
Haripun berlalu tanpa terasa sudah satu Minggu Rosa dan teman-temannya MOS.
Di acara penutupan MOS anggota panitia OSIS mengadakan perkemahan Sabtu Minggu atau PERSAMI.
Rizal sebagai ketua OSIS menjadi sibuk menyiapkan acara demi acara untuk acara Persami.
Dan dia memilih Mimi sebagai wakil koordinatoor PERSAMI.
"Lagi sibuk Zal?" Kata Mimi mendekati Rizal yang sedang menulis. "Gak juga Mi, ada apa?" Kata Rizal menghentikan aktivitasnya.
"Gue minta tolong dong, Rian dan teman-temannya menjadi satu kelompok dan koordinator kelompoknya itu gue." Kata Mimi.
"Beres, kaya'nya sayang banget sama ade' sampe-sampe gak mau pisah." Canda Rizal.
"Bukan gitu Zal, kemaren Papa nitip Rosa sama gue, karna dia gak pernah ikutan kegiatan yang beginian, takutnya ada apa-apa ntar." Kata Mimi.
"Dan gue denger tadi, Indra ngomong sama Winda klo dia mau deketin Rosa malam ini karna Indra udah suka Rosa." Sambungnya.
"Elo tau sendiri Indra? Nganggap cewek itu kaya barang, klo udah bosen di tinggal dan cari yang baru? Gue gak mau Rosa diperlakukan begitu, Rosa gadis yang polos dan belum pernah pacaran-pacaran bahkan gak ngerti masalah gituan, gue gak mau dia jadi korban Indra berikutnya." Sambungnya lagi.
Bisa diaturlah, klo perlu kita berdua jadi koordinatornya, itung-itung gue yang mau mengadakan pendekatan dengan dia." Kata Rizal.
"Wah pinter lo cari kesempatan." Canda Mimi. Rizal tertawa. "Iyalah Mi, gue bener-bener jatuh cinta sama Rosa." Katanya.
"Kaya'nya elo bener-bener cinta mati dengan Rosa yach." Canda Mimi.
"Iya Mi, bener kata Rian, Rosa itu gadis yang tulus, gue yakin klo dia mencintai seseorang dia akan mencintai dengan setulus hati dan gue berharap lelaki itu adalah gue." Kata Rizal.
"Gue dukung elo, tapi klo elo udah dapetin hatinya, jangan sakiti dia yach, klo bener-bener terjadi gue gak tau Rian akan melakukan hal apa dengan elo." Kata Mimi.
Rizal tertawa. "Beres, akan gue jaga Rosa klo dia jadi gadis gue dan gue gak akan biarin air mata keluar dari matanya." Katanya merangkul Mimi.
"Yach udah, gue pulang yach, Rian dan Rosa nungguin, kaya'nya Rosa gak nyadar dech klo elo sekolah disini." Kata Mimi.
"Biarin lah, kejutan untuk dia nanti sore." Kata Rizal membereskan bukunya. Mimipun pulang.
__ADS_1
π»π»π»π»π»
Menjelang sore, mereka pun bersiap siap berangkat. Rosa dijemput oleh Mimi dan Rian."Nanti kalo di sana, jangan pergi sendirian, kemana-mana minta temenin Kak Mimi atau yang lainnya." Kata Arya sambil memasukkan keperluan Rosa.
"Iya Pa." Kata Rosa sambil membantu Arya menyiapkan keperluannya.
"Papa percaya kok sama kalian, Mimi kan koordinator dan panitianya, papa titip Rosa ya nak." Kata Arya. "Iya Pa." Kata Mimi. "Ini uang, klo Rosa ada apa-apa, Rosa baru kali ini ikut kegiatan seperti ini, takutnya nanti ada apa-apa." Kata Arya memberikan uang dengan Mimi. "Iya Pa." Kata Mimi menerima uang dari Arya.
"Rian, obat-obatan Rosa ada di tas, klo ada apa-apa hubungi Papa." Kata Arya. "Iya Pa." Kata Rian.
"Kami pamit dulu Pa." Kata Mimi mencium punggung tangan Arya, di ikuti oleh Rian dan Rosa.
πππππ
Rosa dan temannya sudah berada di sekolah, merekapun sudah mendirikan tenda.
"Tar, jangan jauh-jauh dari gue." Kata Rian. "Loh kenapa?" Kata Rosa.
"Tar elo diculik hantu penghuni sekolah, elo kan jelek." Kata Rian. "Elo itu yach, nyebelin banget sich." Teriak Rosa mengejar Rian.
"Aduuuuh, maaf Kak, gue gak sengaja." Kata Rian yang tau klo Rizal yang ditabrak, diapun berdiri membersihkan badannya.
Rizal hanya tersenyum. "Udah pasang tendanya?" Katanya menatap Rian dan Rosa. "Udah Kak, tadi dibantu Kak Mimi." Kata Rian.
Rosa tertawa. "Makanya jangan suka ganggu orang cantik." Katanya mendekati Rian yang sedang berbicara dengan seseorang.
