
Setelah puas mengajak istrinya pergi jalan-jalan, mereka pun akhirnya pulang. Hari sudah mulai sore. Tiba di rumah, Iskhandar akan menyiapkan air untuk istrinya membersihkan diri.
"Mau pakai air hangat apa dingin?" tanya Iskhandar, cuaca memang kurang bersahabat sore itu. Bahkan hujan turun walau masih gerimis, untung mereka sudah sampai.
"Air hangat saja," jawab Aluna.
Iskhandar bergegas ke dapur untuk memanaskan air. Tapi Aluna yang mengambil panci dan mengisinya. Iskhandar hanya memperhatikan, karena istrinya mengambil panci kecil yang biasa digunakan untuk memasak mei rebus.
"Sayang, bukan yang itu pancinya. Kamu duduk saja biar aku yang melakukannya." Iskhandar mengambil alih panci itu dan menggangtinya dengan panci besar.
"Oh, salah ya?" Aluna tersenyum tipis. Lalu ia memeluk suaminya dari belakang. Iskhandar tengah menyalakan kompor, setelah itu ia membalikkan tubuh sehingga mereka saling berhadapan.
"Aku takut," ucap Aluna tiba-tiba.
Iskhandar tidak menjawab, ia malah membalas pelukkan istrinya.
"Aku harus mencari pengobatan tradisional," batinnya. Konsultasi kepada dokter malah membuatnya takut sendiri, meski memang penyakit itu susah disembuhkan tapi setidaknya ia berusaha demi kesehatan istrinya. Tubuh yang tengah dirangkum itu semakin kurus, ia tak ingin istrinya seperti itu.
Lama mereka saling berpelukkan hingga air sudah mendidih. Tersadar akan suara air meletup dari tutupnya membuat Iskhandar melepaskan pelukkannya. Ia membawa air panas itu ke kamar mandi dan menuangkannya di ember, lalu menambahkan air dingin di sana. Tak lama, Aluna pun menyusul.
"Mandikan aku," pinta Aluna.
***
Iskhandar mengguyur kepala istrinya dengan air hangat, meletakan shampo di kepala dan mulai merema*nya. Tulang punggung yang nampak terlihat tulang membuat Iskhandar merasa iba, ia juga menyentuh punggung dan memakaikannya sabun. Aluna diam saja seperti anak kecil yang tengah di mandikan, setelah itu selesai Iskhandar membopong tubuh istrinya yang sudah terbalut dengan handuk.
Aluna menyentuh wajah suaminya, mendongakkan wajah untuk melihat suaminya, lalu menempelkan kepala di dada bidang suaminya. Dan malam pun tiba, mereka tidur bersama untuk yang kedua kalinya. Perlahan, Aluna mendaratkan kepala di lengan suaminya. Ia tak dapat tidur malam ini, tubuhnya terasa sakit. Dan tangannya terasa kebas.
Iskhandar melihat kegelisahan istrinya. "Kamu kenapa?" tanya Iskhandar, ia melihat Aluna tengah merema* tangannya sendiri.
__ADS_1
"Mau ku pijat?"
Aluna mengangguk, lalu Iskhandar beranjak mengambil krim untuk mengurut tangan istrinya. "Apa perlu kita punya anak?" tanya Aluna saat suaminya memijatnya.
"Kamu sedang hamil, sebentar lagi kita akan punya anak. Sembuhlah demi aku juga calon anak kita," lirih suaminya.
"Apa kamu mencintaiku? Sikapmu sering kasar, apa kamu kasihan padaku?"
Iskhandar meletakkan jari di bibir Aluna, ia meminta istrinya untuk diam tak membahas masalah yang dulu-dulu. Ia ingin memulai hidupnya yang baru, sikap kasar yang ditunjukkan hanya karena kesal bahwa keluarga istrinya selalu menyangkutkan uang dengan soal perasaan, dan bodohnya ia tak melihat ketulusan cinta istrinya.
"Bagaimana kalau aku lupa padamu?" tanya Aluna lagi.
"Aku tak akan membiarkanmu melupakanku, aku akan mencari obat untuk menyembuhkanmu. Tetaplah bersamaku sampai akhir hayat."
"Kalau aku mati?"
"Aku akan ikut mati bersamamu," jawab Iskhandar.
Iskhandar mendekap tubuh istrinya, membiarkan Aluna tidur dengan nyenyak malam ini. Meski hasratnya tengah dirasakan tapi ia menahannya, ia tak ingin menganggu istirahat istrinya.
***
Aluna terbangun lebih dulu, bahkan saat suaminya terjaga dari tidurnya tak melihat keberadaan istrinya. Iskhandar terkejut dan langsung beranjak. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari istrinya.
"Aluna ...," panggilnya. Mencari kemana pun Aluna tak ditemukan, hingga ia melihat meja makan. Ada selembar kertas di sana.
"Aku pergi ke pasar, tunggu aku pulang. Jangan khawatir, aku tidak akan tersesat," tulis Aluna di kertas itu.
Tapi Iskhandar kahwatir, ia takut istrinya tersesat. Buru-buru ia mencuci muka, lalu menggunakan motor bututnya.
__ADS_1
Jiuuuussss ...
Motor itu melaju cepat.
Sedangkan Aluna, ia baru selesai berbelanja. Keranjang bawaannya sudah penuh, entah apa saja yang dibeli olehnya.
"Berapa, Pak?" tanya Aluna yang akan membayar belanjaan terakhirnya. Aluna mengeluarkan beberapa lembar uang. Untung si pedagang itu jujur dan mengembalikan uang karena uang itu terlalu banyak.
"Nona, uangnya lebih." Si pedagang itu memberikannya.
Aluna hanya tersenyum, lalu menyimpan uang di dompet kecil miliknya. Setelah belanja, ia pun pulang. Menyusuri jalan sendirian. Tengah di perjalanan, ia kembali bingung. Lalu mendengar suara motor yang sudah tidak asing di pendengarannya. Meski ingatannya lupa tapi pendengarannya masih normal.
"Istriku," panggil Iskhandar.
Aluna menoleh, lalu melihat helm proyek yang biasa digunakan suaminya bekerja. Seketika ia mengingat siapa Iskhandar. Bibirnya tersenyum manis sambil menghela napas. Untung suaminya keburu datang sehingga ia bisa pulang saat itu juga.
"Kamu beli apa saja? Ini banyak sekali?" tanya Iskhandar.
"Aku mau orang tuaku datang dan kita makan bersama. Nanti hubungi ..." Aluna tak melanjutkan kata-katanya, ia lupa pada siapa ia harus menghubungi agar orang tuanya datang ke rumahnya.
"Ya, aku akan menghubungi Bella. Aku akan menyuruh mereka datang kemari, sekarang kita pulang. Kamu pasti sudah lelah." Iskhandar melihat keringat di dahi istrinya, sebelum Aluna naik motor, suaminya mengelap keringat itu lebih dulu. Belanjaan di simpan di depan, lalu Aluna naik dan langsung melingkarkan tangan di pinggang suaminya.
***
Iskhandar membantu istrinya memasak di dapur, sesekali mereka tertawa karena Iskhandar selalu menggodanya.
"Suamiku, apa sudah menghubungi Bella?"
Iskhandar menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi lupa seperti aku? Cepat hubungi mereka, masakan kita hampir selesai."
Iskhandar mengangguk, sebelum pergi ia mencium pipi istrinya terlebih dulu. Aluna tersenyum bahagia. Karena tak memiliki ponsel membuat Iskhandar harus meminjamnya kepada Ahsam. Ponsel Aluna sendiri tertinggal di rumahnya.