
Semilir angin melewati segerombolan anak-anak yang tengah melayangkan pedang kecil mereka yang terbuat dari kayu. Suara gelak tawa dengan suara semangat latihan bergabung menjadi satu. Dilihat dari mata burung, keindahan alam yang mengelilingi tempat, tepatnya desa itu sangatlah indah. Seperti udaranya yang sejuk dengan angin yang berhembus lembut di sana dan juga bisa menjadi angin badai yang menghantam serta membuat kehancuran bagi siapapun yang dilewatinya. Begitu juga dengan sikap warga desa angin itu.
"Ayah." Panggil seorang pemuda bermanik biru dengan tubuh yang begitu gagah.
"Mahendra, kau sudah datang." Seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang masih kekar dan juga memiliki wajah yang tampan, keduanya memilih kemiripan yang luar biasa, hanya berbeda di manik mata saja.
"Ia ayah, aku baru saja datang. Ayah sepertinya terlalu sibuk, sehingga tidak mendengarkan langkah kaki ku." Balas Mahendra yang mendaratkan bokongnya.
"Hahaha, tidak juga. Kebetulan ada beberapa laporan dari warga, jadi ayah harus selesaikan." Ayah Mahendra yang bernama Narendra itu ikut duduk di sebelah putranya.
"Apa, begitu banyak? Mungkin aku bisa membantu." Balas Mahendra sambil melirik ke ruangan yang berisi kertas laporan.
"Tidak, Ayah bisa menyelesaikan nya. Bagaimana dengan latihan mu?" Tanya Narendra pada putra semata wayangnya.
"Baik Ayah, aku baru saja meningkatkan ilmu kilat petir ku." Ujar Mahendra yang membuat senyum ayahnya terbit seketika.
"Bagus, putraku memang hebat. Teruslah berlatih." Narendra bangkit dari kursinya dan melihat itu, Mahendra ikut bangkit sehingga membuat ayahnya menoleh.
"Ada apa?"
"Ayah, kapan akan melatih ku untuk membuka sinar tubuhku??" Tanya Mahendra yang tak sabaran.
"Belum lagi, akan ada waktunya. Sekarang latih dulu kilat petir mu." Wajah Mahendra sedikit cemberut karena ucapan ayahnya, sungguh ia sangat tidak sabaran.
Mahendra,seorang pemuda gagah yang berasal dari desa angin. Ia lahir dari keluarga terpandang, ayahnya yang seorang kepala desa, hidup bersama dengan warga yang bernilai budi tinggi membuat karakter Mahendra begitu berbudi.
Suara gelak tawa anak-anak membuat Mahendra menoleh ke luar rumahnya. Ia tersenyum melihat warga desa yang begitu bahagia, damai serta suasana desa yang tentram karena kepemimpinan ayahnya.
"Kak Mahendra!" Terdengar suara panggilan dari sosok kecil berwajah tampan berkulit sawo matang yang mendekati Mahendra.
"Lou, kakak tidak tahu kau sudah kembali." Ujar Mahendra melihat sosok kecil bernama Lou itu.
"Itu, karena Kakak sibuk latihan. Jadi tidak melihat kedatangan ku." Siapapun begitu menjadi Mahendra selain wajah yang tampan, memiliki sikap yang baik juga penyayang dan kelebihan lainnya. Membuat dirinya menjadi digilai banyak orang bukan hanya anak-anak tapi juga para gadis.
Suara malam mulai datang dan membuat anak-anak segera masuk ke dalam rumah mereka, kegiatan yang hampir seharian dilakukan di luar, sekarang berganti dengan kehangatan rumah berangkat keluarga mereka. "Bukankah, sebentar lagi akan datang malam cahaya?" Ujar salah satu teman Mahendra yang berkunjung ke rumahnya.
"Ah iya, benar sekali. Kau akan ikut berburu kan Mahendra?" Ujar yang satunya membuat Mahendra terdiam sejenak sambil melirik ayahnya yang baru saja keluar dari kamarnya. Seolah mengerti pandangan putranya, Narendra mengangguk.
"Tentu saja, kalian akan melihat hal luar biasa ketika pergi." Ujar Narendra pada beberapa pemuda itu.
"Bagaimana Mahendra?" Tanya temannya yang sudah menunggu.
"Iya, kita berangkat." Balas Mahendra dengan mantap.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di balik gelapnya malam yang tidak tertembus oleh sinar rembulan, sekelompok orang berjubah hitam tengah berkumpul sampul melihat bola cahaya itu. "Kita serang Tuan?" Tanya salah satunya.
"Tentu, kita jalan sekarang!"
Tak lama,sekelompok berjubah hitam itu hilang secepat mungkin. Suara gelak tawa masih mengisi sebuah ruangan dengan hiasan gelap serta cahaya yang begitu temaram. "Lihatlah Narendra! Sebentar lagi, kepemimpinan mu akan ku tumbangkan!" Ujarnya sambil melirik ke jendela yang disinari oleh cahaya bulan.
Kembali lagi dengan rumah Narendra. Tatapan mata itu seolah mengisyaratkan sesuatu yang membuat Narendra tersenyum. "Ada yang menganggu mu nak?" Tanyanya pada Mahendra.
