kata ayahmu, masa lalu hanya merusak pikiran kita. Lebih baik lanjutkan hidup dan memikirkan kehidupan yang baik untuk anak kita." ucapnya lalu menghembuskan nafas lega.
"Kau sudah tahu sejak lama?" tanya Laura lagi.
"Sejak sebelum kita menikah. Dimitri datang dengan pesawat yang sama dengan ayahmu. Aku rasa Ayah tahu tentang pernikahan mereka." jelas El lagi.
Mata bening Laura mulai berkaca-kaca mendengar kata-kata El baru saja. Tak menyangka mereka memutuskan untuk menikah setelah hubungan yang tercipta diantara Dimitri dan Laura sebelumnya.
"Bisakah mulai sekarang kau hanya memikirkan aku?" pinta El meraih tangan Laura dan menggenggamnya.
"El." panggilnya dengan terisak sedih
"Ya."
__ADS_1
"Dimitri tidak semudah itu menerima kehadiran wanita, terkecuali jika dia menyukainya." ucapnya semakin terisak pilu.
"Aku tahu. Dan sebaiknya kita juga memulai hidup baru." meraih tubuh Laura masuk ke dalam pelukannya, menenangkannya.
"Kau memiliki banyak wanita." ucap Laura kemudian ketika tangisnya sedikit berkurang.
El terkekeh kali ini, melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah Laura. "Sudah lama aku tidak memiliki banyak wanita. Itu sebabnya aku ingin kau membalas perasanku, agar aku tidak khilaf dan mencari wanita di luar sana." El menunjuk jalanan di depan mereka.
"Aku hanya tidak yakin." jawab Laura pelan.
"Apa wajahku ini masih kurang tampan untuk membuatmu yakin?" El mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
"El." Laura mendorong dada suaminya, walau percuma El malah memeluknya.
"Sepertinya namaku itu indah sekali untuk kau sebut setiap waktu." El semakin menggodanya.
"Kau tahu jika sekarang aku sedang bersedih!"
"Sudahlah." El mengusap air mata Laura lalu melajukan mobil mereka.
Malam semakin larut, namun mata kedua orang itu masih saja tak mau tertutup. Seakan langit-langit kamar itu menjadi objek yang luas untuk ditelusuri malam ini.
"Tadinya aku menyalahkan kak Laura. Terlebih lagi ketika meninggalnya Kayla."
Dimitri masih mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Aisyah.
"Tapi kemudian kita menikah, dan mengapa sekarang jadi aku yang merasa bersalah." lanjut Aisyah lagi.
Dimitri memeluk Aisyah, membuat posisi mereka menyamping saling berhadapan. "Mungkin sudah takdirnya, mereka bersama lalu kita dipertemukan. Bukankah ini suatu kebetulan yang indah." ucap Dimitri tak mau membuat Aisyah semakin bersedih. Walaupun jauh di dalam hatinya ia juga merasakan kesalahan yang sama.
Aisyah menatap manik mata suaminya sehingga beradu, jelas terlihat jika Dimitri juga menyayanginya, tapi untuk cinta? Aisyah masih belum yakin bisa menyaingi Laura.
Ada sesal yang tiba-tiba datang setelah pertemuan malam ini, harusnya mereka tak secepat itu memutuskan untuk menikah. Tapi ketika itu rasanya waktu teramat lambat sehingga menikah hari esok begitu lama.
"Biarlah waktu membawa kita pada kebahagiaan yang kini sedang kita usahakan untuk mencapainya. Setidaknya sedikit harapan masih ada, daripada tidak mencoba sama sekali." Dimitri mengusap kepala Aisyah dan memeluknya erat. "Tidurlah, aku mencintaimu Aisyah."
Bibir merah Aisyah tertarik sedikit, akhir-akhir ini Dimitri sering mengucapkannya, menghibur hati yang sudah terlalu sering terluka.
*
*
__ADS_1
*
Matahari mulai beranjak dengan wajah cerah menebar semangat. Tak ada suara mengganggu selain detik jam yang mulai samar, kalah dengan riuh bahasa para asisten rumah tangga El yang terlalu heboh di pagi itu.
Terasa berat mata indahnya, enggan terbuka juga enggan bergerak tubuhnya yang mulai berisi, Laura menarik lengannya yang mendadak berat.
'Mengapa rasanya berat sekali?' Laura bergumam sambil berusaha beralih posisi.
Mata indahnya terbuka, dan semakin lebar ketika melihat siapa yang sedang mengunci tubuhnya.
"El." ucapnya pelan.
Tampak pria tampan itu masih terlelap dengan dengkuran halus terdengar.
Laura memperhatikan setiap inci wajah tampan itu hingga tersenyum dan semakin menikmati pemandangan bak pegunungan yang hijau, menyejukkan dan menenteramkan mata memandang.
"Aku lebih tampan dari mantan pacarmu bukan?" tiba-tiba pria yang sedang tidur itu berbicara.
Laura tak mungkin menghindar jika sudah begini, bahkan bergerak saja dia tidak mampu.
"Kau pura-pura tidur." gerutu Laura hanya bisa menarik nafas pasrah.
"Tidurku sangat nyenyak malam ini." ucapnya lagi mulai bergerak dan membuka mata.
"Tentu saja nyenyak, kau membuat aku menjadi guling mu." kesal Laura tak juga dilepaskan Eliezer.
"Ah, kau benar sekali. Kau sangat halus dan empuk." El terkekeh dengan mata yang masih saja ingin terpejam.
"Kau berat." ucap Laura lagi mengangkat tangan El lalu memindahkannya.
"Tidak, buktinya kau sanggup hingga dia tinggal di dalam sana." El menyentuh perut Laura.
"Itu_, kau memaksaku!"
"A hahahaha." El tertawa lepas pagi itu, ia gemas sekali mendengar jawaban dari Laura.
"Baiklah, sekarang aku tidak akan memaksamu, melainkan kau harus ikhlas melakukannya." El meraih tubuh Laura lagi, semakin terbenam ke dalam pelukannya.
"Kau mau apa?" Laura sedikit gugup dengan tatapan dan pergerakan El yang mengunci.
"Mau memeluk istriku, juga anakku." ucapnya terkekeh senang, menggoda istrinya.
__ADS_1