Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah

Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah
Tak Terelakkan


__ADS_3

Anak-anak yang tadinya bahagia penuh tawa, sekarang menjadi takut akan kedatangan sekelompok berjubah hitam yang memasuki tanah desa mereka. Warga yang terdiri dari pria yang berusia 30 tahunan berdiri menjadi perisai akan kedatangan sekelompok berjubah hitam. "Siapa kalian? Kenapa bisa memasuki desa kami?" Tanyanya dengan penuh selidik sedangkan sosok yang ditanyakan menampilkan senyum jahatnya dan ....


Splash! Para pria tadi terkena sinar dari tangan pria berjubah hitam itu.


"Aaaaaa!!!" Para anak-anak mulai ketakutan karena melihat hal seperti itu, darah mulai mengalir dengan rasa sakit akibat serangan sihir berjubah hitam.


"Serang mereka!" Pertempuran tidak dapat dielakkan, para warga mengeluarkan kemampuan mereka, yang mereka ketahui sekarang dalam benak masing-masing, kawanan berjubah hitam ini bukanlah sembarangan.


Sedangkan suara teriakkan yang mulai memggema dan berlari membuat Narendra terkejut bukan main. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanyanya pada seorang warga yang berkeringat deras dengan wajah yang ketakutan.


"Lapor Tuan, desa kita diserang!" Lapornya yang membuat Narendra segera keluar menuju pintu masuk desa. Dan betapa terkejutnya ia melihat warganya yang kalah telak.


"Tuan, mereka sepertinya mengetahui rahasia desa kita, mereka ....'


"Mereka berhasil menembus pertahanan sihir keamanan desa." Ujar Narendra yang menatap kawanan berjubah hitam itu.


Sringg! Melihat serangan sihir yang melawan sihirnya, pria berjubah itu, langsung melihat ke belakang dan tak lama ia tersenyum. "Wah, lihat pemimpin desa sudah keluar. Tapi .... Bagaimana dengan kejutan dariku?" Wajah Narendra langsung berubah mendengar ucapan pria berjubah hitam itu.


"Bagaimana bisa kau menembus pertahanan sihir desa?" Sekarang tangan pria berjubah hitam itu mengangkat pertanda pertempuran dihentikan, terlihat begitu banyak warga desa yang kalah membuat hati Narendra tersayat.

__ADS_1


"Kau sangat penasaran sekali? Kau benar-benar tidak bisa diremehkan? Bahkan kau langsung bertanya poin yang terpenting." Terlihat senyum devil itu masih terpajang sempurna.


"Kalian kelompok Hitam, kalian tidak tinggal atau berasal dari sini, dan tentunya tidak mengetahui sihir pertahanan desa angin. Itu artinya ...."


"Ada salah satu wargamu yang menjadi pengunjung dan menawarkan kerjasama, jadi bagaimana aku bisa menolaknya?" Sekarang keduanya saling berhadapan.


"Mencari ku Narendra?" Narendra langsung melihat ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat pengunjung yang dimaksud, begitu juga dengan warga desa.


"Yun!"


"Bagaimana kejutan ku? Memukau bukan? Kau bahkan tidak percaya."


"Karena dirimu lah! Kau tidak menyadarinya? Kau terlalu lama memimpin dan memperlihatkan kepada warga sikap kebijaksanaan memuakkan mu itu!"


"Kau berniat menjadi pemimpin, tapi kau tidak memiliki rasa saat melihat warga desa yang terkena imbas karena ulahmu?"


"Sebaiknya kita hentikan ini. Dan kau tidak lupa kan?" Sosok berjubah hitam itu melihat Yun dan saling bermain mata dan Narendra tentu merasakan sesuatu yang buruk, ia sudah beruap mengambil ancang-ancang untuk melawan dan ....


Slingg! Splash!

__ADS_1


Sihir terus keluar dan saling menyerang, melihat kekuatan dari Narendra yang tidak bisa diremehkan membuat pemimpin kelompok Hitam langsung mengeluarkan kebusukannya. "Aghhhh!" Narendra berteriak saat diserang dari belakang membuat tubuhnya yang mengalirkan sihirnya menjadi terkejut dan mengakibatkan luka dalam.


"Tuan!" Warga desa berteriak melihat itu, mereka tidak dapat berbuat apa-apa sekarang, karena kelompok Hitam yang menguasai.


"Bawa dia ke tempat istimewa!" Narendra yang terluka tidak dan melakukan perlawanan karena luka dalamnya.


"Aghhhh!" Suara Mahendra yang kaget akibat pergerakan jarumnya yang salah sasaran membuat ibu jarinya terluka.


"Ada apa? Astaga! Ayo, ku obati." Tapi Mahendra seolah tuli karena perasaannya yang aneh.


"Kau merasakan sakit? Mahendra? Mahendra!" Ia terkejut akan suara keras itu.


"Aku merasa aneh, dadaku juga tidak enak, berdebar kencang seolah ada sesuatu." Mahendra berbicara menerawang sambil memegang dadanya.


"Kita kembali ke desa!"


Bersambung .....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2