
Beberapa saat, Iskhandar membuka mata. Ia terbangun dari tidurnya, lalu beranjak dan melihat jam yang menempel di dinding. Betapa terkejutnya ia melihat jam menunjukkan pukul 5 sore. Pasalnya, kenapa istrinya tak membangunkannya? Padahal, ia tidur sudah satu jam.
"Aluna!" teriaknya. Ia mencari istrinya, ke kamar tidak ada. Di dapur pun tidak ada, bahkan ia sampai membuka pintu kamar mandi. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya makanan yang terhidang di atas meja. Iskhandar terlihat panik, ia tak melihat meja makan secara detail. Ia langsung keluar dan mencari istrinya.
"Aluna ..." Ia celingak-celinguk mencari istrinya, lalu kembali masuk. Ia melihat hasil masakan istrinya, terselip di bawah meja ada sepucuk surat dan ia membacanya.
"Maafkan aku, aku tau aku sudah merepotkanmu. Masuk kedalam hidupmu dan mengacaukan semuanya. Kamu berhak bahagia, suamiku. Aku pergi, aku tak ingin menjadi bebanmu. Carilah kebahagiaanmu, aku tidak akan mengingatmu lagi karena penyakitku. Lambat laun aku pasti meninggalkanmu, aku mencintaimu. Aku bahagia sudah menikah denganmu, aku akan membawa anak kita sampai ke surga, hanya aku yang bisa mengakhiri hubungan kita. Aku akhiri sampai di sini, terima kasih sudah mencintaiku."
Seketika, tubuh Iskhandar ambruk, berlutut di lantai. "Aarrrghhh," teriaknya. Marah, kesal menjadi satu. Kenapa haru pergi disaat ia mulai mencintainya? Iskhandar merema* surat itu, ia tak ingin istrinya pergi. Ia harus membawa istrinya kembali.
Tiba-tiba, Hana menghampiri. "Aku tadi melihat Aluna pergi, pas aku tanya dia tidak jawab. Siangnya kembali lagi, tapi bersama keluarganya. Aku mau tanya tapi takut ikut campur, setelah itu aku tidak lihat lagi," jelas Hana.
Mendengar penjelasan itu, Iskhandar langsung pergi mengendarai motor bututnya. Ia tak mencari istrinya kemana-mana, ia yakin kalau istrinya ada di rumah orang tuanya. Dengan perasaan yang tidak tenang membuatnya berkendara dengan ugal-ugalan. Dan sampailah ia di rumah mertuanya. Turun dari motor dengan tergesa.
"Aluna ..." Iskhandar masuk begitu saja. Dan di sana ia bertemu dengan Bella. "Di mana istriku?" tanya Iskhandar tiba-tiba.
"Tidak ada, kakak-ku lagi ditangani dokter. Ayahku membawanya," jawab Bella.
__ADS_1
"Tidak! Kamu membohongiku, jangan sembunyikan istriku," kata Iskhandar.
Tak lama, ia mendengar suara deruman mobil di depan rumah. Iskhandar segera keluar, ia kira itu pasti mertuanya. Dan benar saja, ia melihat Mohan baru saja turun dari mobilnya. Iskhandar berjalan cepat menghampiri mertuanya itu.
"Di mana istriku? Aku mau menjemputnya pulang, di mana dia?" tanya Iskhandar. Ia celingak-celinguk ke dalam mobil, berharap melihat istrinya di sana. "Di mana istriku?!" Iskhandar mengguncangkan tubuh mertuanya, bukannya ia tak sopan, tapi pria paruh bayu itutak menjawab pertanyaannya. "Jangan menyembunyikannya dariku, dia istriku aku berhak membawanya pulang!"
"Biarkan Aluna berobat, kamu carilah kebahagiaanmu. Aluna sudah pergi jauh," jawab Mohan. "Sesuai perjanjian itu, kamu tidak berhakal menceraikan istrimu apa lagi sampai meninggalkannya. Tapi bila istrimu yang meminta berpisah, maka kamu harus merelakannya."
Kesepakatan itu sudah disetujui oleh kedua belah pihak, sehingga Iskhandar sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Hatinya hancur, kini istrinya sudah pergi meninggalkannya.
***
"Arrgghhhh ..." Iskhandar menyeka atas meja sehingga makanan itu terjatuh ke lantai dan berhamburan. Kesal, sangat kesal. "Kamu tega, kamu tega pergi meninggalkanku." Ia menangisi kepergian istrinya.
Iskhandar pergi ke kamar, baju-baju istrinya masih tersusun rapi di dalam lemari. Menyentuh deratan baju itu satu persatu. Air matanya kembali menetes. Kenapa ujian hidupnya begitu sulit? Bahkan adik satu-satunya kembali gila. Isi kepalanya seakan mau meledak. Tapi hidup mesti tetap harus dijalani, ia berharap istrinya akan kembali. Berharap ini semua hanya mimpi.
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu.
Setiap hari ia pergi berkunjung ke rumah orang tuanya, berharap akan bertemu dengan istrinya. Namun, tetap saja ia tak kunjung bertemu. Istrinya memang tidak ada di rumah itu, lalu, kemana ia harus mencari?
Dan sekarang, ia tengah bekerja. Meski raga bekerja, tapi pikirannya selalu terbayang wajah istrinya. Pekerjaan pun terkadang terganggu. Bahkan sang bos sering memarahinya karena tidak pernah fokus dalam bekerja.
"Kamu harus tetap semangat, aku yakin kalian pasti dipertemukan kembali." Ucap Ahsam sembari menepuk bahu temannya itu.
Iskhandar tersenyum kecut.
Sementara di tempat lain.
Aluna masih berada di kota, ucapan Mohan tentangnya yang berada di luar negri ternyata bohong. Aluna tidak mau meninggalkan tempat kelahirannya. Pengakit yang dialami memang belum ada obatnya. Dan kini ia tengah bersama ayahnya.
"Kamu putriku kecilku, tetaplah bersama Ayah. Biarkan suamimu bahagia," ucap Mohan.
Air mata Aluna terus berlinang, sesekali lupa dengan suaminya. Namun, terkadang juga ia mengingatnya. Kondisinya semakin menurun, bahkan ia sering pingsan. Dokter selalu memantau di sana. Aluna berada di tempat di mana ia tak bisa pergi kemana-mana. Hanya tangisan yang selalu menemani. Apa lagi sekarang ia sampai menyakiti diri sendiri.
__ADS_1