
Mahendra terduduk di depan rumah, Rosalina yang baru saja selesai mandi. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rosalina membuat Mahendra sadar sudah ada wanita bunga itu.
"Aku sedang memikirkan sesuatu saja."
"Berkaitan dengan perjalanannya kita bukan?"
"Hmmmm."
"Tapi .....
"Apa?" Tanya Rosalina
"Tidak ada." Entah mengapa, Mahendra tidak ingin mengatakan pada Rosalina mengenai pertemuan dia dengan sosok kakek dan pembicaraan mereka apalagi dengan permintaan Kakek tersebut.
"Jika kau ingin tahu di mana letak pedang ruby merah itu, maka kau harus bantu aku."
"Bantu apa kek?" Tanya Mahendra.
"Aku ingin kau membantuku mengambil seruling ku yang tertimbun di dasar sungai." Entah mengapa Mahendra merasa belum yakin antara percaya dan belum percaya mengenai Kakek ini.
"Bagaimana sekarang? Apa aku ....
"Hei nak!” Mahendra yang tengah asyik berpikir dikejutkan dengan kepala desa buji begitu juga dengan Rosalina.
"Ada apa Paman?" Tanya Mahendra
"Apa kau lupa kalau aku meminta mu membantu ku?" Mahendra merasa bingung, tapi setelah melihat tatapan kepala desa yang seolah kode Mahendra langsung mengerti.
"Oh ya.... Aku lupa, kalau begitu. Rosalina aku pergi dulu sebentar." Rosalina hanya mengangguk setuju dan Mahendra langsung melangkah menjauh bersama kepala desa.
"Aku mendapatkan kabar, bahwa kau berbicara dengan Kakek gila itu." Ucap kepala desa membuat Mahendra terdiam berfikir.
"Apa ada masalah?" Tanya Mahendra.
"Jauhi dia!" Mahendra sedikit kaget dengan ucapan kepala desa ini.
"Kenapa, kalau boleh tau?"
__ADS_1
"Ia itu aneh dan gila. Sejak kejadian itu....
Mendengar ucapan kepala desa yang terhenti membuat Mahendra tidak bertanya lebih lanjut lagi. Tak ada lagi pembicaraan, Mahendra melihat kepala desa tersebut pergi meninggalkan dirinya di malam yang dingin ini.
Semalaman Mahendra berfikir, apa yang harus ia ambil. Di satu sisi penduduk ini tidak ada yang tau, hanya kakek yang dianggap gila itu saja yang bisa membuatnya meskipun masih ada keraguan.
Keesokan harinya, Mahendra langsung menuju sungai yang dikelilingi hutan. Ia yakin kakek itu ada di sini dan setelah berjalan memutari hutan ini. Benar saja, ia melihat kakek itu tengah duduk bersila menatap kumpulan bunga teratai yang masih belum mekar. "Aku senang kau datang!" Mahendra merasa Kakek ini memiliki ilmu sihir atau bela diri.
"Jangan kaget begitu. Duduklah di sini, aku akan menjelaskan yang ingin kau ketahui. Bukankah begitu? Atau kau sama seperti penduduk desa yang berfikir aku gila atau aneh?" Mahendra masih diam tidak bergeming.
"Baiklah." Mahendra duduk dan sebuah senyum terbit dari wajah tua itu.
"Jadi bagaimana?" Mahendra sedikit kebingungan.
"Apanya kek?"
"Keputusan mu? Kau membantuku kan? Aku tidak ingin memberitahukan informasi tanpa ada imbalan."
"Aku akan membantu kakek."
"Hahahaha! Anak muda." Tawa kakek itu menggelar membuat sungai beriak.
Sedangkan di sisi lain, Rosalina yang tengah bermain dengan elang emas baru menyadari keberadaan Mahendra yang entah kemana. "Kemana dia?" Seolah menyadari kebingungan Rosalina, elang tersebut memberikan isyarat untuk menaikinya.
"Ide yang bagus! Kau pintar sekali!" Rosalina mengelus kepala elang itu dan membuat sang pemilik senang dan membawa Rosalina terbang mencari Mahendra.
