
Mendapatkan seorang guru yang membuatku berusaha keras untuk menguasai segala teknik napas yang ia ajarkan padaku sejak usia muda. Ketika berlatih ia selalu keras padaku, namun sebetulnya dia adalah orang yang sangat baik.
Entah sejak kapan, pelatihan yang setiap hari kujalani yang membuatku ingin menjadi seorang Pemburu Iblis adalah salah satu keinginanku. Maka dari itu, guruku yang merupakan mantan Pemburu Iblis mengajarkanku segala macam yang berkaitan tentang menjadi Pemburu Iblis.
Kenapa aku harus menjadi Pemburu Iblis? Ada dua alasan, aku mengetahui bahwa Adikku menjadi Iblis dan satu lagi ... dialah yang membunuh kedua orang tuaku.
Memang ironis, Adikku sendiri yang membunuh mereka berdua apalagi pada saat itu keadaanku sedang bekerja di lumbung padi milik tetanggaku yang ada di seberang desa. Ketika pulang, yang kudapati adalah kedua orang tuaku yang tergeletak bersimbah darah dan Adikku menghilang.
Entah bagaimanapun, mungkin saja Adikku dimakan dan mungkin saja dia menjadi Iblis. Aku tidak tahu siapa yang membunuh keluargaku, namun guruku berkata bahwa mereka adalah Iblis yang harus akan kekuatan serta rasa lapar pada manusia.
Berkeliaran setiap malam mencari mangsa, ketika siang hari mereka akan menghindari paparannya karena dapat membunuh mereka dengan cepat.
Beberapa hari lagi tes untuk menjadi seorang Pemburu Iblis akan dimulai di suatu tempat yang sudah ditentukan. Jika jalan kaki dan berlari dari tempat tinggalku saat ini, akan menghabiskan waktu dua hari penuh.
Jalanku untuk menjadi seorang Pemburu Iblis baru saja dimulai.
* * * * *
Memang tidak akan semudah itu, perjalanan ini tidak terlalu membebaniku lagipula perbekalanku masih cukup. Pedang katana yang aku dapatkan dari guruku menjadi satu-satunya senjata yang dapat membunuh para Iblis, pedang itu disebut dengan pedang nichirin.
Guruku berkata agar selalu melatih teknik pernapasanku setiap kali, baik itu tidur maupun di waktu santai. Dengan seperti ini, stamina tubuh akan semakin kuat dan kemampuan yang semakin meningkat dengan fisik yang memumpuni tidak akan mudah lelah.
Alhasil, aku sudah berjalan seharian pun masih kuat dan ini masih terasa ringan daripada pelatihan yang dilakukan oleh guruku. Jika diingat lagi, sepertinya pelatihan yang sudah kulalui seperti neraka yang membuatku semakin kuat.
__ADS_1
Pakaianku yang dipakai saat ini adalah kimono dengan bagian luar hitam sedangkan pakaian dalam untuk lapisannya berwarna putih. Ini adalah tanda bahwa aku berasal dari utusan salah satu Pemburu Iblis yang identiknya dengan sebuah perguruan Teknik Napas.
Dari kejauhan, terdapat seorang laki-laki yang mengenakan kimono berwarna kuning dan bahkan rambutnya berwarna kuning. Dia tengah menangis di pinggir jalan seraya mencari sesuatu, kimono yang dipakainya identik dengan para mantan Pemburu Iblis yang pernah kutemui ketika berlatih dengan guruku.
Aku ingin menghampirinya dan berteman dengannya, namun masalahnya sepertinya telah terselesaikan dengan wajah yang bahagia seraya memandangi satu keping uang yang baru saja ia temukan.
Pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya, arah dan tujuannya sepertinya sama sepertiku yaitu menuju tempat tes untuk menjadi seorang Pemburu Iblis. Mungkin aku akan bertemu lagi di tempat tersebut, maka aku lebih memilih untuk berpisah dan menggunakan jalan lain yang menembus jalan utama.
* * * * *
Malam hari tiba, tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makanan. Aku memasuki hutan pinggir desa untuk mencari tumbuhan yang dapat dimakan, jika beruntung menemukan kelinci liar dan hewan lainnya yang dapat dimakan mungkin bisa mengganjal perutku.
