Ketulusan Cinta Aluna

Ketulusan Cinta Aluna
Bab 27


__ADS_3

Kali ini, Iskhandar tengah makan siang. Ia hanya mengaduk-aduk makanan itu. Biasanya, istrinya yang selalu menyiapkan bekal untuknya. Untuk kali ini ia membeli nasi di pinggir jalan dan membungkusnya untuk dimakan bersama dengan teman-temannya. Hidupnya terasa hampa setelah kepergian istrinya. Tak ada ceria dalam sosok Iskhandar.


Ahsam yang melihat merasa kasihan, biasanya temannya itu suka jahil bila sedang makan bersama seperti ini. Bukan hanya Ahsam yang memperhatikan Iskhandar teman yang lain pun ikut memperhatikan.


Linangan air mata terjatuh begitu saja dari pelupuk lelaki itu. Iskhandar tak bisa menahan kepedihan saat Aluna pergi meninggalkannya. Pasalnya, ada janin dalam perut wanita itu. Ia tak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya. Hidup tanpa orang tua yang lengkap membuatnya selalu berpikir buruk.


Iskhandar meletakkan nasi yang tengah dipegang. Ia sudah merasa kenyang, ia bangkit dan melanjutkan pekerjaan.


"Hei mau kemana? Ini masih jam istirahat," kata Ahsam.


"Aku ada urusan, jadi aku harus menyelesaikannya sebelum jam pulang itu tiba," jawab Iskhandar.


***


Di tempat lain.


Aluna tengah duduk di dekat jendela, melihat ke luar dengan tatapan kosong. Saat itu, Bella menemui kakaknya. Pandangan Aluna teralihkan saat seseorang muncul di belakangnya. Keningnya mengerut, ia tidak tahu siapa yang datang. Aluna tambah bingung saat orang itu memeluknya begitu saja.


"Kak, aku adikmu," ucap Bella. "Bagaimana kondisimu? Aku merindukanmu." Bella semakin mengeratkan pelukkannya, lalu ia melihat sesuatu di genggaman sang kakak. Karena penasaran ia pun mengambilnya. Tulisan itu sebuah pengakuan cintanya kepada suaminya. Aluna menulisnya saat ingatannya normal.


Bella menitikkan air mata, menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh sang kakak. Aluna bagaikan mayat hidup, semua pengobatan telah dilakukan. Namun, tetap saja penyakit itu terus menggerogotinya.

__ADS_1


Tak lagi bisa menahan tangisnya, Bella keluar dari ruangan itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu tak dapat dikendalikan, bahkan dari lobang hidung pun mengeluarkan cairan.


"Ayah," ucap Bella. Orang tuanya pun berada di sana. Bella menunjukkan sesuatu kepada orang tuanya, sebuah surat yang tulis langsung oleh anak kesayangannya.


Belum surat itu sampai, mereka mendengar suara jeritan dari ruangan Aluna. Semua berlari menuju ruangan itu, mereka melihat Aluna tengah menyakiti dirinya sendiri. Menjambak rambutnya bahkan hidungnya sudah mengeluarkan darah.


"Panggil dokter," perintah Mohan kepada Bella. Dokter itu tengah berada di ruangan lain, karena waktu itu memang waktunya jam istirahat.


Tak berselang lama, dokter pun datang. Melihat pasiennya tengah dicekal oleh orang tuannya. Dokter segera memberi obat penenang.


"Dok, bagaimana ini?" tanya Mohan.


"Saya rasa, pasien harus dirawat di rumah sakit. Kondisinya pasien tengah hamil, saya takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Apa lagi melihat kondisinya yang semakin kurus," terang dokter.


Melihat Aluna sudah tidak sadarkan diri, dokter langsung mengambil tindakan. Hari ini juga pasien di bawa ke rumah sakit terbesar dan ternama di kota.


***


Iskhandar tengah menjenguk Syerly. Keadaan gadis itu kini sudah mulai membaik. Iskhandar mengelus rambut adiknya, bibirnya tersenyum. Entah, senyum apa yang ditunjukkan olehnya. Yang jelas, pikirannya bercabang.


Beberapa bulan berlalu.

__ADS_1


Setiap hari Iskhandar menjenguk adiknya, dan dokter memberikan kabar gembira hari ini. Kondisi Syerly sudah jauh lebih baik dan boleh dibawa pulang. Dokter menyarankan, jangan sampai kejadian kemarin terulang. Kalau boleh jauhkan dari hal-hal yang membuatnya teringat dengan kejadian beberapa tahun silam.


Iskhandar mengangguk mengerti, akhirnya ia membawa adiknya pulang.


"Kak, aku ingat sesuatu. Kata Kakak, Kakak akan mengenalkanku kepada seseorang kalau boleh tau siapa orang itu? Kenapa sampai saat ini belum dikenalkan padaku?" tanya Syerly.


Kini mereka tengah dalam perjalanan, menaiki motor bubut yang selalu menemani hidup Iskhandar. Sang kakak tidak menjawab, begitu sulit untuk menjelaskan semua kepada adiknya itu. Ia takut mental adiknya terganggu, gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya.


Motor yang ditumpangi mereka akhirnya sampai. Syerly tersenyum ceria, betapa bahagianya ia telah kembali ke rumah itu. Syerly melihat keadaan rumahnya, ada perbedaan di sana. Rumah jelek itu terlihat lebih rapi. Lalu matanya menangkap sesuatu yang menempel di dinding.


"Kakak sudah menikah?" Syerly melihat foto pernikahan itu.


Iskhandar tak kunjung menjawab karena terasa sesak di dada. Ia malah duduk begitu saja dengan tatapan kosong. Begitu rumit dengan masalah yang ada, kenapa menikah jika akhirnya seperti ini? Ia tak menyalahkan siapa pun, karena awal pernikahan ini memang tak diinginkan olehnya. Seharusnya dari dulu ia menerima pernikahan ini.


"Kak, di mana istrimu? Aku ingin kenal dengannya," ujar Syerly lagi.


Sudah beberapa bulan ini, ia tak tahu di mana istrinya. Ia sendiri pun merindukannya.


Tiba-tiba saja, seseorang datang. Berdiri di ambang pintu.


"Siapa dia, Kak?" tanya Syerly.

__ADS_1


Seorang wanita cantik berkunjung ke rumah Iskhandar. Dan pria itu sangat terkejut ketika tahu siapa yang telah menemuinya. Antara percaya atau tidak, tapi inilah kenyataannya.


__ADS_2