
Rosalina terkejut saat melihat Mahendra yang tengah berada di atas punggung burung elang emas itu. Tampak sepertinya Mahendra tertawa dan wajah elang itu terlihat senang dengan kehadiran Mahendra. Mereka tampak bermain karena Mahendra beberapa kali melompat ke punggung elang itu. "Hahahaha, sudah."
"Pendekar!" Ujar Rosalina yang membuat Mahendra terhenti dan Elang itu ikut menatap Rosalina.
"Kau sudah bangun? Syukurlah. Lihat!"
"Elang ini sangat jinak. Ia terlihat bersahabat sekali, sepertinya ia hanya agresif karena lalat darah itu."
"Aaakk, aaakk." Terdengar suara elang itu yang seolah menyapa Rosalina.
"Ayo, sapalah!" Ujar Mahendra yang membuat Rosalina masih terpaku.
"Ia tidak menggigit atau menyerang mu. Tenang saja." Jelas Mahendra lagi dan membuat Rosalina perlahan mendekat dan elang itu langsung menurunkan kepalanya untuk dielus. Rosalina yang paham mengelus kepalanya dan terlihat elang itu menyukainya.
"Lihat, ia begitu menyukai mu."
"Benar, ia lembut sekali." Rosalina dapat merasakan betapa lembutnya bulu Elang itu.
"Ngomong-ngomong, perjalanan kita cukup jauh, jadi."
"Aaak, aaakk." Elang itu seolah menyahut perkataan keduanya.
"Mungkin ia ingin mengantarkan kita?" Ujar Rosalina.
"Aku rasa begitu." Dan benar saja keesokan harinya mereka pergi menaiki elang emas itu yang membawa mereka pergi menuju pencarian pedang ruby merah.
Hingga setelah cukup lama terbang. Akhirnya mereka sampai di sebuah desa, namun sepertinya ada yang aneh di desa itu karena terlihat sepi di tambah dengan pandangan penduduk yang menyeramkan.
"Mahendra, aku rasa ada yang aneh di sini."
"Iya, tapi kita tidak mungkin terbang lagi, karena elang sudah lelah."
__ADS_1
Saat langkah keduanya memasuki desa, anak panah langsing meluncur tepat dihadapan mereka. "Serang mereka! Penyihir!" Mahendra dan Rosalina kaget bukan main begitu juga dengan elang. Melihat tuannya diserang, elang itu segera mengeluarkan semburan es nya membuat apa pun disentuh akan beku.
"Hentikan!" Mahendra yang tidak ingin ada korban segera menengahi nya dan Rosalina yang ingin menyela, terdiam memperlihatkan selama tidak ada lagi penyerangan.
"Kami bukan orang jahat atau penyihir. Kami seorang pengembara saja, tidak lebih." Jelas Mahendra.
"Lalu, elang itu?" Tanya salah satu penduduk.
"Ia adalah temanku, ia begitu karena melihat kami diserang jadi. Ia menjadi agresif, tapi sekarang lihat, ia tenang bukan?"
"Jangan percaya begitu saja! Ia pasti orang jahat yang menyamar! Penuh tipu muslihat!"
"Tidak!"
"Kalau begitu, hanya satu cara membuktikan nya." Terlihat seperti tetua di desa itu mengambil sebuah bola putih yang cukup besar. Dan tak lama bola putih itu diletakkan di tanah dan tetua itu duduk di sana.
"Silahkan letakkan tangan kalian di sini. Jika bola itu mengeluarkan cahaya merah atau hitam maka kalian adalah orang berhati hitam. Tapi sebaliknya maka, kami akan menerima kalian." Jelasnya membuat Mahendra serta Rosalina meletakkan tangan mereka bergantian tentunya dengan tatapan dari penduduk.
Begini tangan indah Rosalina diletakkan di sana, bola itu perlahan bersinar dan mengeluarkan sinar berwarna merah muda yang indah membuat semua penduduk terpukau.
"Dia aman. Sekarang giliran mu dan juga Elang itu." Mahendra meletakkan kedua tangannya di atas bola itu, cukup lama tapi bola itu belum mengeluarkan apapun. Saat akan terjadi perdebatan lagi, sinar emas keluar dari sana dan tak lama diikuti oleh cahaya biru yang menenangkan.
"Wah!" Ujar semuanya serempak dan tak lama Mahendra segera menyingkirkan tangannya.
"Dia.....
Diantara penduduk, terlihat sosok pria tua yang renta memandangi Mahendra tak berkedip.
"Silakan masuk!"
"Tapi bagaimana dengan sinar emas itu?" Tanya seorang penduduk yang merasa satu orang tidak boleh mengeluarkan dua sinar..
__ADS_1
"Itu adalah sinar dari elang karena ia mendekat dan bersentuhan dengan diriku." Jelas Mahendra yang membuat semua orang percaya karena Elang itu memang bewarna Emas.
Saat Mahendra dan Rosalina masuk, ternyata desa yang awalnya aneh dan menyeramkan sekarang beruban menjadi desa yang indah dan berwarna hijau. Terlihat anak-anak berlarian ke sana dan kemari tertawa bahagia, begitupun penduduk lain yang bekerja dan berbaur.
"Selamat datang di desa buji." Ujar tetua itu menyambut mereka.
"Jadi, itu sebuah ilusi sihir untuk menyelamatkan desa dari tatapan jahat?" Tanya Mahendra.
"Benar, mengingat banyak kabar mengatakan kelompok Hitam memburu dan masuk ke berbagai desa."
"Terima kasih sudah menerima kami. Kami hanya menginap beberapa hari di sini." Jelas Mahendra.
"Kalau boleh tau, tujuannya kemana?"
"Mencari pedang ruby merah." Jawab Mahendra mantap.
"Ruby merah?" Ulang tetua yang saling memandang dengan warganya.
"Pedang itu hanya cerita belaka, kalau pun benar adanya. Kami tidak tau."
"Tidak masalah." Saat malam menjelang, Mahendra yang baru saja mengelilingi desa dibuat kaget dengan sosok tua di hadapannya.
"Pedang itu sangat sakral. Dan hanya orang terpilih yang bisa melihat keberadaan nya."
"Kakek tau?" Tanya Mahendra semangat.
"Tau, tapi ada syaratnya."
Bersambung ....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1