
Iskhandar merasakan sakit di tubuhnya, wajahnya babak belur karena dihantam bogeman mentah dari mertuanya. Ia tengah mengompres lukanya dengan air dingin, berharap luka itu lekas sembuh. Ditambah lagi ia harus mencari pekerjaan baru. Mandor baru itu sudah memecatnya soal kesalahan kemarin.
Malam pun tiba.
Iskhandar kembali menghuni kamar istrinya, sejak kepergian Aluna membuatnya tersadar bahwa ternyata ia tak bisa hidup tanpa gadis itu. Selama keberadaan Aluna membuatnya terbiasa dilayani, tanpa ia bersyukur akan kehadiran bidadari dalam hidupnya. Ia merebahkan tubuh di lantai beralaskan tikar sambil memandang foto pernikahan mereka.
Tanpa terasa sudut matanya basah, ia membayangkan betapa tersiksanya istrinya itu. Pasti sulit hidup dalam keadaan tak mengingat apa pun, bagai hidup bersama orang asing tentu tidak akan nyaman. Perlahan matanya pun terpejam larut dalam lamunan.
***
Iskhandar terbangun, hari sudah menampakan cahaya. Meski tubuhnya terasa sakit ia harus tetap beraktivitas. Perutnya sudah keroncongan. Lalu membuka jendela dan menghirup udara segar di sana sambil memejamkan mata. Saat membuka mata ia melihat sosok istrinya berdiri, ia mengira itu halusinasi. Ia menggelengkan kepala menepis bayangan itu hadir.
"Itu hanya bayangan, bukan nyata," ucapnya. Ia tak menghiraukan itu, mungkin dalam isi kepalanya selalu ada istrinya makanya apa pun yang di pandang pasti ada wujud Aluna. Ia membalikkan tubuh lalu mendengar suara.
"Suamiku." Kata itu terdengar jelas di telinga.
"Bukan, itu halusinasi. Aluna tidak mengingatku, istriku sudah lupa siapa aku," ucapnya bergetar. Cepat-cepat ia pergi ke dapur, mengambil minum dan sudah menuangkan air itu ke dalam gelas.
"Suamiku." Suara kali ini nampak terdengar jelas.
Iskhandar hendak minum, bahkan air minum itu belum tersentuh oleh bibir. Hanya gelas itu yang sudah menempel di bibir. Ia menajamkan pendengaran, panggilan itu tak lagi terdengar. Ya, ia yakin itu tidak nyata. Ia melajutkan aktivitas, meminum air itu hingga tandas.
Saat membalikkan tubuh, ia kembali dikejutkan. Wujud istrinya kembali hadir. Sosok itu terasa nyata, ia mengucek kedua mata untuk meyakinkan penglihatannya. Saat tangannya sibuk, tiba-tiba ada yang menghentikannya. Iskhandar pun menghentikan tangannya yang terus bergerak.
__ADS_1
Tangannya merasa digenggam, Iskhandar membuka mata. Antara percaya atau tidak, istrinya kembali. Aluna datang menemuinya. Iskhandar menangkup wajah istrinya.
"Apa aku mimpi? Benarkah istriku datang?" ucap Iskhandar sambil menangis.
Aluna mengangguk, lalu tibalah sosok Bella. Gadis itulah yang membawanya kemari. Bella tidak tega dengan keinginan kakaknya, Aluna terus mendesaknya untuk mempertemukan mereka. Di balik keangkuhan Bella, ada belas kasihan kepada kakak iparnya itu. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan, meski tak dapat dipungkiri ia benci sikap kasar pria itu.
"Apa kamu mengingatku?" tanya Iskhandar, lalu pandangannya ia alihkan kepada Bella setelahnya kembali pada Aluna.
"Ya, aku ingat. Tapi tidak sepenuhnya, aku ingat pernikahan kita," jawab Aluna.