Terdengar suara air yang baru saja dimasuki oleh sesuatu, terlihat tubuh gagah baru saja menyebur dan menyusuri sungai tersebut Hingg kedalam. Awalnya terlihat indah dengan ikan serta bunga atau akar kecil yang menghiasi nya ditambah dengan sinar matahari yang mulai masuk. Tapi, saat Mahendra semakin masuk, cahaya tidak dan menembus dan sekarang hanya kegelapan.
"Aku hanya perlu menemukan gua nya!" Jelas Mahendra sambil terus menyelam ke dalam dan tak lama ia melihat sebuah lubang yang tidak terlalu besar, dengan cepat ia masuk dan setelah menelusuri cukup dalam. Ia dikejutkan dengan sebuah bunga teratai yang besar dan bersiap menelan apa saja.
Mahendra terlihat berfikir keras akan hal ini, ia menajamkan matanya dan langsung bekerja. "Itu seruling nya!" Mahendra langsung mempercepat gerakannya, saat tangannya akan mengambil seruling itu. Ia dikejutkan dengan sebuah ekor yang melintas di hadapannya.
"Apa itu?"
Sebuah ekor berwarna hijau gelap mengitari dirinya yang, Mahendra tengah mencari pemilik ekor tersebut dan matanya menangkap sosok cantik dengan tubuh yang menggoda seperti wanita seksi. Rambutnya berwarna hijau lumut dengan gunung kembarnya yang hanya ditutupi oleh sesuatu yang berbentuk bunga di sana.
"Wah, ada manusia tampan. Berani sekali kau masuk dan mengambil milikku!" Suara mahluk seperti manusia ikan ini sangat lembut, tapi tatapannya sangat tajam.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku mengambil barang milik kakek ku." Balas Mahendra, tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya terduduk di sebuah batu yang ada di sana.
"Begitu ya? Tapi Gryva tidak suka ada yang datang." Ujarnya, ia berenang mendekati Mahendra yang perlahan terlentang karena ulahnya sedangkan Mahendra yang paham hanya diam untuk sementara.
"Tampan." Itulah deskripsi yang digambarkan oleh Gryva.
"Aku akan menyambut kedatangan mu di sini." Mahendra merasakan ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi dan benar saja, perlahan bunga teratai raksasa tersebut bangun dan daunnya menjalar ke tubuh Mahendra perlahan.
"Kau tau, tidak ada warga yang berani masuk ke sini bahkan berenang di atas pun tidak! Tapi kau......
"Aku hanya.....
"Hmmmm." Manik mata kuning kehijauan tersebut menatap mata biru Mahendra.
"Mata yang indah, kau juga tampan." Mahendra risih dengan makhluk ini.
"Aku tidak berbuat buruk. Aku hanya mengambil seruling itu saja dan pergi." Mahendra berusaha menjelaskan.
"Kalau begitu jawab pertanyaan ku dengan benar. Hanya satu saja, kalau kau berhasil aku biarkan pergi tapi kalau tidak kau akan tinggal disini bersamaku dan menjadi pelayan tampan ku. Bagaimana?" Meskipun Mahendra yakini ada jebakan di sini tapi ia tak memiliki pilihan lain.
"Baik!" Jawaban Mahendra membuat Gryva tersenyum senang.
"Apa yang bersinar tapi tidak bisa meredup?" Mahendra berfikir sejenak sementara Gryva terus tersenyum genit dari meraba tubuhnya yang mulai terekspos karena pakaian perlahan hancur karena daun teratai raksasa.
"Kebaikan!" Jawab Mahendra yang membuat gerakan daun itu terhenti.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Siapapun yang memiliki kebaikan dalam dirinya tentu akan terpancar dan bersinar dari dalam. Selama kebaikan itu masih ada, maka dunia akan terang dan terhindar dari keburukan yang gelap."
"Kau pintar juga." Mahendra lega mendengarnya.
"Aku berhasil kan?"
Tak lama terdengar suara yang bergema di dalam sana, entah apa yang terjadi.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.