Setelah cukup lama mencari-cari makanan, aku memakan rumput yang bergoyang dan ini dapat dikatakan makanan darurat serta beberapa tumbuhan dan buah-buahan liar yang tumbuh di wilayah pinggiran desa yang tidak terjamah ini.
Untuk malam ini tidur di atas pohon adalah pilihan terbaik, jika di atas permukaan tanah akan banyak serangga dan mungkin ular bisa menggigitku. Itu tidak terlalu buruk, akan lebih buruk lagi jika ada Iblis yang akan memburu manusia malam ini.
Menutup kedua mataku secara perlahan-lahan, mengatur napasku secara manual dan melatihnya seraya tidur. Aku harus waspada jika tidur di luar seperti ini, guruku pernah bilang karena bahaya akan selalu ada di sekitar.
Ketika aku hampir memasuki dunia mimpi, teriakan seorang perempuan membuatku tersentak dan terjatuh dari atas pohon saking kagetnya. Punggungku mendarat terlebih dahulu dan untungnya pedangku tidak tertimpa, ini terasa sakit hingga membuatku berguling-guling di atas tanah.
Aku segera mengatur napasku perlahan-lahan lalu bertekuk lutut, menutup kedua mataku lalu memaksimalkan indera pendengaranku. Dari kejauhan terdengar suara anak kecil yang menangis namun terasa samar, sepertinya mulutnya ditutup menggunakan sesuatu.
Tidak salah lagi, sepertinya memang ada Iblis yang sudah tidak tahan lagi ingin memangsa manusia di malam yang damai ini. Seraya berlari menuju sumber suara tadi, aku menggenggam erat pedangku menggunakan tangan kiri dan tangan kanan memegang gagangnya.
__ADS_1
Rumah yang aku tuju cukup jauh dari pemukiman, lagipula ini dekat sekali dengan hutan yang tidak terlalu lebat. Jika sejauh ini, teriakan sekejap tidak akan terlalu terdengar ke luar karena terlalu jauh dari pemukiman yang lain.
Iblis ini pintar, dia dapat mencari mangsa yang tidak membuatnya sudah payah mencari-cari makanan di malam damai ini. Berjalan seraya membuka pintu geser rumah, kutemukan sesosok Iblis tengah memakan tangan seorang perempuan yang tadi berteriak.
Anak serta suaminya telah dibunuh dan darahnya menyembur ke dinding rumah. Cahaya dari api lilin menjelaskan semua ini, tangan kananku menarik pedang dari sarungnya lalu mengambil kuda-kuda untuk menggunakan Teknik Napas yang kupelajari.
“Pemburu Iblis? Sepertinya aku sedang sial malam ini.”
Iblis itu mengucapkannya seraya menggenggam tangan yang sedang dimakan olehnya. Bau darah di rumah ini membuat pernapasanku cukup sulit, ini seperti keadaan di mana kedua orang tuaku dibunuh oleh Iblis.
Iblis itu berlari ke arahku seraya melempar tangan yang sedang dimakan olehnya. Ia berniat mengalihkan perhatianku, segera mengambil posisi menyerang dengan tangan kanan yang sudah memegang gagang pedang.
“Pernapasan Bayangan Bentuk Kedua : Ayunan Ilusi.”
Seraya berlari, mengayunkan pedangku ke lehernya dengan cepat lalu kami berdua saling melewati. Seharusnya terkamannya mengenaiku, namun memanfaatkan bayangan dari cahaya api lilin yang bergoyang membuat penglihatannya sedikit sulit menebak mana yang asli dengan Teknik Napas yang baru kulancarkan.
Tentu saja, kepala Iblis yang menerkamku putus dan berguling ke arahku. Aku kaget, Iblis ini masih bisa hidup meskipun sudah kupenggal. Namun tidak membutuhkan waktu lama, kepalanya serta tubuhnya menghilang menjadi serpihan dan hilang begitu saja.
Mengambil beberapa lembar kain dari lemari, menutupi tiga mayat satu keluarga yang baru saja menjadi korban dari Iblis tadi. Aku berniat langsung pergi, namun perhatianku teralihkan oleh sebuah kendi yang memiliki bau sedap.
Kendi tersebut kubawa dan kutinggalkan rumah ini seraya melanjutkan perjalananku di malam ini. Kendi yang kubawa berisikan kue daging ayam, ini sangatlah cukup untuk mengganjal perutku.
To Be continue ....
__ADS_1