
Usai mandi sore, Rian melihat gak ada Rosa di tendanya. "Mana Rosa? Mandi?" Katanya.
"Gak tau, tadi katanya mau mandi, tapi gak pulang-pulang kesini padahal duluan dia mandi daripada gue." Kata Retno.
"Tadi gue liat dia ngobrol dengan Amel di deket musolla, gak tau ngobrol apa, tumben dia akur." Kata Vivi.
Rian melotot. "Apa? Amel?" Teriaknya. "Kok perasaan gue gak enak." Sambungnya menyusul Rosa di deket musolla.
"Elo mau kemana Yan?" Kata Mimi. "Nyari Rosa kak, kata Vivi tadi lagi ngobrol dengan Amel, gue takut dia berantem lagi." Kata Rian.
"Apa? Iya gue gak kepikiran yach, yuk kita cari Rosa juga." Kata Retno menarik tangan Yoga. Merekapun mencari Rosa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Dugaan Rian benar, dia melihat Rosa dan Amel berantem. "Mau elo itu apa sich? Mentang-mentang gue diemin jadi ngelunjak." Teriak Rosa mendorong Amel dan terjatuh.
"Elo itu gue bilang gak usah ganjen napa? Kak Rizal itu gebetan gue, malah elo deketin." Teriak Amel menjambak rambut Rosa.
"Gue deket dengan Kak Rizal itu sebelum gue masuk sekolah ini, jadi apa hak elo ngelarang gue." Teriak Rosa mendorong Amel.
Amelpun terjatuh dan menyerang Amel dengan membabi buta. Amel kewalahan menghadapi Rosa.
"Rosa, sudah, malu diliat orang." Kata Rian menarik tangan Rosa. "Gak Yan, harus diberi pelajaran, didiemin ngelunjak." Teriak Rosa menepiskan tangan Rian.
Rian memeluk Rosa dari belakang. "Rosa, elo harus tenang, kontrol emosi elo." Bisiknya. Rosa mulai melunak tapi nafasnya masih memburu.
"Tarik nafas, hembuskan, elo tenang yach." Bisik Rian. Tanpa sadar Rosa mengangguk.
"Rian bener-bener bisa buat Rosa tenang." Kata Vivi. "Iya, emang dari dulu cuma Rian yang bisa mengatasi watak tempramental Rosa." Kata Retno.
"Tolong urus Amel kak, gue mau urus Rosa dulu, emosinya, belum sepenuhnya stabil." Kata Rian menepuk bahu Mimi.
Mimi hanya mengangguk dan mengajak Amel yang sudah babak belur oleh Rosa untuk di obati.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Di ruang panitia. "Elo itu Mel, berhenti buat masalah sama Rosa napa? Perasaan gak pernah berubah." Gerutu Mimi mengobati luka Amel.
"Kak Rizal? Mau ngobatin luka gue yach?" Kata Amel merangkul lengan Rizal ketika melihat Rizal masuk ke ruang UKS. "Lepas." Teriak Rizal menepis tangan Amel dan berlalu meninggalkan Amel.
"Sebenernya masalah elo sama Rosa itu apa sich?" Kata Winda.
"Gue benci Rosa Kak, Rosa itu slalu merampas apa yang gue punya dari dulu, sekarangpun dia mau merebut Kak Rizal dari gue padahal gue yakin banyak yang suka dia." Kata Amel.
Mimi tertawa. "Mengambil Rizal dari elo? Gak salah tuch? Emang Rizal milik elo? Kapan dia jadi milik elo?" Katanya.
__ADS_1
"Ya sebentar lagi, Kak Rizal itu gebetan gue dan sebentar lagi dia akan jadi pacar gue." Kata Amel.
Mimi tertawa. "Elo? Jadian sama Rizal?" Katanya. "Ngaca donk, elo itu bukan tipe Rizal." Sambungnya.
"Alah, bilang aja Kakak suka juga sama Kak Rizal kan?" Kata Amel.
"Gue? Suka Rizal? Klo itu bener udah dari kelas 1 kali gue pacaran sama dia." Kata Mimi.
"Elo mau liat?" Sini gue kasih tau." Sambungnya menarik tangan Amel.
"Tuch liat, apa Rizal peduli sama elo? Dia hanya peduli sama Rosa, elo fikir Rosa sama seperti kalian yang mencari ketenaran dari seorang Rizal? Gak sama sekali, Rosa sudah lebih dulu deket dengan Rizal sebelum dia masuk sini, bahkan dia gak tau klo Rizal adalah sosok yang tenar di sekolah." Sambungnya.
"Mereka di luar sekolah saling mendukung, Rosa sering memberi dukungan di saat Rizal lomba taekwondo dan begitupun sebaliknya, Rizal sering mendukung Rosa ketika Rosa lomba tari balet." Sambungnya.
"Rosa bisa balet?" Kata Winda. "Iya Win, Rosa dari kelas 3 SD ikut tari balet dan dia slalu jadi juara perwakilan si tempat kursusnya." Sambungnya lagi.
"Oh, berarti waktu gue liat Rosa pas kita tanding basket dengan anak SMP N 2 itu dia lagi memberi semangat dengan Rizal?" Kata Winda.
"Iyalah, memberi semangat siapa lagi? Yang dia kenal cuma Rizal, lah wong dia belmu masuk sekolah ini." Kata Mimi. "Jadi Mel, hapus semua impian elo untuk dapetin Rizal karna Rizal itu hanya milik Rosa dan Rosa hanya milik Rizal, cam kan itu." Kata Mimi menunjuk kening Amel dan meninggalkan Amel.
