Ketulusan Cinta Aluna

Ketulusan Cinta Aluna
Bab 25


__ADS_3

Semua karyawan di sana melihat karena pintu terbuka lebar. Bella langsung menutup pintu, ia tak ingin kakaknya menjadi bahan omongan di sana. Bella mengambil ponsel di atas meja, lalu menghubungi sang ayah. Mengatakan bahwa kakaknya ada di sana, ia juga mengirim gambar sang kakak yang tengah menggambar di kertas.


Setelah mendapat kabar, Mohan langsung saja menemui putrinya di butik. Sesampainya di sana, ia melihat Aluna tengah berkutat. Dan Aluna melihat keberadaan ayahnya.


"Ayah," ucap Aluna. Gadis itu berdiri lalu memperlihatkan hasil gambarannya. "Lihat, baju pengantinnya bagus 'kan? Aku sendiri suka, saat menikah nanti aku akan buat gaun seperti ini," ucapnya lagi.


Mohan langsung mendekap sang putri, air matanya menganak sungai. Berderai begitu saja, tak lama dari situ, ibu Aluna menyusul dan menyaksikan adegan ayah dan anaknya yang tengah berpelukan. Aluna pun melihat kedatangan ibunya.


"Ibu." Aluna melepaskan pelukkan ayahnya. "Kenapa kalian pada kesini? Apa kalian memberiku sebuah kejutan? Ya, ampun. Apa aku ulang tahun hari ini?"


Ucapan Aluna semakin ngaur, hari ulang tahunnya masih jauh. Ibunya malah menangis dan Bella pun ikut menangis. "Kalian semua kenapa menangis?" tanya Aluna, lalu ia melihat dirinya mulai dari ujung kaki. Ia merasa baik-baik saja tidak ada yang mesti ditangisi.


Mereka semua memeluk Aluna, karena bingung, Aluna hanya bisa terdiam tanpa ekspresi apa pun. Setelah itu, Mohan menuntun putrinya. Ia akan membawanya pergi ke rumah sakit yang lebih canggih, bila perlu ke luar negri.


"Ayah, aku mau dibawa kemana? Aku lagi kerja, pesanan baju pengantin itu harus selesai minggu depan, dan aku harus mengantarkannya ke ..." Aluna tak melanjutkan kata-katanya, otaknya tak berjalan. Pikiran itu seakan hilang, ia malah terbayang dirinya yang mengenakan pakaian pengantin. Ya, Aluna ingat akan pernikahannya.


Langkah Aluna terhenti begitu saja, menahan tarikan Mohan. Dan ayahnya pun ikut berhenti, lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Ayah, aku harus pulang. Suamiku menungguku," ucap Aluna yang mengingat bahwa ia telah menikah. Ia ingat bahwa dirinya mengalami seuatu penyakit. Aluna berlari begitu saja, ia tak ingin suaminya marah. Ia ingat bahwa dirinya sering di marahi. Aluna menyetop taxi, dan Mohan langsung menyusul.

__ADS_1


***


Sampailah Aluna di rumah suaminya. Iskhandar belum pulang, Aluna merasa lega. Ia langsung saja berkutat di dapur, menyiapkan makanan kesukaan suaminya. Sambil masak, Aluna sambil menangis. Sesekali ia menyeka air matanya. Sang ayah pun berada di sana, tak mengucapkan kata-kata apa pun. Pria paruh baya itu menemani putrinya di sana. Matanya kembali meneteskan air mata, tak sanggup rasanya melihat putri kesayangannya tersiksa seperti ini.


Bella dan ibunya pun menyusul. Mohan memberi kode kepada mereka, mengisyaratkan bahwa mereka jangan mengganggu aktivitas anaknya. Tiba-tiba, Aluna ambruk. Berlutut di lantai sambil menangis.


"Aarrgghhhh ..." Ia memukul-mukul kepalanya. Ia ingin sembuh dan tak mau tersiksa seperti ini. Rasanya capek, pikirannya tak tentu arah.


