Kimetsu No Yaiba : Kage

Kimetsu No Yaiba : Kage
Kediaman Tsuzumi III


__ADS_3

“Kiyoshi! Teruko!”


Tanjiro dan Yuuji berlari di lorong yang gelap mencari dua anak yang sebelumnya bertemu dengan Tanjiro. Yuuji menyadari sesuatu, ia menghentikan langkah Tanjiro sebentar.


“Tanjiro, aku akan kembali mencari Zenitsu. Kau cari dua anak itu.”


“Baiklah, sampai nanti.”


Yuuji dan Tanjiro berlari dengan arah yang berlawanan. Yuuji segera pergi menuju pintu depan bangunan ini sedangkan Tanjiro mencari Kiyoshi dan Teruko.


Zenitsu berada di luar bangunan, berbaring di permukaan tanah dengan kedua matanya yang tertutup.


“Di saat aku tidur, terkadang aku bisa mendengar perkataan orang lain dan itu membuatku takut. Suara Iblis itu telah hilang, berarti Tanjiro sudah mengalahkan Iblis itu? Aku bisa mendengar suara Tanjiro dan yang lain dan juga suara langkah kaki yang aneh.”


Kata-kata itu terpikirkan ketika ia mengistirahatkan tubuhnya dengan cara tertidur. Shoichi, Kakak dari Teruko dan Adik dari Kiyoshi memanggil nama Zenitsu berkali-kali.


Zenitsu memejamkan matanya, melihat ke atas dan melirik ke arah Shoichi yang ada di sampingnya.


“Syukurlah, kamu baik-baik saja?”


Tanya Shoichi, Zenitsu bangun dari tidurnya dan duduk dengan posisi tangan menopang tubuhnya.


“Kita berdua terlempar keluar saat rumah itu berputar. Kita jatuh dari jendela lantai dua.”


Ucap Shoichi, Zenitsu terdiam sebentar lalu merasa senang karena keluar dari rumah tersebut. Ia mengusap kepala bagian belakangnya.


“Begitu ya?”


“Karena Kak Zenitsu telah melindungiku, aku tidak terluka sama sekali. Tetapi ... ”


“Kalai begitu syukurlah. Lalu, kenapa kau menangis?”


Zenitsu mengangkat tangan kirinya yang mengusap-usap bagian belakang kepala lalu terdiam melihat permukaan tangannya terdapat sisa darah. Terdiam sebentar melihat darah dari mana datangnya.


“Begitu ya! Aku terjatuh dengan kepala yang terbentur lebih dulu!?”


Zenitsu berteriak histeris karena menyadari kenapa Shoichi menangis.


“Ya ... ”


“Aku akan mati!? Apa aku akan mati!? Tiba-tiba saja, kepalaku mulai pusing.”


Zenitsu menutup dahinya dengan pergelangan tangan. Terdengar suara tawa dari seseorang yang berada di pintu masuk rumah sebelumnya.


“Apa!? Apa!? Apa!? Apa!?”


“Serangan babik ... serangan babik!”


Tiba-tiba saja seorang laki-laki menubruk pintu masuk dan menghancurkannya dengan kedua tangannya menggenggam dua katana nichirin. Ia memakai topeng, namun Zenitsu mengenalnya ketika seleksi Pemburu Iblis.


“Dia muncul lagi!? Monster babik!”

__ADS_1


Zenitsu berteriak seraya memeluk Shoichi yang ada di dekatnya secara reflek akan rasa takutnya yang berkumpul.


“Aku mendeteksi keberadaan Iblis.”


Ucapnya setelah tertawa, Zenitsu yang mendengar suara tawanya dengan jelas akhirnya benar-benar tahu siapa sosok yang mengenakan topeng tersebut.


“Dia orang keenam yang terpilih, saat seleksi akhir dulu, dia orang yang pertama mencapai puncak lalu dia orang yang paling pertama sampai di kaki gunung. Si Tuan Tidak Sabaran!”


Jelas Zenitsu, Inosuke menyadari sosok yang ada di dalam kotak yang sebelumnya dibawa oleh Tanjiro. Ia menghunuskan pedangnya lalu berlari ke arah kotak yang di mana ada sesuatu.


“Hentikan!”


