Ketulusan Cinta Aluna

Ketulusan Cinta Aluna
Bab 22


__ADS_3

Semua panik melihat Aluna tergeletak di lantai. Iskhandar langsung meraih tubuhnya dan membawanya ke sofa. Bella memberikan minyak angin kepada kakak iparnya. Iskhandar membantu Aluna tersadar dengan mendekatkan minyak angin di hidung.


Mohan hendak mendekat, tapi sang istri mencegahnya sambil menggelengkan kepala dan tangannya mencekal lengan suaminya. Memberi isyarat untuk membiarkan pria itu melakukan apa pun yang diinginkannya. Ia yakin kalau menantunya tak mungkin lagi menyakiti putrinya lagi, ia melihat kekhawatiran di mata Iskhandar.


Perlahan, Aluna membuka mata. Pertama yang dilihatnya adalah suaminya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Iskhandar, meraih tangan istrinya lalu menciumnya. Aluna menarik tangan karena wajah Iskhandar nampak asing.


"Aku Iskhandar, suamimu," ucap Iskhandar lagi. Untuk membuktikan ucapannya ia memperlihatkan kalung yang dipakai istrinya. "Lihat, kita sudah menikah. Kamu istriku dan aku suamimu," jelasnya.


Aluna melihat foto itu, dan ia langsung menghamburkan tubuh di pelukkan suaminya. Bella dan kedua orang tuanya tertegun melihat adegan itu, ibu Aluna menangis kenapa ini semua terjadi pada anaknya? Lalu ia menyeret tangan suaminya.


***


"Biarkan mereka hidup bersama, rasanya hatiku sakit kalau melihat putriku kesulitan mengingat semuanya, mungkin jika mereka hidup bersama bisa buat Luna bahagia bisa membantu ingatannya," jelas istri Mohan.


Pria paruh baya itu pun terdiam, lalu pasrah. Ia merelakan putrinya hidup bersama suaminya. Meski sebenarnya ia berat melepas putrinya, ia ingin selalu bersama anaknya. Tapi Aluna sudah menikah, rasa tanggung jawabnya sudah terganti oleh Iskhandar.


Karena sudah sepakat akhirnya mereka pun kembali menemui Aluna juga suaminya.


"Apa kamu bisa menjaga putriku? Aku tidak ingin kejadian lalu terulang," ucap Mohan.


Iskhandar beranjak, lalu menghampiri mertuanya. Ia membungkukkan tubuh, meyakinkan bahwa ia akan menjaga istrinya dan menyayanginya.


Setelah mendapat izin, kini Iskhandar membawa Aluna kembali ke rumah gubuknya. Meski rumah itu jelek tapi banyak kenangan manis di sana. Dulu, ia hidup berdua dengan adiknya. Ditelantarkan ibunya karena ibunya lebih memilih pergi bersama kekasihnya. Dan kini ia tidak tahu di mana ibunya.


Iskhandar membawa barang-barang istrinya dari ruangan sempit itu, dan memindahkannya ke kamarnya. Saat Iskhandar sibuk, Hana dan Ahsam pun datang untuk menjenguk Aluna yang katanya sakit. Mereka tidak tahu akan penyakit istri temannya itu. Saat tiba, Hana memanggil.


"Aluna," ucap Hana. Aluna menoleh tanpa ekspresi. "Aku senang kamu sudah kembali." Hana memeluknya, dan tak lama melepas pelukannya.


Aluna terlihat kebingungan, tapi Iskhandar langsung mengingatkan. "Dia Hana, tetangga kita. Dan dia Ahsam suaminya," jelasnya.

__ADS_1


Aluna hanya tersenyum kikuk.


Akhirnya mereka berbincang bersama sambil meminum teh. Aluna hanya menyimak saja tanpa menimpali percakapan mereka. Iskhandar terus menggenggam tangan Aluna, dan itu membuat istrinya menghangat.


Karena sudah cukup gelap, Ahsam dan istrinya pamit. Kini menyisakan Iskhandar dan istrinya. Iskhandar mengajak Aluna pergi ke kamar untuk istirahat. Istrinya terlihat malu-malu seperti pengantin baru. Saat Aluna mendudukkan tubuhnya di ranjang, tiba-tiba ia mual dan kepalanya pusing.