Mohan meraih tubuh putrinya, membawanya duduk di kursi kayu yang sudah di makan rayap sebagian. Mengelus rambutnya dengan sayang. "Sudah ingat tentang suamimu?" tanya Mohan.


Aluna mengangguk pelan, lalu berhenti menangis.


"Tapi aku mencintainya, Ayah," jawab Aluna.


"Ya, Ayah tau. Tapi ini menyiksa suamimu juga, pulanglah, Ayah akan mengobatimu. Kasihan suamimu, dia berhak bahagia," sambung Mohan lagi.


Yang diinginkan Mohan, sejak awal ia memang tak setuju putrinya menikah dengan Iskhandar. Faktor ekonomi yang pertama, yang kedua, cinta suaminya hanya karena kasihan. Sehingga ia berniat untuk membawa putrinya berobat ke luar negri.


"Beri aku untuk berpikir, aku tau aku hanya menyusahkan semua orang. Tapi aku baru merasakan kebahagiaan, Ayah," balas Aluna. "Kalian pergilah, aku akan menunggu suamiku pulang."

__ADS_1


"Bukan cuma kamu yang menjadi beban suamimu, dia juga harus membiayai adiknya yang sakit jiwa, jadi pikirkan ini selagi kamu ingat semuanya," ujar Mohan. "Maafkan Ayah, Aluna. Bukannya Ayah mau memisahkanmu, keadaan yang membuatnya seperti ini," batin Mohan.


***


Sementara di tempat lain.


Iskhandar yang kini mencari pekerjaan pun sudah mendapatkan kembali pekerjaannya. Mandor yang memecatnya kembali memintanya untuk bekerja. Saat itu juga, Iskhandar langsung bekerja. Bahkan mandor itu memberi gaji di muka. Awalnya Iskhandar menolak, padahal itu hanya trik agar dia mendapatkan uang.


Ia butuh biaya untuk adiknya, juga istrinya. Dan kini, ia akan pulang. Sebelum pulang, ia mampir ke toko obat herbal. Membeli obat untuk istrinya, ia mendapat saran dari salah satu temannya, akhirnya ia pun mencoba mengobati istrinya dengan obat herbal itu.


Setelah mendapatkan obat, ia mampir ke rumah sakit lebih dulu. Pergi ke rumah sakit jiwa untuk menjenguk adiknya. Keadaan Syerly masih tetap sama, gadis itu kini tengah murung di pojokan sudut dinding. Menelusupkan kepala di kedua lutut. Iskhandar menangis, cobaannya begitu berat. Sepintas, ia teringat kepada ibunya yang tega meninggalkannya. Sungguh tega, seorang ibu meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Kala itu, Iskhandar berusia 7 tahun dan Syerly berusia 3 tahun.


Iskhandar harus merawat adiknya, saat ia sekolah, Syerly dititipkan di tetangga. Perasaannya kala itu sangat sakit. Dan sekarang ia tak tahu di mana ibunya.


Iskhandar menyeka air matanya, ia harus segera pulang karena istrinya tengah menunggu. Ia pun keluar dari rumah sakit, mengendarai motor bututnya untuk sampai di rumah.


Jiuusss ...


Motor butut itu melesat membelah jalanan ibu kota, hari sudah mulai gelap. Ia sadar bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya. Tibalah ia di rumah susun, menjinjing kantong kresek yang berisikan obat herbal untuk istrinya.

__ADS_1


"Istriku, aku pulang," ucap Iskhandar saat tiba di dalam rumah. Tak ada sahutan di sana, ia malah mencium aroma masakan. Ia yakin kalau istrinya baru selesai memasak. Ia duduk sebentar menghilangkan penatnya, lama istrinya tak kunjung tiba. Saking lamanya, Iskhandar justru ketiduran di kursi.


__ADS_2