
Perlahan mata itu mulai terbuka, meskipun berat tapi sang pemilik mata tetap memaksanya. Mahendra melihat sekeliling di mana ia berada, ternyata sebuah ladang luas dengan bunga lavender di sekelilingnya dan ia berada di antara bunga lavender itu. Mahendra bangunan perlahan serta mengumpulkan kesadarannya mengenai apa yang terjadi. Ia langsung mengingat semuanya dan langsung saja air matanya mengalir.
"Ayah?" Panggil Mahendra. Ia bangkit dan mengelilingi ladang bunga lavender itu sambung terus memanggil nama ayahnya.
Ia masih berharap semuanya hanya mimpi buruk dan saat ini ia tengah dibawa oleh ayahnya menuju tempat di mana hanya ada mereka berdua.
"Ayah? Ayah di mana? Aku sangat cemas! Ayah! Ayah dengar aku? Ayah!" Berteriak sekencang apapun tidak memperlihatkan sosok ayahnya selain bunga lavender yang tertiup angin.
"Ayah ....." Mahendra akhirnya sadar bahwa itu semua bukan mimpi belaka, melainkan kenyataan buruk yang ia hadapi. Ayahnya sekarang berada di desa yang sudah dikuasai oleh kelompok berjubah hitam.
Ia memandangi langit sambil terlentang dengan pesan ayahnya untuk menemukan pedang Ruby. "Pedang Ruby." Gumam Mahendra, tapi sekarang ia tidak tau keberadaan dirinya sendiri. Memulihkan tenaga, ia kembali mengelilingi ladang bunga lavender itu, saat asyik berjalan ia tidak menyadari bahwa kakinya menginjak sebuah ranjau, Mahendra baru tersadar setelah merasakan kakinya mati rasa dan mengeluarkan banyak darah.
Ia segera mengeluarkan sihir penyembuhan miliknya tapi karena tidak memiliki tenaga lagi, ia akhirnya tak sadarkan diri. Kembali Mahendra membuka matanya dan ketika sadar ia melihat sosok wanita berwarna seperti kelopak bunga mawar merah jambu.
Mahendra yang masih belum sadar sepulihnya memfokuskan penglihatannya dan sebuah kata terucap dari bibirnya membuat sosok wanita itu menoleh padanya. "Kau sudah sadar." Ujar nya.
"Siapa kau?" Tanya Mahendra dengan panik, seolah ada musuh dihadapannya serta kejadian itu menimpa dirinya membuat ia tak bisa percaya pada siapapun juga . Gerakan pertahanan diri itu membuat wanita cantik itu hanya terdiam melihat kelakuan Mahendra.
"Tenang, aku bukan orang jahat atau iblis yang menyamar. Jika benar, aku sudah tentu menghabisi mu." Ujarnya membuat pergerakan Mahendra terhenti.
"Kau tidak sadarkan diri dengan luka di kaki mu, aku melihatnya saat akan menuju kediaman ku. Kalau tidak, kau akan mati karena kehabisan darah serta menyerap energi sihir mu." Ia kembali mengambil sebuah cangkir dengan sesuatu di dalamnya.
"Siapa kau?" Tanya Mahendra dengan wajah pucat.
"Sebelum menjawab atau aksi perkenalan diri, bagaimana kalau kau minum ini dulu. Ini akan membantu penyembuhan luka di kaki mu serta memulihkan tenaga mu." Wanita itu menyodorkan cangkir itu pada Mahendra, pria itu melirik isi di dalamnya dan mencium ramuan itu.
"Ini nektar." Ujar Mahendra membuat wanita itu hanya diam tak menjawab tetapi ia memberikan kode agar Mahendra segera meminumnya.
Tak ingin menunda dan merasakan itu bukanlah racun. Mahendra segera meminumnya dan wanita itu langsung mengambil cangkir dari tangannya.
"Ak ...." Belum sempat Mahendra berkata ia terkejut melihat sebuah sinar bewarna merah jambu yang mengelilingi kakinya. Tak lama reaksi itu membuat luka di kakinya menutup dan mengering.
"Luka nya."
"Mengering. Kau akan segera sembuh dengan tiga ramuan lagi." Balas wanita itu.