Iskhandar khawatir, ia takut itu bersangkutan dengan penyakitnya. Lalu Aluna menyentuh perutnya, ia baru ingat kalau dirinya tengah hamil. Iskhandar kelimpungan mencari minyak angin, ia akan memijat bagian pundak istrinya. Tanpa sadar kalau istrinya terus menyentuh perut.


"Apa perutmu sakit?" tanya Iskhandar. "Perlu kita ke dokter?" sambungnya lagi.


"Aku tidak apa-apa, bukannya ini hal wajar jika disaat hamil," jelasnya.


"Ha-hamil?"


Aluna mengangguk.


"Serius?!" Iskhandar belum begitu percaya, pasalnya ia baru sekali melakukannya.


"Apa kamu tidak mau mengakuinya? Apa kamu ragu?" tanya Aluna.


"Sekarang tidur ya, besok aku mau mengajakmu," kata Iskhandar.


"Kemana?"


"Besok juga tau, sekarang tidur."


Aluna merebahkan tubuh di ranjang, dan Iskhandar pun ikut berbaring. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan mereka terlelap bersama.


***


Keesokan paginya.

__ADS_1


Pagi-pagi, Iskhandar sudah berkutat di dapur. Ia menyiapkan sarapan pagi itu, ia membiarkan istrinya masih tertidur. Saat ia sedang memasak, Aluna pun tiba. Ia tersenyum melihat suaminya, tapi tidak dengan suaminya. Ia melihat baju Aluna yang basah, ia tahu cairan apa itu. Tanpa berucap, Iskhandar mengajak istrinya ke kamar mandi, membersihkan tubuh istrinya di sana.


Tidak bisa dipungkiri kalau penyakit yang diderita istrinya masih menggerogoti sel otak, bagaikan anak kecil yang suka mengompol dan itulah yang dialami oleh Aluna. Iskhandar menangis saat membersihkan bagian paha, Aluna kembali linglung.


Sesak di dada tak bisa di tahan, Iskhandar menangis dalam diam. Sesekali ia menyeka air matanya. Dan tak lama ia selesai membersihkan istrinya. Membalut tubuhnya dengan handuk, dan tiba-tiba, Aluna sadar.


"Maafkan aku," ucap Aluna.


"Tidak apa-apa, aku ikhlas melakukannya. Kamu pasti sudah kedinginan, pakai baju ya?" ajak suaminya. Bagaikan anak kecil dituntun orang tuanya, Aluna mengekor dari belakang.


Iskhandar juga memakaikan popok dewasa kepada istrinya, meski Aluna sempat menolak tapi akhirnya mau memakainya. Ia ingat bahwa ia akan diajak oleh suaminya. Tapi sebelum pergi Aluna minum obat terlebih dulu. Setelah rutin minum obat, walau tak sepenuhnya ingat ia bisa ingat kepada suaminya.


Aluna diajak ke rumah sakit. Iskhandar mengenalkan kepada adiknya yang bernama Syerly.


"Dia," ucap Aluna.


"Kamu ingat?" tanya Iskhandar.


"Kamu mengajakku kemari untuk mengenalkanku pada kekasihmu?"


"Tidak, kamu salah paham. Dengarkan aku, dia Syerly dia itu adik-ku," jelas suaminya.


"Tapi kenapa ada di sini?"


"Dia lagi sakit." Iskhandar pun akhirnya menjelaskan tentang Syerly dan kenapa sampai berada di rumah sakit jiwa. Keadaan Syerly masih tetap sama, belum ada perubahan pasca kejadian kemarin.


Setelah mengenalkan Syerly, Iskhandar mengajak Aluna ke tempat lain. Ia membawanya ke danau, berharap dengan begitu keadaannya bisa jauh lebih tenang. Ia tak akan menyia-nyiakan kebersamaannya dengan istrinya. Lalu mereka duduk di sebuah bangku di sana.


"Namamu siapa?" tanya Iskhandar.


"Aluna," jawabnya.

__ADS_1


"Aku siapa?" tanya Iskhandar lagi.


"Iskhandar, suamiku." Aluna memeluk suaminya, dan Iskhandar membalas pelukkan itu. Air mata terjatuh begitu saja di pelupuk mata Iskhandar, ia takut sangat takut.Takut kehilangan istrinya apa lagi kini Aluna tengah hamil.


__ADS_2