
Menjelang subuh, Retno terbangun, dia kaget ketika melihat Rizal tidur ditenda. "Vi, vi, vi, bangun." Bisik Retno.
"Ada apa?" Kata Vivi mengucek-ngucek matanya.
"Liat tuch." Bisik Retno menunjuk Rosa yang sedang tertidur di pangkuan Rizal.
Mata Vivi membulat sempurna. Begitupun Untari yang terbangun karna berisik.
"Mereka jadian?" Kata Untari. Retno dan Vivi angkat bahu.
"Jangan dibangunkan dulu, kasian Rosa, dia baru jam 3 pagi bisa tidur, kalian siap-siap sana biar gak ketinggalan subuh berjemaah." Kata Mimi ketika Vivi mau membangunkan Rosa.
"Iya Kak." Kata Vivi. "Yuk, siap-siap, ntar ngantri." Kata Untari. Retno dan Vivi pun mengiringi Untari yang sudah duluan keluar tenda.
π¦π¦π¦π¦π¦
Rosa terjaga ketika mendengar suara mengaji dari musollah sekolah.
"Gue tertidur di pangkuan Kak Rizal semaleman?" Gumam Rosa dalam hati kemudian duduk menatap Rizal.
"Kak Rizal bener-bener terlihat manis ketika sedang terlelap seperti ini." Gumamnya lagi sambil membelai pipi Rizal.
Rizal terjaga ketika merasakan belaian di pipinya tanpa sadar memegang tangan Rosa yang berada di pipinya.
"Loh Rosa? Udah bangun?" Katanya menatap Rosa.
Rosa kaget mengerjapkan matanya tanda salah tingkah dan menarik tangannya.
"Maafin Rosa Kak." Katanya pelan menundukkan kepalanya.
"Loh untuk apa?" Kata Rizal.
"Udah bangunin Kakak." Kata Rosa pelan menundukkan kepalanya.
Rizal tersenyum mengacak gemas rambut Rosa." Gak papa kok, malah Kakak yang makasih udah di bangunin, heeem." Katanya menaikkan alisnya satu menatap Rosa.
Rosa cuma mau balikin ini." Kata Rosa meyodorkan jaket Rizal. "Makasih untuk malam ini." Sambungnya menatap Rizal.
Rizal balik menatap Rosa. Dia menemukan ada cinta di mata gadis itu untuknya.
Rosa menundukkan kepalanya kemudian pergi untuk bersiap-siap sholat subuh.
"Rosa, sepertinya cinta gue gak bertepuk sebelah tangan." Gumamnya dalam hati menatap kepergian gadis itu.
π΄π΄π΄π΄π΄
Ketika selesai mandi pagi. "Kenapa kepala gue? Kok pusing banget?" Gumam Rosa dalam hati memegang kepalanya.
"Kenapa elo Sa?" Kata Retno ketika melihat Rosa memegang kepalanya.
"Kepala gue, kepala gue sakit banget, tolong gue Ret." Kata Rosa memegang kepalanya dan tertatih berjalan.
"Awas hati-hati." Kata Vivi ikut membimbing Rosa.
__ADS_1
Baru beberapa langkah jalan tiba-tiba Rosa pingsan. Vivi, Retno dan Untari panik.
"Gue cari pertolongan." Kata Untari berlari mencari pertolongan.
"Iya buruan, setelah itu cari Rian, karna cuma Rian yang bisa mengatasi Rosa pingsan." Kata Retno.
Baru beberapa langkah jalan. "Nah itu Rian, kebetulan banget." Gumam Untati dalam hati.
"Riaaaan." Teriak Untari mengejar Rian.
"Kenapa lo, ngos-ngosan gitu? Ketemu setan di kamar mandi?" Canda Rian.
"Bukan, Rosa, Rosa pingsan, ayo buruan." Kata Untari menarik tangan Rian terburu-buru.
"Apa? Rosa pingsan?" Teriak Rian panik. "Dimana?" Sambungnya tambah panik.
"Di kamar mandi ayo buruan." Kata Untari menarik tangan Rian. Merekapun ketempat Rosa pingsan.
Rian langsung mengangkat tubuh Rosa dan membawanya ke ruang UKS disamping ruang panitia.
π³π³π³π³π³
Di ruang UKS. "Loh, kenapa Rosa Yan?" Kata Mimi ketika melihat Rian membopong Rosa.
"Pingsan Kak." Kata Rian. Tolong siapin tempatnya." Sambungnya.
"Ret, tolong bawa tas Rosa kesini, cek dalam tasnya ada gak minyak kayu putih, klo gak ada tolong minta Yoga atau Gavin beli sekalian beli pipetnya." Kata Rian.
"Gak usah kak, ditas Rosa kan masih ada, ntar kita aja beli roti sekalian beli sarapan, takut ntar Gavin dan Yoga salah beli roti." Kata Rian.
Retno membentuk jempol dan telunjuknya dengan huruf O tanda oke. "Yuk, temenin gue, klo yang Rian bilang tadi gak ada elo langsung cari Yoga atau Gavin untuk beli." Katanya menarik tangan Untari.
"Gue ikut yach." Kata Vivi. "Gak usah, elo temenin Rosa disini sama Rian, bukannya cuma kalian berdua yang bisa nenangin Rosa?" Kata Mimi.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Rizal bingung ketika masuk ruang panitia ada Rian dan teman-temannya.
