Ketulusan Cinta Aluna

Ketulusan Cinta Aluna
Bab 24


__ADS_3

Kini, semua sudah kumpul di rumah Iskhandar. Karena meja makan tak cukup menampung semuanya hingga akhirnya mereka menggelar tikar. Tinggal Aluna yang masih belum menampakkan diri, wanita itu tengah bercermin menatap wajahnya yang semakin pucat pasi. Tak lama, Bella menyusul karena kakaknya sudah terlalu lama berada di dalam kamar.


"Semua sudah menunggu," ucap Bella tiba-tiba.


Aluna menoleh sambil tersenyum tipis. "Tunggu, aku poles wajahku dulu. Aku harus terlihat cantik, suamiku tidak boleh melihatku seperti ini," jawab Aluna.


Bella pun tersenyum, lalu menghampiri lebih dekat. "Sini, aku bantu." Bella mengambil spons bedak dan mulai memoles wajah kakaknya. Setelah itu selesai, Aluna kembali bercermin. Ia tersenyum puas, melihat tampilannya lebih segar.


Aluna dan Bella menemui orang tuanya. Dan Iskhandar tengah duduk disamping Mohan, pria itu tak banyak bersuara. Ia sangat sedih dengan keadaan istrinya, Aluna rela hidup dalam kesederhanaan ini. akhirnya ia melihat kehadiran istrinya di sana. Menatap wajah istrinya sangat lekat. Ia mengakui kecantikkan istrinya, beruntung ia memiliki istri seperti Aluna.


Iskhandar mengulurkan tangan untuk menyambut kehadiran istrinya. Aluna sudah duduk di samping suaminya. Kedua orang tuanya tersenyum bahagia, akhirnya putrinya bahagia bersama pasangannya.


***


Usai makan, Mohan mengajak Iskhandar bicara. Membicarakan kesehatan Aluna, Mohan berniat membawa Aluna pergi ke luar negri untuk berobat. Tapi Iskhandar tidak mengizinkan, di sini, ia akan berusaha mengobati istrinya dengan obat-obatan herbal atau semacam terapi. Ia juga juga sudah minta bantuan Ahsam untuk mencarikan pengobatan itu.


"Yah, biarkan Iskhandar melakukannya. Aku yakin ada kekuatan untuk putri kita," kata istri Mohan.


"Beri aku kesempatan untuk mengobati istriku," ucap Iskhandar.


"Apa Ayah akan memisahkanku dengan orang yang ku sayangi?" tiba-tiba suara itu muncul dari arah pintu kamar.


Iskhandar beranjak dan menghampirinya. "Tidak, kamu akan tetap bersamaku apa pun keadaannya," jawab Iskhandar.


Mohan hanya mengetes keseriusan menantunya, ia takut Iskhandar tak sepenuhnya menyayangi putrinya. Karena jawaban menantunya sudah yakin, ia pasrahkan kepada mereka. Tapi jika Aluna sendiri yang minta berpisah maka ia akan melakukannya.


Semua sudah jelas, Mohan dan keluarganya pamit pulang. Bella memeluk kakaknya. "Kak, aku akan sering-sering datang menjengukmu," kata Bella.


"Aku tidak sakit, untuk apa menjengukku?" tanya Aluna.

__ADS_1


"Iya, Kakak sehat. Aku akan datang sering-sering menemuimu."


Orang tuanya pun memeluk putrinya sebelum pulang. Sang ibu meneteskan air mata karena tak kuasa meninggalkan putrinya di sana. "Jaga putriku, bahagiakan dia." Mohan menepuk bahu menantunya. Pria itu mengangguk. Lalu mengantarkan sampai depan pintu.


Setelahnya, Iskhandar menuntun istrinya untuk segera istirahat. Mereka merebahkan tubuhnya di ranjang, saling menatap. Iskhandar memainkan rambut istrinya, menyelipkan di daun telinga. Dan Aluna mencium tangan suaminya.


"Aku takut," lirih Aluna, lalu merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan suaminya.


"Jangan takut, selama aku masih bersamamu kamu akan baik-baik saja. Besok aku akan cari pekerjaan, kamu jangan kemana-mana ya? Tunggu aku sampai aku pulang," bisik Iskhandar.