Iskhandar tersenyum lalu bersujud dan bersimpuh di kaki istrinya. Pria itu menangis, sedih, bahagia bercampur aduk. "Maafkan aku, aku sudah bersalah," kata Iskhandar. Lalu kembali berdiri dan langsung memeluk istrinya.
"Kamu jangan senang dulu, ayahku masih membencimu. Sebetulnya aku terpaksa membawa Kakak-ku kemari," ucap Bella dengan nada ketus.
"Bella ...," protes Aluna.
"Bolehkah aku di sini sebentar?" tanya Aluna, ia melihat sudut bibir suaminya yang luka, ditambah lagi wajahnya yang babak belur. Bella nampak berpikir dan menimbang-nimbang antara mengizinkannya atau tidak. "Ya, baiklah. Aku akan menjemputmu nanti," sambung Bella, tak bisa melihat wajah sedih kakaknya ia memberikan izin untuk mereka berdua.
***
Aluna tengah mengobati luka suaminya, sambil menatap wajah itu. Baru kali ini ia dapat menyentuh wajah suaminya secara langsung. Iskhandar tak pernah mengizinkan istrinya menyentuhnya.
Aluna lupa bahwa dirinya sedang hamil, sehingga kabar berita itu tak dapat diceritakan kepada suaminya. Lama mereka berada dalam posisi itu. Iskhandar pun tak melepaskan pandangannya yang sedari tadi memandang istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Iskhandar tiba-tiba.
Aluna menghentikan aktivitasnya, meletakkan handuk ke dalam wadah.
"Apa kamu tidak marah padaku? Sikapku yang selama ini sudah buruk padamu?" tanya Iskhandar.
"Kamu suamiku, mana mungkin aku marah padamu," jawab Aluna.
"Aku senang kamu dapat mengingatku kembali."
Entah apa saja yang mereka bicarakan, Aluna merasa senang saat itu. Dan mereka akan meyakinkan orang tuannya. Iskhandar akan meminta izin untuk membawa istrinya kembali. Tak lama, Bella pun datang menjemput. Ia mengajak kakaknya pulang, tapi Aluna minta suaminya untuk ikut. Ia akan bantu suaminya bicara kepada sang ayah. Tak ada pilihan, Bella pun akhirnya mengajak Iskhandar.
Mereka semua sudah sampai di kediaman Mohan. Kala itu Mohan sudah pulang dari tempat kerjanya, lalu menyambut kepulangan Aluna karena ia tahu Aluna pergi bersama Bella. Setelah kedua putrinya turun dari mobil, nampaklah sosok Iskhandar. Mohan terkejut mendapati menantunya ada di rumahnya. Lalu melihat ke arah Bella seolah meminta penjelasan.
Bella menjelaskan bahwa kakaknya telah mengingat suaminya. Tapi Mohan tak mengizinkan Iskhandar membawa Aluna ke rumah kumuh itu.
"Tidak! Pokoknya Ayah tidak mengizinkan, pria itu sudah mengusirmu dan menelantarkanmu," kata Mohan.
"Bukankah saya tidak bisa meninggalkan Aluna?" Iskhandar ingat betul ucapan Mohan saat dulu, ia tak bisa menceraikan anaknya terkecuali Aluna sendiri yang meminta untuk berpisah.
"Kamu melakukan ini karena tau kondisi putriku 'kan? Kamu kasihan padanya karena Aluna sakit? Anak-ku tidak butuh belas kasihan, kamu tau penyakit apa yang diderita putriku? Masa depanmu masih cerah, carilah kebahagiaanmu," tutur Mohan.
"Ayah ... Tapi dia kebahagiaanku, tidak inginkah Ayah melihatku bahagia?" tanya Aluna.
__ADS_1
"Perlu kamu tau, lambat laun anakku pasti meninggalkanmu. Maka, lebih baik dari sekarang kamu terima kepahitan itu," jelasnya pada Iskhandar.
"Aku tetap akan bersama dengan istriku apa pun yang terjadi," jawab Iskhandar. Perdebatan itu terus berlangsung hingga akhirnya Aluna kembali jatuh pingsan.