Amel mendengus sebal kemudian meninggalkan Winda dan Mimi di ruang panitia.
π₯π₯π₯π₯π₯
"Tuch di dalem, Rian sedang buatin coklat panas untuk Rosa, kami dilarang deketin dia karna kata Rian emosi Rosa belum stabil." Kata Vivi.
Rizal tersenyum. "Tenang aja Kakak bisa kok ngontrol emosinya." Katanya. "Iya Kak? Gimana caranya?" Kata Yoga.
"Rosa itu gadis yang tulus, orang tulus seperti Rosa dideketin dari sini." Kata Rizal menunjuk dada Yoga.
"Gue ngerti, Rosa itu di deketin dari hatinya, jadi klo kita udah deket di hatinya, kita bisa merdam emosinya." Kata Vivi.
" Anak pinter, tuch tau." Kata Rizal menepuk pucuk kepala Vivi dengan pelan. "Kakak masuk yach." Sambungnya.
πππππ
Di tenda. "Sa." Kata Rizal membelai pelan rambut Rosa.
Rosa yang berbaring kaget. "Kak Rizal. Katanya bangun dari pembaringan dan duduk.
Rizal tersenyum. "Udah mendingan?" Katanya. "Emang Rosa kenapa? Rosa gak papa kok." Kata Rosa.
"Kakak denger tadi elo berantem, mana yang sakit?" Kata Rizal menarik pelan tangan Rosa. Rosa meringis kesakitan.
"Tuch kan, Kakak pernah bilang, gak usah berantem, jadinya gini, sakit semua badannya." Kata Rizal.
__ADS_1
"Tapikan Amel yang mulai Kak, Rosa udah diem aja, tadi dia bener-bener kelewatan, jadi Rosa reflek." Kata Rosa pelan menundukkan kepalanya.
"Iya, kakak ngerti kok, Kakak percaya klo bukan elo yang mulai, Kakak cuma gak bisa liat elo terluka Sa, iya sekarang gak terlalu parah, besok-besok? Gak menutup kemungkinan elo akan terluka lebih parah kan?" Kata Rizal menatap Rosa.
Rosa balik menatap Rizal, dia menemukan kesungguhan dimata Rizal. Matanya mengerjap pelan tanda dia salah tingkah karna ditatap Rizal seperti itu.
Rizal tertawa. "Elo tuch ya gemesin tau." Katanya memencet gemas hidung Rosa. "Kaaak, sakit tau." Kata Rosa cemberut mengusap hidungnya.
"Gitulah Rosa Kak, berantem kuat, giliran udah luka semua ngeringis." Kata Rian tiba-tiba nongol.
"Elo tuch yach, udah kaya' jailangkung." Kata Rosa. Rizal terbahak. "Masa Rian dibilang jailangkung Sa." Katanya.
"Iyalah jailangkung, apa coba namanya klo bukan jailangkung tiba-tiba nongol, tiba-tiba ngilang." Cerocos Rosa tanpa titik koma yang membuat Rizal dan Rian tertawa.
"Kok ketawa? Apanya coba yang lucu?" Kata Rosa cemberut. "Elonya yang lucu klo ngomong gitu." Kata Rizal mengacak gemas rambut Rosa.
"Nich, gue bawain coklat anget, biar mood elo balik lagi." Kata Rian meletakkan secangkir coklat panas.
"Makasih Rian baik." Kata Rosa tersenyum menepuk pelan kedua pipi Rian.
Rizal tambah terbahak. "Elo itu sa, tambah gemesin tau." Katanya mengacak gemas rambut Rosa.
"Gue keluar takut ganggu yang lagi kasmaran." Kata Rian mengacak rambut Rosa dan keluar tenda.
Rizal dan Rosapun bercanda tawa bersama.
Tanpa mereka sadari teman-temannya melihat kedekatan mereka. "Rosa udah jadian sama Kak Rizal Vi? Kok deket banget gitu?" Kata Retno. "Iya yach." Kata Untari.
"Liatin apa sich?" Kata Rian ikut melihat ke arah yang di liat mereka.
"Rosa dan Kak Rizal jadian Yan?" Kata Vivi. "Iya, deket banget kaya'nya, seorang Rosa biasanya gak mudah sedeket itu sama orang." Kata Retno. "Bentar lagi kok, sekarang Kak Rizal pdkt dulu sama Rosa." Kata Rian.
"Pasti ini semua ada campur tangan dari elo kan?" Kata Vivi. "Iyalah, kalian itu udah gue anggap sodara sendiri, gak akan mungkin gue biarin ada cowok yang gak baik deketin kalian." Kata Rian.
"Elo Vivi, hati-hati dengan Firman, dia bukan cowok yang baik." Sambungnya menatap Vivi. "Apaan sich lo, gue sama Firman itu cuma temenan." Kata Vivi.
"Iya, sekarang temenan, bentar lagi dia nembak elo, sampe itu terjadi, akan gue buat dia percaya klo elo pacar gue sama seperti yang akan gue lakukan ketika Reihan nembak Rosa nanti." Kata Rian.
"Emang Reihan suka Rosa? Elo mau ngelakuin apa?" Kata Vivi. "Kita liat aja nanti." Bisik Rian mencondongkan tubuhnya ke arah Vivi.
"Dan elo Ret, klo suatu saat nanti Yoga nembak elo, diterima aja karna dia tulus sayang dengan elo sama seperti Kak Rizal sayang Rosa." Bisik Rian. Retno melotot. Rian tertawa meninggalkan mereka.
π·π·π·π·π·
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.
__ADS_1