Aluna mengangguk. Iskhandar membenamkan sebuah kecupan di pucuk kepala istrinya. Aluna mendongak, dan Iskhandar meraih dagu istrinya. mencium bibir Aluna dengan sangat dalam, sehingga membangkitkan sesuatu di antara mereka. Akhirnya, mereka pun melakukan hubungan suami istri. Kali ini penuh dengan rasa cinta, suaminya melakukannya dengan penuh perasaan sehingga ada kenikmatan yang tercipta di antara mereka.


Tak ingin rasanya kehilangan ini semua, sehingga Iskhandar melakukannya lagi dan lagi. Menghabiskan waktu berdua malam itu tanpa ada yang mengganggu. Larut dalam kehangatan membuat mereka merasa lelah. Iskhandar mencium seluruh wajah istrinya bertubi-tubi.


"Tidurlah, kamu pasti lelah," bisik Iskhandar. Menarik tubuh istrinya yang masih polos ke dalam pelukkannya, memberikannya kenyamanan dan kehangatan.


***


Di dalam kamar, Iskhandar mengendus-endus aroma kopi itu. Ia pun akhirnya bangkit. Tak lupa memakai celana boxernya. Ia menemui istrinya di dapur dan langsung melingkarkan tangam di perut istrinya. Aluna terkejut langsung menoleh. Ia tersenyum.


"Bau, mandi dulu sana!" titah Aluna.


"Sebentar lagi, kenapa tidak membangunkanku? Kita 'kan bisa mandi bersama," ucap Iskhandar.


"Malu," jawab Aluna.


"Kenapa mesti malu? Kita sudah menikah, semalam pun tidak malu."


"Semalamkan gelap, jadi tidak malu kalau tanpa pakaian."

__ADS_1


"Oke, aku mandi dulu. Hari ini aku akan pergi kamu jangan kemana-mana."


"Iya."


Iskhandar bergegas ke kamar mandi, tak membutuhkan waktu lama berada di sana. Hingga beberapa saat pria itu muncul dengan rambut basah sehabis keramas.


***


Dan sekarang mereka tengah sarapan. Sesudah itu, Aluna mengantar suaminya sampai depan pintu. Mencium keningnya lalu pergi sambil melambaikan tangan. Aluna membalas itu. Setelah kepergian suaminya ia segera masuk, tiba-tiba kepalanya sakit. Lupa kalau pagi ini belum meminum obat. Aluna mencari kotak obatnya, setelah di dapat botol obat itu belum terbuka. Untuk membukanya ia harus pergi ke dapur untuk mencari pisau.


Pisau telah di dapat, ia mencoba membuka botol obat itu. Tiba-tiba saja ia merasa asing berada di rumah suaminya.


"Di mana aku ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" ucap Aluna sendiri. Ia kebingungan dan sama sekali tidak kenal tempat ini. "Hari ini harusnya aku bekerja, aku belum pergi ke butik."


Aluna meletakkan botol obat dan pisau di atas meja. Ia harus segera pergi dari tempat ini. Aluna keluar dari rumah, saat di luar Hana memanggilnya.


"Aluna? Mau kemana?" tanya Hana.


Aluna tak menjawab, Hana terasa asing sehingga ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan tetangganya.


Di jalan, Aluna kelimpungan. Yang ada dalam ingatannya hari ini ada meeting dengan klien kerja mengenai desain baju pengantin yang harus dibuatnya. Ada mobil taxi di sana, Aluna segera menyetop taxi itu dan segera ke butik.


Sampailah ia di sana. Aluna langsung masuk ke ruangan Bella, nampaklah gadis itu di sana tengah menggambar.


"Kamu ngapain di sini? Kenapa tidak sekolah? Kamu bolos lagi? Ayah akan memarahimu kalau dia tau kamu bolos sekolah," ucap Aluna yang baru saja datang.


Bella hanya diam, kenapa kakaknya ingat masa ia masih sekolah? Penyakit Aluna kembali kambuh yang diingatnya malah bebarapa tahun ke belakang.


"Jangan bandel, kamu ngapain di meja kerja Kakak? Anak kecil tidak boleh bermain di sini, minggir," usirnya lagi.

__ADS_1


Bukannya pergi, Bella malah menangis.


"Kenapa nangis? Biasanya juga kamu yang buat Kakak nangis," cetus Aluna. "Minggir, Kakak harus kerja." Aluna menarik tangan sang adik agar gadis itu tak lagi duduk di kursinya.


__ADS_2