Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah

Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah
Pusaran cinta Ayah


__ADS_3

Malam begitu gelap dan terlihat ketiga pemuda itu tengah mengobrak abrik tanah untuk menguburkan jenazah Paman An. Kesedihan tentu begitu melekat, terlihat ditengah gelapnya malam hari wajah paruh baya Paman An terlihat bercahaya meskipun dihiasi banyak luka. "Mahendra apa yang kita lakukan setelah ini?" Tanya temannya membuat Mahendra tersadar.


"Kita ke desa, kita harus menyelamatkan ayah dan warga setidaknya membawa mereka keluar dari sana." Ujar Mahendra dengan suara yang bergetar setelah mengalami kejadian ini.


"Baik!" Jawab keduanya serentak.


Di dalam desa terlihat para penjaga dari berjubah hitam berlalu lalang memantau situasi, terlihat juga para warga yang sudah terluka tak berdaya serta tangisan yang memilukan. "Lihatlah, desa yang dulunya begitu sulit dimasuki sekarang berhasil kita kuasai. Sayang sekali pengkhianat tidak bisa dielakkan, tapi itu merupakan keuntungan untuk kita bukan?" Ujar salah satu pria yang diangguki oleh pria lainnya.


"Ya, konflik internal memang luar biasa! Kedamaian desa ini langsung berubah! Booom! Hahahaha." Suara gelak tawa tidak berperasaan itu menggema di udara.


Sedangkan Mahendra langsung mengendap-endap ke dalam, melihat situasi ia langsung mengerti. "Gunakan jubah hitam juga, dengan sihir kita. Setidaknya itu tidak akan menimbulkan kecurigaan." Ujar Mahendra yang langsung dimengerti oleh kedua temannya.


Setelah memakai jubah hitam, ketiganya langsung masuk, terlihat sekali desa berubah seratus delapan puluh derajat. Mahendra merasakan pedih dihatinya, beberapa saat lalu, desa nya masih terlihat damai dan juga tenang. Tapi semuanya langsung berubah seketika.


"Aku tidak akan memaafkan dan melepaskan pengkhianat itu!" Itulah yang ditekadkan oleh Mahendra.


Mereka lalu berpencar dengan saling memberikan kode satu sama lain, Mahendra langsing mencari keberadaan ayahnya sedangkan kedua temannya berbaur dengan pasukan berjubah hitam sambil menunggu waktu yang tepat untuk membebaskan warga. "Hei, kau dari mana?" Suara besar itu membuat salah satu teman Mahendra terpaku sejenak dan ia Kamis menetralkan dirinya dan langsung menjawab dengan tenang.


"Aku habis dari sumur, untuk melihat sumber air. Siapa tau ada masalah saat pertempuran tadi." Jawabnya yang membuat pria berjubah hitam mengangguk saja.


"Kalau begitu, urus orang-orang putih itu! Mereka menyusahkan sekali, tangisan itu terus-menerus menganggu ku. Kalau bukan karena menunggu perintah Tuan kita, aku sudah menghabisi mereka semua!" Ujarnya membuat teman Mahendra terbakar tapi ia harus berusaha senormal mungkin.


"Iya, mereka begitu menyusahkan." Balasnya tak lama pria berjubah hitam itu langsung pergi dan ia langsung mendekati salah satu warga desa.


"Jangan! Aku mohon! Jangan sakiti aku!" Teriak kesakitan dari warga desa yang digenggamnya.


"Tenang bibi, ini aku Juy!" Ujarnya membuat wajah wanita paruh baya itu langsung berubah.

__ADS_1


"Juy! Kau datang. Bagaimana bisa? Kau tidak tahu apa yang kita hadapi. Kenapa sendiri saja?" Tanyanya pelan.


"Ada Mahendra dan juga Sui. Jangan khawatir, kami akan membebaskan mu." Juy langsung menggunakan sihir penyembuh nya untuk menyembuhkan luka sang bibi serta melepaskan ikatan sihir simpul hitam. Akan tetapi, saat asyik menyembuhkan .... Terdengar suara hempasan besar yang membuat teriakkan kencang.


"Aaaaaaaaaaaa!!!!!"


Sedangkan di sisi Sui, pria itu langsung menuju pusat sihir desa, dan saat sampai di sana ia melihat pusat sihir yang sudah rusak, dan bukan itu saja, ia juga melihat sosok pria yang merupakan gurunya yang terkapar tak berdaya dengan penuh luka. "Paman, bangunlah! Paman." Merasa tidak ada pergerakan Sui langsung mengeluarkan sihirnya dan tentu saja tidak ada reaksi. Tapi ia tidak mudah putus asa nasi gurunya ia tekan dengan sihir penyembuh dan saat ada pergerakan ia justru dikagetkan dengan sihir di belakangnya dan ..... Wuusshhh!


