
Langit yang gelap mendekap hati yang masih lara karena ditinggalkan olehnya.
Berbuat tanpa perasaan, begitulah hati yang sesak itu masih tak terima dengan kenyataan.
Tak rela rasanya kehilangan kebahagiaan itu dalam waktu sekejap saja. Kayla, El, dan Laura, mereka semua adalah orang yang sama pentingnya. Namun entahlah mengapa takdir begitu kejam sehingga kini tinggallah Aisyah sendirian.
Menikah dengan pikiran yang bercampur aduk, marah, benci, dan ingin membalas.
Ternyata, setelah semua terwujud malah tak mengurangi rasa yang menyiksa itu. Sedih itu tak berkurang, malah semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu yang sedikit di paksakan bersama Dimitri. Kehilangan itu masih saja menyiksa walau sudah berusaha membuka hati untuk yang lainnya. Malah semakin kesepian ketika mengingat masa-masa bahagia dulu bersama mereka. Dan Amarah itu tak juga padam dengan kekecewaan yang terlanjur terjadi, mengapa harus Laura yang menjadi wanita pendamping Eliezer, mengapa harus El yang menjadi kakak iparnya, mengapa tidak orang lain saja, bukankah begitu banyak laki-laki dan wanita di dunia ini selain mereka berdua? Sungguh Aisyah masih belum bisa percaya dengan takdir yang seakan sedang bercanda.
"Ay."
Suara Dimitri membuyarkan lamunan Aisyah yang sedang mengadu dengan langit yang tinggi.
"Ya Kak Dimitri." jawabnya berbalik dan segera mendekati pria yang tampak segar karena baru saja selesai mandi.
Dimitri tertawa namun tak bersuara, masih terasa janggal ketika mendengar sebutan Kak Dimitri dari bibir mungil Aisyah.
"Mengapa tertawa?" Aisyah mengerucutkan bibirnya, tak ingin ditertawakan oleh suaminya.
Dimitri meraih Aisyah dalam pelukannya. Ya, dia bukanlah laki-laki yang kaku atau tak mengerti cara memanjakan seorang wanita, bahkan Laura sangat menikmati waktu bersama dengannya, ia selalu manja dan nyaman dengan perlakuan hangat Dimitri.
"Aku bukan Kakak iparmu Sayang." ucapnya pelan, memeluk Aisyah di dadanya.
Sedikit tertarik bibir tipisnya, menyukai perlakuan Dimitri yang hangat dan.... Tentu saja dia sedang berusaha menjadi suami yang baik, seperti halnya Aisyah yang selalu ingin menjadi istri terbaik untuk Dimitri.
"Aku harus memanggilmu seperti apa?"
Aisyah membalas pelukan Dimitri, mengulurkan tangannya hingga melingkar di pinggang pemuda jangkung tersebut.
"Apa saja, asal jangan memanggilku Kakak. Aku tidak mau mengingat yang sudah berlalu." jawab Dimitri sedikit membungkuk agar sejajar dengan Aisyah.
"Mengapa kau bersedia menikah denganku?" tanya Aisyah masih menikmati aroma maskulin yang mendadak membekap hidungnya, memberi rasa nyaman pada wanita itu.
__ADS_1
"Karena aku menyukaimu." jawab Dimitri singkat. Namun mengundang pertanyaan dari Aisyah.
Menautkan alisnya, Aisyah merasa Dimitri sedang merayu. "Apakah kau sedang membalas Kakak ku?" tanya Aisyah melonggarkan pelukannya, menatap Dimitri.
Dimitri tersenyum tipis, namun damai terlihat dimata Aisyah.
"Sudahlah Ay, tak ada gunanya membahas masa lalu. Aku tahu jika El juga masih ada di hatimu, begitu pula Laura masih ada di hatiku. Aku sedang berusaha melupakannya, walaupun sulit dan ku yakin pasti bisa, jika kita saling membantu." Dimitri membuka kerudung Aisyah yang masih saja menutupi kepalanya. "Maka dari itu, jangan menolak ku, aku ingin mencintai satu wanita saja yaitu istriku. Bukan orang lain atau siapapun yang tak halal bagi kita berdua."
Aisyah merasa Dimitri sedang membicarakan El juga, bukan hanya Laura. Benar jika El tak harus selalu mengisi hatinya, sudah ada Dimitri yang harus dicintai.
