Ketulusan Cinta Aluna

Ketulusan Cinta Aluna
Bab 30


__ADS_3

Hari-hari, Iskhandar meluangkan waktu untuk mengurus istrinya. Dari mulai mandi, menyuapinya makan, dan tak lupa memberikan obat herbal dari mak Jumin. Keadaan Aluna sudah mulai membaik, makan dan minum obat secara teratur. Bahkan berkat ramuan itu, Aluna lahap dengan makanannya. Apa saja ia suka, padahal, masakannya juga Syerly tidak begitu enak. Tapi Aluna menyukainya.


"Mau nambah?" tanya Iskhandar.


Aluna mengangguk sembari mengusap perutnya. Pergerakan calon anaknya dapat dirasakan dengan kuat, itu artinya kandungannya pun ikut sehat. Iskhandar sampai meletakkan piring di atas nakas saat melihat perutnya bergerak, ia meletakkan tangan di perut. Dan tak lama, bayi itu kembali menendang. Iskhandar tersenyum.


"Dia gerak," ucap Iskhandar. Aluna pun ikut tersenyum. Berangsur, setiap pagi ia tidak terlalu bingung dengn keadaannya. Yang ia ingat bahwa Iskhandar suaminya, ayah dari anak yang masih ada dalam kandungannya. Ia harus kuat demi keluarga kecilnya.


"Aku masih laper, katanya mau ambil makanan lagi," kata Aluna mengingatkan suaminya.


"Ya, ampun." Iskhandar sampai menepuk kepalanya, karena peegerakkan perut itu ia sampai lupa dengan tujuannya. "Tunggu sebentar, aku tidak akan lama." Dan benar saja, hanya tiga menit saja ia meninggalkan Aluna. Ia kembali menyuapi istrinya makan.


"Syerly kemana? Aku tidak melihatnya pagi ini?" tanya Aluna.


"Dia lagi cari kerja," jawab Iskhandar.


"Kenapa cape-cape cari kerjaan? Dia bisa bantu ..." Aluna lupa menyebutkan nama sehingga ia harus berpikir lebih keras lagi. Lama Iskhandar menunggu kelanjutan istrinya bercakap. Aluna malah tersenyum karena ia lupa.


"Bella," bantu Iskhandar menjawab.

__ADS_1


"Iya, Bella. Bisa bantu di butik," jawabnya.


"Ingat siapa Bella?" tanya Iskhandar. Aluna mengangguk.


"Adikku, kerja di butik," jawab Aluna.


"Pinter." Iskhandar mengacak rambut istrinya dengan sayang. Dan Aluna pun ikut tersenyum.


Tiba-tiba saja ...


"Aduh, perutku." Aluna meringis merasakan sesuatu di perutnya.


"Kok sakit ya? Apa mau melahirkan?" kata Aluna.


"Hah, melahirkan?" Iskhandar malah terlihat panik, ia tidak tahu harus berbuat apa. "Bagaimana ini? Kamu tunggu sebentar ya? Aku minta bantuan pada Hana saja." Iskhandar segera keluar dan menemui tetangganya itu.


"Hana? Ahsam?" panggilnya berteriak.


Untung, Hana dan Ahsam muncul. Mereka baru saja pulang dari pasar. "Ada apa mencari kami?" tanya Ahsam dari belakang Iskhandar.

__ADS_1


Iskhandar menoleh, lalu segera minta tolong untuk panggilkan mak Jumin. Tapi, ia malah kesulitan bicara karena saking gugupnya. Ini pengalaman pertama baginta, apa lagi dengan kondisi Aluna yang jauh dari kata normal.


"Tenang dulu, ada apa?" tanya Hana. "Tarik napas." Hana memperagakannya kepada Iskhandar karena pria itu tak kunjung menjawab.


"Istriku ...," ucap Isnkandar.


"Iya, istrimu kenapa?" tanya Ahsam.


Iskhandar malah membulatkan perut.


"Iya aku tau istrimu lagi hamil, terus kenapa dia?" tanya Ahsam lagi. "Ngomong yang bener jangan gelagapan kaya orang bego!" kesal Ahsam.


Karena penasaran, Hana langsung pergi ke rumah Iskhandar dan meninggalkan belanjaanya di teras depan. Ia tidak bisa menunggu jawaban laki-laki gugup itu. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Aluna, pikirnya. Dan benar saja, saat tiba disana ia melihat pemandangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin jika orang tak melihatnya secara langsung itu semua pasti konyol.


Hana sampai mengucek kedua matanya saking tak percayanya. Semudah itu? Padahal, wanita itu tengah sakit. Mukzizat Tuhan yang maha kuasa benar adanya.


"Aluna," panggil Hana.


Tak lama, Iskhandar dan Ahsam menyusul Mereka pun terkejut, apa lagi dengan Iskhandar sendiri. Baru beberapa menit ia meninggalkannya dan sekarang? Masih tak percaya dengan penglihatannya.

__ADS_1


"Sam, aku tidak mimpi 'kan?" tanya Iskhandar.


__ADS_2