Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah

Kilauan Pedang Pendekar Ruby Merah
Tantangan


__ADS_3

Di sungai yang terlihat tenang tubuh kakek tua itu duduk seperti menunggu ikan yang ia pancing. "Aku yakin..


Rosalina yang sudah berkeliling tapi tak kunjung menemukan Mahendra ditengah pencariannya ia melihat sosok tua di sungai. "Hei, bukankah itu sosok yang dibicarakan orang-orang?" Rosalina yang penasaran langsung mendekat.


"Tidak ada pilihan, aku tanya saja! Ayo, kita turun elang." Mendengar permintaan wanita bunga itu, Elang tersebut langsung mendarat tak jauh dari kakek tersebut. Rosalina segera mendekat dan saat ia sudah semakin dekat. Ia dikejutkan dengan


"Mencari temanmu?" Sontak saja Rosalina kaget bukan main.


"Dari mana ia tau?" Bingung Rosalina.


"Jangan khawatir, ia akan segera datang."


"Di mana dia?" Rosalina yang sudah tak sabaran langsung bertanya membuat kakek itu terkekeh.


"Di sana!" Tunjuknya ke sungai yang terlihat tenang.


"Dia tenggelam?" Tanya Rosalina yang mulai panik sekarang.


"Heh? Bukankah dia seorang pendekar? Jika ia bisa mengendalikan seekor elang saja ia sanggup, apalagi sekedar berenang." Rosalina langsung mengangguk dan sedikit tenang.


"Lalu...... Kenapa dia di sana?" Tanya Rosalina.


"Sebuah tugas yang ia butuhkan." Jawab Kakek tersebut membuat Rosalina bingung.


Kembali lagi dengan Mahendra yang masih terikat, seolah sihir yang ia miliki tidak berpengaruh di sini. "Jangan membuang tenaga mu. Sihir apapun tidak bekerja di sini selain sihir ku."

__ADS_1


"Kau bilang satu pertanyaan maka aku akan bebas."


"Memang, tapi.... Gryva tersenyum dengan wajah menyeringai membuat Mahendra berharap segera berakhir.


"Berikan aku satu ini....


Mahendra dibuat terbelalak akan keinginan mahkluk ini. Dengan mudahnya ia meminta benda basah yang ada dibawah hidung tersebut. "Tidak akan, apapun aku berikan dan lakukan tapi tidak dengan itu!" Tolak Mahendra tegas.


"Aku semakin suka hal ini."


"Baiklah, kalau kau bisa mengambil ini dari ku, tanpa menyentuh diriku. Maka aku berikan dan lepaskan dirimu." Mahendra menatap menyelidik mengenai kebohongan Gryva.


"Kali ini aku tidak bohong, tapi satu sentuhan satu ini."


"Baiklah." Mahendra perlahan dilepaskan dan ia berpikir dan harus segera selesai.


"Ayo kita mulai!" Terdengar suara mendayu yang membuat Mahendra risih.


"Baik Mahendra.... Ayo demi ayah dan semuanya!"


Mahendra melakukan gerakan memutar dan mencoba mengambil mutiara tersebut, tapi tidak berhasil. Justru ia hampir saja menyentuh Gryva, wanita setengah ikan itu menunggu tak sabaran. Mahendra kembali melakukan serangan tapi belum juga, seolah ada sesuatu yang sudah diketahui oleh Gryva dan mencoba memanfaatkan nya. Merasa sia-sia, Mahendra terdiam sejenak dan hal itu membuat Gryva tersenyum manis.


"Sudah menyerah?"


"Tidak akan!" Mahendra berfikir dengan baik dan melihat situasi, tiba-tiba sebuah senyum terbit dari bibirnya yang menggoda Gryva. Dan serangan kembali ia mulai perlahan ia mendekati Gryva yang menunggu sentuhannya tapi Mahendra mengambil akar dari bunga teratai dan menjadikan seperti tali yang mengelilingi tubuh Gryva.

__ADS_1


Wanita setengah ikan itu terkejut sesaat dan ia terpana dengan sepasang mata biru Mahendra yang memabukkan. Mahendra yang melihat peluang langsung menggunakan sebuah akar kecil dengan kayu dan mutiara itu berhasil ia rebut tanpa menyentuh Gryva.


"Aku berhasil!" Ujar Gryva sambil memperlihatkan mutiara ditangannya. Gryva yang kembali sadar langsung melihat ke arah dadanya dan mutiara itu telah hilang di sana.


"Kau....


"Aku tidak curang, kau hanya mengatakan aku tidak boleh menyentuh mu. Berarti aku boleh menggunakan yang lain selain tanganku bukan? Jadi aku berhasil."


"Kau luar biasa sekali. Aku suka caramu berpikir dan bertindak." Gryva tersenyum lembut tidak seperti tadi.


"Sesuai janjiku, ini seruling nya dan....


Mahendra terkejut melihat sinar yang keluar dari mutiara itu yang begitu indah. "Mutiara ini menjadi milikmu sekarang. Kapanpun kau membutuhkan bantuan ku dan sedang berada di air maka aku akan datang." Jelas Gryva, Mahendra mengangguk.


"Terima kasih. Kau sangat baik dan luar biasa." Balas Mahendra.


"Aku senang mendapatkan hadiah senyuman mu yang indah ini."


"Sampai jumpa."


"Sampai jumpa." Mahendra langsung bergegas naik ke permukaan dan ....


"Mahendra!" Teriak Rosalina melihat sosok yang ia tunggu.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak


__ADS_2