
Iskhandar meninggalkan motor bututnya di rumah sakit, ia membawa Aluna menggunakan taxi. Pelukannya sama sekali tak terlepas dari tubuh berbadan dua itu. Tangannya terus menggenggam tangan sang istri, sesekali ia mengecupnya. Air matanya terus mengalir, betapa rindunya ia dengan sosok wanita yang selalu ceria bila di hadapannya. Aluna tak memperlihatkan kesedihan bila ia sering membentaknya saat dulu.
Cinta sang istri begitu besar hingga cinta itu kini terbalaskan. Aluna menyentuh wajah suaminya, dan Iakhandar menangkap lengannya. Lagi-lagi ia mengecupnya bahkan sampai bertubi-tubi. Kebahagiaan tak selalu memandang materi, Aluna tulus hidup susah bersama suaminya. Tanpa minta bantuan orang tuanya, Aluna mau selalu bersama Iskhandar sampai maut yang memisahkan.
Mobil yang ditumpanginya sampai di tempat kumuh tempat tinggal Iskhandar. Pria itu turun setelah membayar taxi, membopong tubuh istrinya dan langsung membawanya ke rumah yang terletak di rumah susun lantai dua. Kehadirannya menjadi pusat perhatian, istri dari seorang Iskhandar telah kembali. Namun, dengan kondisinya yang memprihatinkan membuat penghuni rumah susun itu bertanya-tanya, 'ada apa dengan gadis yang selalu ceria itu?' Para tetangga berbisik dan pandangannya terus terarah kepada Iskhandar yang tengah menaiki anak tangga.
Tiba di rumah, Syerly menyambut kedatangan sang kakak. Ia telah mendengar cerita dari Ahsam dan Hana. Syerly menyambut dengan senyuman, ia kasihan kepada kakaknya itu. Hidupnya sangat diuji, belum lagi harus merawatnya yang sakit jiwa.
Aluna direbahkan di tempat tidur dengan sangat hati-hati, dan Syerly membantu membetulkan bantal untuk penyangga kepala kakak iparnya. Tatapan Aluna tak terlepas, ia terus menatap wajah suaminya. Ia ingat bahwa pria itu suaminya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya mengeluarkan cairan.
Iskhandar duduk di tepi ranjang, meraih tangan istrinya dan kembali menciuminya. Kerinduan mereka tercurah dibanjiri dengan air mata bahagia. Iskhandar tak ingin lagi kehilangan istrinya, lalu ia mengusap perut buncit itu. Entah berapa bulan kandungannya, ia sendiri tidak tahu pasti.
__ADS_1
Iskhandar melihat keberadaan Hana dan Ahsam di sana, ia minta tolong untuk dibawakan orang yang biasa menangani orang hamil, bukan bidan atau pun dokter. Mungkin lebih tepatnya paraji. Paraji orang kepercayaan di sana yang biasa menangani orang hamil, hidup dilingkungan seperti itu, jasa paraji sangat dibutuhkan.
Hana segera pergi, wanita itu menceritakan kondisi Aluna sehingga paraji membawa obat-obatan herbal hasil racikannya sendiri. Paraji itu tiba di rumah Iskhandar. Aluna yang kebingungan hanya diam saja saat wanita paruh baya itu mengurut perutnya.
"Sepertinya usia kandungannya sudah mendekati kelahiran, ini tidak akan lama lagi," ujar paraji. Wanita itu mengeluarkan ramuan dari dalam tasnya, entah obat apa saja itu? Iskhandar sendiri tidak tahu pungsinya, ia hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Nanti, kalau terjadi kontraksi bisa panggil Emak saja ya," ucap paraji yang bernama Jumin, wanita tua itu kerap dipanggil mak Jumin oleh warga sekitar. "Ini diminum tiga kali sehari, ini hanya ramuan dan obat herbal, aman untuk orang hamil," terang mak Jumin.
"Mak sudah dengar penyakit istrimu, semoga dengan ramuan ini istrimu sembuh setidaknya dia ingat jalan pulang," jawab mak Jumin.
Orang-orang dulu memang begitu percaya obat herbal, jika medis tidak bisa menyembuhkan maka orang-orang jaman dulu perlu mencoba obat-obatan yang diracik sendiri.
__ADS_1
"Aku ingat, dia suamiku dan itu ...," ucap Aluna menggantung.
"Aku Hana," sahutnya.
"Aku Syerly," timpalnya.
"Aku Ahsam." Semua mengenalkan diri kepada Aluna, sehingga calon ibu itu tersenyum tipis.
Iskhandar pun tersenyum melihat wajah istrinya berseri, ia akan merawat sampai istrinya sembuh. Ia juga menantikan kelahiran bayi mereka.
"Terima kasih kalian sudah membantu," tutur Iskhandar.
__ADS_1
"Kita 'kan keluarga," timpal Ahsam.