"Aku mengerti." jawab Aisyah menatap sendu tapi terharu, membiarkan Dimitri membelai rambutnya, menikmati kecantikannya hingga mengecup keningnya begitu lembut dan lama.
Awan sedang memecah rembulan di atas sana, seolah menutup mata ketika menyaksikan dua insan yang sedang memulai membuka hati.
Berbeda dengan malam di rumah lainnya.
Laura sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu dengan remote masih ada di tangannya. Bibirnya mengerucut dengan rambutnya menutup di sebagian kening halusnya.
El yang baru saja selesai makan malam melewati ruangan itu dan melihat istrinya tidur dengan posisi menekuk, menyandar di sofa empuk itu.
Tentu saja dia tak mendengar, bahkan semakin nyenyak mendengarkan suara berat Eliezer.
"Di pindahkan saja Tuan." Bibi yang sejak tadi mengamati Laura tidak tahan untuk tidak bersuara.
El mengusap wajahnya, merasa canggung jika harus mengangkat Laura.
Pria jangkung itu membenarkan posisi Laura, kemudian pergi ke kamarnya mengambil selimut.
"Tidur di sofa." El terlihat sedang berpikir. "Akan sangat berbahaya jika sampai jatuh, dia sedang mengandung anakku."
El mengacak-acak rambutnya, berbalik menuju ruang tengah dan memandangi wajah ibu hamil itu terlihat tenang.
Dengan terpaksa ia mengangkat tubuh Laura ke kamarnya.
__ADS_1
"Berat sekali." gumamnya setelah membaringkan Laura di ranjang miliknya, menyelimutinya hingga setengah dada.
Perut yang belum membuncit itu menyita perhatian Eliezer.
Sejak beberapa hari ini ia ingin sekali merasakannya kehidupan di dalam sana.
"Apakah dia sudah bergerak?" gumam El masih memandangi bagain tengah tubuh yang tertidur itu.
Tangannya terulur, pelan mengusap perut Laura. Bibir tipisnya tertarik merasakan perut Laura yang ternyata sudah penuh dan sedikit keras, tidak lembut seperti perut wanita pada umumnya.
El menggeleng mengingat kelakuannya sebelum ini, meraba perut wanita bukanlah hal yang asing baginya, tapi sangat sering ia melakukan yang lebih dari itu.
"Mengapa harus gugup dan takut, dia istriku! Dan anakku." El terkekeh sendiri. Pria itu berjalan menuju pintu dan menutupnya dari dalam.
Tidur di samping anak dan istri akan membuat dirinya senang malam ini. El tersenyum tipis memandangi wajah cantik Laura, membayangkan bagaimana nanti anaknya lahir dari rahim wanita malang itu.
El tak mau ambil pusing, tidur nyenyak bersama istri dan calon anaknya adalah keputusan yang baik.
...ΩΩΩ...
Satu bulan kemudian, hubungan El dan Laura masih saja jalan ditempat, tak ada kemajuan kecuali sekedar berbicara dan lebih terbuka. Keduanya seperti teman yang mulai berbagi, bukan seperti suami istri yang saling mencintai.
"Aku mau periksa nanti." ungkap Laura di pagi itu.
"Aku akan mengantarmu, lagi pula hari ini aku tidak sibuk." El melihat jam di tangannya lalau menatap wajah Laura.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." tolaknya pelan, sesekali Laura masih menjaga jarak atau mungkin merasa sungkan.
El membiarkan Laura pergi bersama Bibi seperti biasa, naik taksi menuju klinik yang tak jauh dari rumah mereka.
"Bibi tunggu di sini saja ya?" pinta Laura diruang tunggu, sedangkan ia melangkah menuju ruang periksa.
Laura membuka pintu itu seperti biasa karena terdengar ramai di dalam, sepertinya ada yang sedang mengobrol atau mungkin sudah selesai periksa, dokter di klinik itu memang ramah dan suka bercanda ketika pasien sudah selesai periksa.
__ADS_1
Namun betapa terkejut ketika melihat sosok berjas putih di dalam sana, seorang pria yang amat di kenal Laura.
"Dimitri!" ucapnya pelan namun tercekat kering kerongkongannya.