
Mahendra segera memacu kudanya agar segera sampai di desa angin. Sedangkan teman-temannya hanya diam mengikuti dengan seribu tanda tanya. Sungguh Mahendra merasakan hal yang aneh pada perasaannya seolah ada yang terjadi.
Suasana di desa sudah begitu kacau, Narendra begitu kacau dengan tubuhnya yang diikat dengan sihir hitam. Beberapa pria tertawa melihatnya tak terkecuali si Yun yang begitu bahagia membuat Narendra seperti ini, ia begitu tega mengkhianati desanya hanya karena masalah pribadi.
"Bagaimana rasanya Narendra?" Tanyanya mendekat pada tubuh Narendra yang dialiri darah dan luka.
"Kau sungguh bukan manusia!" Itulah kata-kata yang terlontar dari bibirnya.
"Sudah begini masih songong!"
Ctarrr! Ctarrr!
Terdengar suara cambukan dengan sihir hitam yang membuat tubuh Narendra tersentak dan mengeluarkan darah segar. "Kau akan mendapatkan pelajaran yang bagus di sini sehingga membuat mu sadar akan posisi mu. Mari kita lihat, siapa yang akan menolong mu? Apakah putramu itu? Bahkan ia tidak bisa menggunakan sihir aslinya!"
Mendengar hal itu Narendra hanya tersenyum dengan bibirnya yang pucat. Hal itu tidak luput dari pandangan sosok berjubah hitam itu. "Bagaimana kalau kau mengurus pemberontak di sana. Bukankah mereka adalah setanah air mu?" Ujarnya pada Yun.
"Ah, ya. Aku lupa. Baiklah." Dengan segera Yun meninggalkan Narendra yang sudah ia cambuki. Mata Narendra masih bisa menangkap sosok berjubah hitam itu mendekat padanya.
"Kau sepertinya memiliki sesuatu. Mari kita lihat, apa itu." Dan tak lama terlihat kumpulan cahaya dari tangannya dan segera mengarah pada wajah Narendra dan tak lama hanya diam terdengar teriakkan yang begitu nyaring.
Suara langkah kuda, membuat Mahendra segera turun dan melihat ke arah padang yang berisi rerumputan. "Ada apa Mahendra? Kau tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang." Tanya pria dengan pedang di tangannya.
__ADS_1
"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi. Rasanya sesak sekali. Aku harap tidak terjadi sesuatu pada Desa." Balas Mahendra dengan tatapan yang masih menatap Padang rerumputan itu.
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Bukankah ini pertama kalinya kau ke meninggalkan desa?" Sahut temannya yang lain.
"Tidak, ini lain." Kekeh Mahendra dan mereka lanjut berjalan kaki sambil menggiring kuda mereka. Karena hari sudah gelap tidak memungkinkan mereka untuk melewati jalan yang seperti biasanya menuju desa.
Ketiga pemuda gagah itu terheran-heran saat melihat keadaan desa yang gelap gulita. "Ada apa ini? Bukankah seharusnya desa disinari cahaya?"
"Benar, kenapa begitu gelap?" Mahendra memicingkan matanya lebih tajam dan ia merasakan ada yang salah di desa.
"Ini bukan sinar cahaya kita. Ini ...."
"To-lo-ng!" Samar-samar mereka mendengar suara teriakkan dari balik semak belukar yang begitu gelap.
"Seperti ....."
"Tolong!" Sekar mereka mendengar lebih jelas dan ketiganya langsung menuju ke arah suara dan betapa kagetnya mereka saat melihat pria yang begitu lemah karena tubuhnya dipenuhi oleh luka.
"Paman An!" Sentak ketiganya sembari mendekatkan diri.
"Paman apa yang terjadi? Ada apa denganmu?" Mahendra segera meletakkan kepala pria itu di pahanya.
__ADS_1
"Kelompok hi-tam men-ye-rang!" Ujarnya dengan terbata-bata.
"Mereka meng- mengambil alih de-desa." Hal itu membuat ketiganya terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa? Bukankah sistem keamanan desa tidak bisa ditembus?" Sahut yang lain.
"Ada penghianat!" Mahendra langsung berucap yakin. Dan hal itu langsung diangguki oleh Paman An.
"Sihir keamanan desa tidak bisa ditembus begitu saja. Kecuali ada seseorang dari desa sendiri yang memberitahukan nya." Mahendra adalah pemuda yang pintar, ia sering melihat bagaimana ayahnya membuat sistem sihir keamanan desa yang begitu rumit dan memiliki kode sihir tertentu yang tidak mungkin diketahui oleh sembarang orang.
"Paman, aku akan menyembuhkan mu." Mahendra segera mengeluarkan sihir penyembuh nya pada tubuh Paman An, tapi terlihat tidak ada perubahan membuat Mahendra terpaku.
"Apa ini? Kenapa tidak ada perubahan?" Tanyanya dengan kebingungan.
"Dengar Mahendra, aku tidak punya banyak waktu, sihir hitam bukanlah tandingan mu. Kau harus belajar banyak lagi. Aku ingin mengatakan, temui ayah mu segera dan ....." Perkataan Paman An yang lancar itu terputus seketika karena luka nya terbuka begitu saja membuat ketiga pemuda itu kaget dan kembali mengeluarkan sihir penyembuh bersama, tapi tidak bereaksi apapun bagaikan minyak dan air.
"Jangan berkata begitu Paman. Kami akan menyembuhkan mu!"
"Itu hanya buang tenaga saja. Aku mungkin harus pergi."Terdengar suara Paman An semakin melemah dan tak lama tangan yang dipenuhi oleh darah itu mengeluarkan sebuah batu kecil bewarna perak.
"Ini akan berguna nanti. Simpanlah." Tak terlihat oleh keduanya karena sibuk dibagian tubuh depan Paman An, Mahendra menggenggam nya dan tak lama deru napas tak terdengar lagi tangan itu pun jatuh dengan ringannya membuat ketiga pemuda itu memejamkan matanya dan
__ADS_1
"Akhhkkk!" Mahendra berteriak ditengah ladang hijau yang gelap diselimuti oleh kegelapan saat ini.
Bersambung ....