"Ada apa ini? Kok rame banget." Katanya. "Rosa pingsan, itu Rian sedang berusaha menyadarkannya." Kata Mimi yang sedang membuatlan teh panas.
"Itu teh untuk siapa?" Kata Rizal. "Untuk Rosa, biasanya setelah siuman dia minta teh anget." Kata Mimi.
"Sini biar gue yang bawa, elo nerusin mimpin senam yach, tadi gue ngatur anak-anak senam." Kata Rizal. Mimi menyatukan jempol dan telunjuknya menjadi angka nol tanda oke.
"Udah sadar Yan?" Kata Rizal. "Belum Kak, ini lagi berusaha dibuat sadar." Kata Rian memijat mijat jari kaki Rosa pelan dengan minyak kayi putih.
"Vi, tolong deketin dihidungnya, biar tercium sama Rosa." Sambungnya memberikan minyak kayu putih.
"Harus gitu yach Yan caranya biar Rosa cepet sadar." Kata Rizal memperhatikan Rian.
"Iya Kak, ini pertolongan pertama ketika Rosa pingsan, Kakak harus bisa yach, klo Kakak jadi pacar Rosa, bisa meyadarkan Rosa ketika pingsan." Kata Rian.
"Emang Rosa sering pingsan?" Kata Rizal. "Iya Kak, ini pasti karna kurang tidur semalem dan tekanan darahnya turun." Kata Rian.
__ADS_1
βββββ
"Haus, Yan gue pengen minum, seperti biasa." Kata Rosa lemah tanpa membuka matanya karna pusing. Rian memberikan teh hangat dan pipetnya.
"Sepertinya udah hafal banget klo Rian yang ada disampingnya." Kata Rizal.
"Iya Kak, Rosa sudah biasa seperti ini dan memang slalu Rian yang ada disampingnya." Kata Yoga.
"Loh kalian disini semua? Gue kira cuma Rian seperti biasa yang nungguin gue pingsan." Kata Rosa ketika membuka matanya.
"Gak lah Sa, mereka juga slalu ada kok tiap elo pingsan, bedanya mereka itu yang nyari perlengkapan elo ketika elo sadar, kan elo banyak ritual biar cepet sadar dan banyak maunya klo sadar dari pingsan." Kata Rian.
Rosa cemberut. Rian tertawa mengacak rambut Rosa. "Gue beli sarapan, elo mau minta apa? Biasanya elo klo sakit gini kan cerewet sama makan." Katanya.
"Seblak, gue pengen seblak." Kata Rosa. Rian melotot. "Gak, gak, elo kan baru sadar, perut juga masih kosong." Kata Rian.
"Yach udah, klo gak boleh, gue pengen nasgor sea food di deket tempat kursus balet gue." Kata Rosa. Rian melotot. "Itu khan jauh Sa, yang lain aja." Kata Rian.
Rosa cemberut. "Elo ini gimana sich, tadi nawarin mau makan apa, giliran gue minta, gak boleh semua." Cerocosnya tanpa titik koma. "Ya gak yang jauh juga Sa." Kata Rian.
"Yach udah, klo gitu terserah lah mau di beli'in apa, gue mau tidur." Kata Rosa menutup mukanya dengan bantal.
"Aduh, ngambek lagi nich anak, bisa-bisa satu minggu gak ditegur." Gerutu Rian menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Sa, mau beli apa?" sambungnya berusaha membuka bantal yang menutupi Rosa karna di tahan Rosa dengan kuat. "Terserah." Teriak Rosa masih dari bawah bantal.
"Iya, iya, ntar gue beli'in." Kata Rian. Rosa bangun dari tidurnya. "Bener Yan, makasih, Rian baik dech, jadi tambah sayang." Kata Rosa memukul pelan kedua pipi Rian. "Ada aja maunya, gue dibilang sayang." Gerutu Rian.
Rizal tersenyum menatap Rosa dan Rian yang sedang berinteraksi membujuk Rosa tentang makanan.
"Rosa, elo bener-bener gadis yang manis ketika ngambek gitu, gue jadi tambah gemes liat elo gitu, rasa gak sabar untuk memiliki elo." Gumamnya dalam hati.
"Titip Rosa Kak, gue pergi dulu." Kata Rian. Rizal hanya mengangguk.
"Titipan gue, jangan lupa." Kata Rosa." Iya bawel." Kata Rian.
"Janji." Kata Rosa menyodorkan kelingkingnya dengan Rian. "Iya janji." Kata Rian menautkan kelingkingnya dengan kelingking Rosa kemudian menyatukan jempol mereka dan bersalaman.
"Jangan rewel, kasian Kak Rizal." Kata Rian mengacak rambut Rosa. Rosa mendelik. Rian tertawa kemudian meninggalkan Rosa dan Rizal.
πππππ
Rizal tersenyum menatap Rosa. "Kenapa liatin Rosa gitu?" Kata Rosa bingung.
"Elo itu lucu, apa lagi klo lagi ngambek sama Rian kaya' tadi, gemesin tau." Kata Rizal.
Rosa cemberut. Rizal tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Kakak suapin yach bolunya sambil nunggu sarapan dari Rian." Katanya.
Rizalpun menyuapi Rosa sambil bercanda tawa.
πππππ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, vote dan tekan bintang lima. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.
__ADS_1