"Elo tuch yach, suka banget klo gue susah." Kata Rian. Rosa hanya mencibir. "Loh Kak Rizal sekolah sini toh?" Kata Rosa menatap Rizal.
"Lah elo gak tau slama ini Kak Rizal sekolah sini? Orang terkenal gini kok gak tau?" Kata Rian.
"Diiih mana gue tau, lah slama ini gak pernah liat." Kata Rosa.
"Yang bener Sa elo gak tau? Semua orang membicarakannya termasuk Tere sama Amel tuch, seorang Kak Rizal ketua OSIS dan kapten basket yang jago taekwondo, mereka menjadikan Kak Rizal gebetan loh." Kata Rian.
"Ooh Rosa ngerti, jadi Kak Rizal yang dibilang Amel tadi itu Kakak toh." Kata Rosa menatap Rizal dan mengerjapkan matanya.
__ADS_1
Rizal tertawa melihat tingkah Rosa yang menggemaskan." Elo itu yach, bener-bener menggemaskan." Katanya mengacak rambut Rosa lalu menciumnya.
"Kaaak, nyebelin ich, jangan gitulah, ini disekolah, Rosa gak mau ntar tuch penggemar-penggemar Kakak melotot." Kata Rosa nyerocos tanpa titik koma.
Rizal semakin tertawa dan merangkul bahu Rosa. "Siapa suruh jadi gadis gemesin heeem." Katanya mengangkat alas satu.
"Iya Sa? Amel bilang gitu? Trus elo apain?" Kata Rian. "Gue diemin aja, tinggal pergi, tar gue khilaf, berantem lagi, elo tau sendiri klo gue berantem." Kata Rosa. "Iya, iya, ngerti, preman komplek kan udah insyaf." Canda Rian.
"Elo tuch yach, nyebelin, nyebelin, nyebelin." Teriak Rosa mengacak-acak rambut Rian. "Aduh, duh, sakit tau." Kata Rian menghindar. "Bodo', bodo', bodo." Kata Rosa semakin mengacak-ngacak rambut Rian.
Rizal tertawa melihat kelakuan Rosa. "Kakak mau donk digitu'in." Candanya. "Gak mau, ntar Rosa kualat." Kata Rosa.
"Kok bisa?" Kata Rizal. "Kakak kan lebih tua daripada Rosa, masa' iya Rosa mainin kepala Kakak." Kata Rosa. Rizal terbahak mengacak gemas rambut Rosa.
"Elo gak ikut-ikutan kaya' mereka" Kata Rian menrangkul bahu Rosa. "Maksudnya?" Kata Rosa bingung. "Ya, ngambil hati Kak Rizal, biar Kak Rizal tertarik dengan elo." Kata Rian.
Gak penting." Kata Rosa. "Elo kan suka sama Kak Rizal?" Kata Rian tersenyum nakal.
"Apaan sich elo." Kata Rosa menoyor kepala Rian.
Rian tertawa. "Tapi bener kan?" Kata Rian tersenyum nakal.
"Kita itu deket dengan orang itu dari sini." Kata Rosa menunjuk dada Rian. "Bukan karna ada apanya tapi apa adanya." Sambung Rosa.
"Maksudnya?" Kata Rian. "Iya, deket dari orang itu harus dari hati, gue deket sama Kak Rizal itu karna Kak Rizal itu baik, perhatian, sam kaya' elo, jadi gak penting bagi gue Kak Rizal itu siapa terlepas dia adalah siswa terkenal di sekolah ini, lagian juga Kak Rizal itu bisa nilai sendiri kok kepribadian gue tanpa gue harus bersikap manis atau gak karna gue paling gak bisa jadi orang lain seperti Amel dan yang lainnya. "Kata Rosa." Iya kan Kak? Sambungnya menatap Rizal.
Rizal tersenyum. "Itu yang Kakak suka dari elo Sa, elo itu lain dari cewek yang lain, tulus dan apa adanya." Kata Rizal merangkul bahu Rosa dan menatapnya.
Rosa tergagap ketika matanya beradu dengan mata Rizal. "Aduuuuh jantung kok gak bisa di kondisikan." Gumamnya dalam hati. "Aduh, kenapa gue terjebak gini? Jantung gue bedegup kencang." Gumam Rizal.
"Ciye, ciye, ciye yang sedang jatuh cinta." Canda Rian yang membuat keduanya tersadar. Rosa hanya mencibir dan meninggalkan Rian dan Rizal kemudian kembali ke tenda.
Tanpa mereka sadari Amel melihat dari kejauhan. "Rosa? Kok bisa sedekat itu dengan Kak Rizal? Bisa-bisanya Kak Rizal tertawa tanpa beban dengan Rosa sedangkan dengan orang lain jadi orang yang dingin seperti beruang kutub." Gumamnya sebal. "Awas Rosa mau jadi saingan gue, gue akan buat perhitungan dengan elo." Gumamnya lagi.
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, vote dan tekan bintang lima. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.