__ADS_1
"Itu sihir penyembuh mu?" Tanya Mahendra mengentikan pergerakan wanita itu.
"Kau ini banyak bertanya ya. Seperti wanita saja, sudah tau kenapa bertanya." Jawab wanita itu. Mahendra hanya memandangi tindakan wanita itu serta ia baru tersadar bahwa sekarang ia berada di dalam bangunan kayu dengan cabang seperti kayu atau tanaman.
"Kita di bawah tanah?" Tanya Mahendra lagi.
"Benar-benar. Sepertinya otak mu dipenuhi oleh banyak pertanyaan seperti anak kecil." Balas wanita itu.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau jelaskan saja, apa, siapa dan di mana serta bagaimana ...."
"Baiklah! Akan aku jawab. Sekarang berhentilah bertanya atau mengeluarkan pertanyaan lagi." Sekarang Mahendra diam menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Aku Rosalina, kau terkena ranjau buatan ku. Saat sistem sihir ku memberikan sinyal yang karena sudah mengenai mu aku langsung ke sana dan melihat kau yang terluka. Aku merasa kau seperti orang yang tersesat entah dari mana aku obati sebagai salahku atau sebenarnya itu adalah kesalahan mu yang tidak melihat. Dan untuk siapa aku, kau bisa menebak?" Wanita itu membuat tebak-tebakan dengan Mahendra.
Merasa ditantang, Mahendra menatap Rosalina dengan seksama dari ujung rambut hingga kakinya. "Kau wanita berasal dari desa bunga?" Tebak Mahendra mantap.
"Kau hebat juga. Ya, aku berasal dari desa bunga. Kau sendiri?" Tanya Rosalina balik.
"Coba tebak?" Sekarang giliran Mahendra yang memberikan tebak-tebakan pada Rosalina.
'Yang mempesona.'
"Jadi?" Sambung Mahendra tidak sabaran.
"Desa angin?" Ujar Rosalina.
"Iya, aku dari desa angin. Pernah melihat kami warga dari desa kami sebelumnya?"
"Mungkin, aku tidak terlalu ingat. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak tau mengenai setiap ciri khas warga desa di sekitar kami."
"Pengetahuan yang bagus."
"Sekarang katakan kenapa kau bisa dilakukan sini? Aku rasa jarak desamu dari sini sangat jauh."
Mahendra terdiam sejenak dengan mengambil napas beratnya. "Desaku diserang kelompok hitam, aku berhasil selamat karena ayahku. Tapi, ia masih di sana tidak tau bagaimana, dengan luka yang parah. Aku seperti anak tidak berguna bukan?" Mahendra tertawa mengejek.
__ADS_1
"Tidak juga. Itu artinya ayahmu sangat percaya padamu. Ia ingin kau membebaskan desamu dari mereka."
"Benar, ayahku meminta ku mencari sebuah pedang ruby merah." Jawab Mahendra membuat Rosalina terdiam.
"Pedang Ruby merah?" Ulang Rosalina.
"Iya, kenapa?" Tanya Mahendra.
"Pedang itu hanyalah sebuah dongeng belaka, ia tidak nyata. Kau percaya?"
"Ia, karena perkataan ayahku tidak pernah salah ataupun berbohong."
"Kalaupun nyata, mau mencari kemana? Kau tau?"
"Tidak, tapi aku pasti akan menemukan nya, tekad yang kuat serta niat yang benar akan dimudahkan. Itulah prinsip ku."
"Begitu ya."
"Kau hanya tinggal sendiri? Di mana warga yang lain?" Wajah Rosalina segera berubah.
"Tidak ada, ini hanya tempat pelarian ku." Mahendra sedikit bingung mendengar nya.
"Maksudnya?"
"Kita mengalami hal yang sama. Karena aku bertanya menhan pedang ruby merah itu."
"Kita bisa saling membantu." Ujar Mahendra dengan semangat.
"Kau percaya padaku?" Tanya Rosalina.
"Hatiku tidak pernah saling mengenali orang. Kecuali kau mungkin aku berbelok di tengah perjalanan."
" Hahahaha, baiklah. Kita sepakat! Sekarang yang terpenting kita keluar dari sini menuju dunia yang penuh warna dan tipu daya."
Bersambung ......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak, supaya author makin semangat.