Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah

Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah
Barat


__ADS_3

Rosalina dibantu dengan Kakek tersebut mengangkat tubuh kekar Mahendra yang terapung dipermukaan air. Beberapa kali wajahnya ditepuk dan akhirnya Mahendra tersadar. "Syukurlah, kau sadar juga." Rosalina bernapas lega melihatnya.


"Rosalina kau.... Aku..."


"Kakek! Aku bersiap mendapatkannya!" Rosalina cukup terkejut dengan Mahendra yang bersemangat sambil mengeluarkan seruling.


"Kau berhasil! Aku tidak salah percaya memang padamu." Dia segera mengambil seruling tersebut dan memainkannya. Terdengar bunyi yang begitu merdu dan menenangkan.


Tak lama, bunyi seruling tersebut membuat dedaunan menyentuh tanah dan angin seolah menari di sana membuat Mahendra dan Rosalina kagum. "Apa itu kekuatan nya?" Tanya Rosalina.


"Sepertinya begitu, aku belum pernah melihatnya."


"Aku sangat merindukan seruling ku dan nadanya. Terima kasih anak muda, seperti janjiku aku akan mengatakan di mana kau bisa memulai pencarian mu." Mahendra tak sabar rasanya.


"Sama-sama Kek."


"Tempat itu dikelilingi oleh dataran pelangi dan ditumbuhi oleh tanaman kehidupan serta air yang menyejukkan, tapi bagi mata orang-orang tempat itu hanyalah dataran mati." Rosalina terdiam mencerna perkataan kakek tersebut.


"Lalu bagaimana caraku melihatnya?" Tanya Mahendra membuat suara kekehan itu keluar.


"Kau memiliki sesuatu, tapi kau tidak menyadarinya. Pertama kau harus menemukan dataran yang ku maksud, dan setelah itu kau akan bisa melihatnya. Tanpa kau duga."


Setelah mengatakan itu, Kakek tersebut pergi meninggalkan Mahendra dan Rosalina.


"Tunggu! Setidaknya beritahu di mana wilayahnya....

__ADS_1


"Ah ya, aku lupa. Pergilah ke arah barat, itulah gerbangnya. Dan aku berharap, ini bisa membantu." Mahendra menangkap sebuah benda hijau berbentuk lingkaran yang kecil.


"Apa ini?" Tanya Rosalina.


"Kita pergi, tidak perlu membuang waktu lagi." Mahendra bangkit.


"Tunggu!" Ucap Rosalina membuat Mahendra terhenti.


"Apa lagi?" Tanyanya tidak sabaran.


"Kau yakin? Maksudnya, bisa saja ia berbohong padamu untuk kepentingannya sendiri. Kau lupa perkataan warga di sini, dia itu.....


"Tidak ada salahnya mencoba, daripada tidak sama sekali. Bagiku sekecil apapun adalah informasi yang berguna dan segera diselesaikan. Aku tidak punya banyak waktu." Setelah mengatakannya Mahendra segera menuju elang emas miliknya, Rosalina yang masih diam menghela napasnya dan tak lama segera menyusul Mahendra.


"Sebaiknya kita pamit terlebih dahulu, apa yang akan warga pikirkan nanti." Saran Rosalina.


"Kau benar, aku lupa. Kita pamit terlebih dahulu." Keduanya turun dan segera menemui kepala desa, semua warga berkumpul dan tak lama mengantarkan kepergian Mahendra.


"Semoga berhasil dan sampai jumpa." Ujar si kepala desa.


"Terimakasih sudah mau menerima kami." Ujar Mahendra dan Rosalina.


Tak lama mereka langsung pergi menuju barat, sepanjang penerbangan, tidak ada percakapan khusus selain berfikir tempat yang akan dituju.


"Aku pernah dengar daerah barat adalah pusat perdagangan." Ujar Rosalina.

__ADS_1


"Begitu ya, kita bisa berkeliling nanti."


"Ngomong-ngomong, apa elang ini bisa mengecil setidaknya kita tidak sulit karena ukurannya." Saran Rosalina.


"Entahlah, apa bisa?" Seolah tahu dia sedang dibicarakan membuat elang itu mengeluarkan sebuah cahaya dan terlihat sebuah kalung yang berada di tangan Mahendra.


"Apa kita masukkan dia di sini?"


Aak! Aak! Sahut elang emas itu.


"Aku rasa iya, dia hewan sihir pasti memiliki kekuatan." Langit terlihat mulai gelap seiring mereka sampai, Mahendra dan Rosalina turun di sebuah ladang yang tidak jauh dari rumah penduduk.


Kalung yang berwarna emas itu mengeluarkan sinar dan menyerap elang tersebut dan ia masuk ke sana. "Begini lebih baik." Ujar Rosalina.


"Ayo kita masuk." Mereka langsung disambut oleh gerbang besar dan bercahaya. Terlihat wilayah itu terang serta ramai dengan penduduk yang masih beraktivitas.


Sepanjang perjalanan mereka terus dilihat oleh orang lain yang membuat Rosalina bingung. "Apa yang mereka lihat? Kita seperti orang aneh?"


"Sepertinya pakaian kita. Tapi bukankah wilayah ini dikunjungi oleh orang asing?" Ujar Mahendra.


Saat keduanya masih berkeliling mencari tempat makan mereka dihentikan oleh tombak di hadapan mereka. "Ikut kami mata-mata!" Sekarang keduanya terkepung oleh prajurit di wilayah ini.


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2