Mahendra terusan menuju ruang bawah tanah setelah mendengar percakapan para pengawal berjubah hitam yang mengatakan ayahnya ada di sini, dengan langkah hati-hati, tak lama ia sampai dan di sana terlihat rantai sihir bewarna hitam yang mengekang ayahnya. "Ayah!" Gumam Mahendra pelan. Terlihat ruangan itu kosong dengan keadaan yang hitam gelap seperti sihirnya dengan keahlian matanya seperti kucing ia tidak perlu mengeluarkan sihir dan dengan aman berhasil menuju ayahnya.


"Ayah, aku datang." Ujar Mahendra sambil mengelus dahi ayahnya yang tampak mengeluarkan darah segar.


"Ayah, apa yang mereka lakukan padamu." Mahendra langsung bersiap mengeluarkan sihirnya tapi tiba-tiba.....


"Jangan!" Suara yang dikenali oleh Mahendra langsung menghentikan langkahnya dan ia tersenyum senang melihat ayahnya sadar.


"Mahendra apa yang kau lakukan? Kenapa ke sini?" Tentu Mahendra langsung bingung dengan perkataan ayahnya.


"Apa maksud Ayah? Tentu saja aku akan melepaskan ayah dan juga warga."


"Katakan apa kau menggunakan sihir mu datang kemari?" Tanya ayahnya dengan tatapan tajam membuat Mahendra kebingungan.


"Iya, tapi aku belum mengeluarkan sihir ku."


"Jangan keluarkan!" Perintah ayahnya yang membuat Mahendra makin kebingungan.


"Ayah ini bicara apa? Aku tentu akan melepaskan Ayah dengan sihir ku, kalau tidak bagaimana caranya?" Mahendra yang tidak ingin berbasa-basi lagi mendengar penolakan Ayahnya langsung mengeluarkan sihirnya dan membuat Narendra tidak dapat berkata-kata.

__ADS_1


"Mahendra!" Suara itu bukan saja dari ayahnya tapi juga berasal dari belakangnya membuat ia langsung melihat dan betapa terkejutnya ketika beberapa orang berjubah hitam sudah berada di sana dan lebih mengejutkan lagi ia melihat Yun di sana.


"Jadi kau pengkhianat nya Paman!" Ujar Mahendra.


"Kau memiliki keberanian yang luar biasa, tapi sayangnya begitu bodoh kedua teman mu itu sudah tertangkap dan ingin tahu apa yang terjadi? Mereka sudah di nirwana!" Mahendra langsung terbelalak tak menyangka.


"Pemuda labil seperti mu tidak mengerti bahwa sihir yang bukan dari sihir hitam akan terdeteksi oleh sistem sihir di sini. Dan itu sangat memudahkan menangkap dirimu." Ujar Yun.


"Pemuda ini ?"


"Dia adalah putra Narendra tuanku."


"Begitu rupanya, setelah menghisap ayahnya, aku ingin putranya juga!" Perintah Tuan berjubah hitam.


"Menghisap?" Beo Mahendra yang matanya langsung ingin keluar saat melihat keadaan ayahnya yang sudah berubah seketika.


"Bagaimana, ayahmu terlihat tampan kan? Energi sihir nya menjadi santapan lezat." Merasa putranya dalam bahaya dan tentunya bukanlah lawan yang tepat setidaknya untuk saat ini. Narendra mengeluarkan sesuatu dibalik jarinya, sihir emas itu sedikit membuka ledakkan dan mengakibatkan kekacauan.


"Dengar ayah Mahendra, pergilah Dan temukan pedang ruby merah. Itu yang akan melepaskan awan hitam ini nak. Mereka bukanlah lawan mu saat ini, berjanjilah pada Ayah. Kau akan berhasil dan bawalah pedang itu nak!" Mahendra yang masih belum mengetahui keadaan masih diam tak bergeming di saat ia ingin menjawab ayahnya langsung mengeluarkan sebuah pusaran yang menyedot dirinya, saat itu juga Mahendra berusaha menarik tangan ayahnya tapi tidak bisa, justru ia melihat senyum manis ayahnya dengan wajah yang penuh luka ditambah darah segar mengalir dari mata yang membuka pusaran.


"Jagalah dirimu, dan inilah saatnya petualangan mu nak. Ayah sangat menyayangi mu." Setelah itu Mahendra tak bisa mendengar apapun lagi seiring dengan matanya yang perlahan tertutup.


"Ayah!"


Bersambung ......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak

__ADS_1


__ADS_2