"Ayah, aku merasa sinar cahaya bulan kali ini terlihat berbeda." Ujarnya sambil melihat penguasa malam ini.
"Berbeda apanya? Mungkin .... Karena kau akan segera pergi ke perburuan." Jawab Ayahnya dengan senyuman.
"Tidak, aku merasa sangat berbeda." Kekeh Mahendra.
"Jangan berpikir hal buruk, apa persiapan mu sudah selesai?" Terlihat Narendra melihat peralatan putranya untuk berburu.
"Sudah, aku sudah membawa peralatan. Lihatlah, bagaimana dengan ini?" Ujar Mahendra sambil mengangkat sebuah panah yang terbuat dari perak.
"Itu bagus sekali, pasti akan langsung menghunus buruan dengan tepat." Narendra berujar sambil melirik anak panah itu yang berkilauan terkena sinar rembulan.
"Ayah membuatkan mu makanan selama perjalanan, lihatlah!" Mata Mahendra langsung berbinar melihat sajian makanan yang berada dihadapannya.
"Wah! Ayah yang terbaik!" Mahendra langsung memeluk tubuh ayahnya yang tegap dan keduanya asyik berpelukan.
Meskipun ada keraguan, Mahendra akhirnya meninggalkan desa angin, suasana kembali seperti semula. Bahkan Narendra kembali ke ruangannya, ia melihat pedang miliknya yang terpajang dengan sarung emas. "Perasaan apa ini?" Ujarnya sambil melihat ujung pedangnya yang terlihat berkilau.
"Bagaimana?" Tanya pria itu.
"Mereka dalam perjalanan." Sahutnya.
"Lama sekali, aku sudah tidak sabar! Aku ingin membuat Narendra hancur!" Dengan wajah penuh kebencian serta nada bicara yang sudah tidak bersahabat.
Ia bahkan mengepalkan tangannya ke meja kayu miliknya, hingga terlihat retakan di sana. Sedangkan sosok yang berada di belakangnya masih terdiam tidak berani berucap.
"Ayah!" Panggilan itu membuat ia menoleh.
"Kau baru datang?" Tanyanya yang langsung diangguki oleh sosok yang memanggil tadi.
"Iya ayah, apa dia sudah pergi?"
"Baru saja, bagaimana?"
"Baik ayah dan juga lancar. Tapi ada sedikit masalah." Wajah yang tadinya terlihat senang langsung berubah seketika mendengar kata terakhir.
__ADS_1
"Masalah apa?" Tanyanya dengan cepat.
"Tadi, hampir saja ketahuan ayah. Untung saja, aku berhasil mengelak."
"Dengar Shu, kau harus hati-hati! Kita tidak bisa berbuat banyak sebelum mereka datang." Pria bernama Shu itu mengangguk cepat.
"Baik ayah. Tapi ayah tenang saja, mereka sepertinya tidak curiga. Aku ini pintar!" Ia membalas dengan nada yang tinggi dan wajah yang sombong.
Adegan itu membuat sosok tadi bergumam dalam hatinya. 'Dasar, anak dan ayah sama saja! Kalau bukan karena uang dan juga keselamatan keluarga ku. Aku tidak mau melakukannya!'
"Tuan Narendra!" Panggilan itu membuat Narendra yang sedang sibuk, langsung menoleh ke arah pintu.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Pedang yang dua minggu lalu kita pesan, sudah datang tuan." Balasnya.
"Baiklah, aku aku melihat dan setelah itu kita letakkan di gudang penyimpanan."
"Baik Tuan."
Siangnya, para warga terlihat berkumpul, berlatih dan bicara berbagai topik. Sedangkan di sisi lain sekelompok berjubah hitam itu sudah mendekati perbatasan desa. "Tuanku, kita hampir sampai."
"Bagaimana dengan pria pengkhianat itu?"
"Dia sudah menunggu kita tuanku."
"Dia adalah pion kita." Ujarnya sambil melihat suasana desa yang begitu tenang dan matanya menangkap sinar dari Sistem pelindung desa.
"Baiklah, mari kita hancurkan sistem ini sesuai ucapan pion kita." Sekarang tangannya menjulur keluar dari jubahnya, tampak mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu hingga kedua tangannya mengeluarkan sinar. Cahaya berwarna hitam keabuan itu mulai terpancar dan ia segera mengarahkan tangannya ke sistem pelindung desa dan....
Crack! Crack!
"Tuan kita berhasil!" Ujar sosok dibelakangnya.
"Hancurlah kau!" Dan sistem pelindung berbentuk lingkaran dengan cabang itu akhirnya retak dan hancur lebur, senyuman jahat terbit dari semua sosok berjubah hitam itu.
"Desa angin, sekarang berada digenggaman ku! Ayo masuk semuanya!"
Suasana yang terlihat tenang sepertinya biasanya langsung menjadi dingin dan tak lama sebuah badai datang dengan disertai udara hitam dan sekelompok berjubah hitam. "Serang mereka!"
"Desa di serang!"
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.