Zenitsu berlari untuk menghentikan Inosuke, bertekuk di depan kotak dengan kedua tangannya yang menyebar. Inosuke berhenti, ia menyuruh Zenitsu untuk minggir dari depan kotak.


“Namaku Agatsuma Zenitsu, aku juga anggota pasukan Pemburu Iblis sepertimu!”


“Huh? Pasukan Pemburu Iblis? Kalau begitu sudah jelas, kan!? Kita harus melenyapkan isi kotak itu!”


Inosuke bersiap menyerang dengan dua katana nichirin yang ada di genggaman tangannya.


“Sekarang, jangan menghalangiku!”


“Aku tidak akan menjauh! Ini ... barak berharga milik Tanjiro.”


“Jangan banyak mengoceh! Kalau begitu, aku akan melenyapkanmu sekalian dengan isi kotak itu!”


“Kubilang minggir!”


“Kurang ajar ... ”


“Di dalam kotak ini ... di dalam kotak ini ada sesuatu yang takkan kubiarkan kau menyentuhnya! Sesuatu yang sangat berharga bagi Tanjiro!”


Meskipun Zenitsu ketakutan menghadapi Inosuke. Tetapi tekadnya lebih kuat saat ini dibanding ketakutannya.


“Bicara apa kau? Di dalam kotak itu ada Oni. Apa kau masih belum mengerti juga!?”


“Sejak awal aku juga sudah tahu itu!”


Zenitsu sudah tahu dari awal apa isi kotak itu yang berisi Oni. Dia dapat membedakan suara Iblis dan manusia yang berbeda. Tetapi Zenitsu tahu, suara Tanjiro begitu lembut dan menenangkan yang membuatnya serasa ingin menangis.


Suaranya begitu lembut, Zenitsu tidak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Semua makhluk hidup mengeluarkan suara, dunia ini penuh dengan suara yang bergema. Napas, detak jantung, suara sirkulasi darah.


Dengan mendengar itu, Zenitsu dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain. Hanya saja, Zenitsu selalu ditipu oleh orang lain.


Karena itu, hingga saat ini Zenitsu hanya mempercayai orang yang ingin dia percayai. Meskipun Tanjiro seorang Pemburu Iblis, justru Tanjiro berpetualang bersama Iblis dalam kotak.


Karena percaya, Zenitsu yakin Tanjiro memiliki alasan untuk itu. Dan yang pasti, Zenitsu dapat mempercayai alasan itu dan menerimanya.


Di hadapan Inosuke, Zenitsu berlutut seraya melindungi kotak yang dibawa Tanjiro berada di belakangnya.


“Aku ... aku akan bertanya pada Tanjiro secara langsung mengenai hal itu. Karena itulah, kau ... pergilah!”

__ADS_1


Inosuke langsung menendang wajah Zenitsu, menendangnya lagi dan lagi hingga ia terjatuh. Inosuke berdiri di depan kotak, ketika ia berniat menginjaknya terdapat Zenitsu yang langsung melompat menghentikan Inosuke.


“Lepaskan aku sialan!”


Inosuke menyikut punggung Zenitsu dengan kuat hingga dirinya muntah darah, Inosuke melempar Zenitsu ke samping kanan dengan menarik kepalanya.


“Menyebalkan!”


Inosuke langsung berdiri untuk kembali menyerang kotak yang di dalamnya terdapat Iblis. Namun langkahnya tersungkur karena Zenitsu langsung menggapai kakinya.


“Takkan kubiarkan kau menyentuhnya.”


Ucap Zenitsu seraya menahan rasa sakit, Inosuke menendang wajah Zenitsu hingga lebam namun ia tetap menahan rasa sakit tersebut.


“Itu sesuatu ... yang sangat berharga bagi Tanjiro!”


Zenitsu menggenggam erat kaki Inosuke lalu melemparnya dengan kuat ke samping kirinya. Zenitsu bergerak ke arah kotak lalu berlutut dan memeluknya.


“Sampai dia kembali, kau tidak boleh menyentuhnya sedikit pun!”


Inosuke mulai kesal, ia berdiri lalu bergerak ke arah Zenitsu dan menendang wajahnya beberapa kali hingga darah segar keluar dari hidungnya. Saat itu, Yuuji yang baru keluar dari rumah sarang Oni dari arah berbeda langsung berlari dan memukul Inosuke tengah menghunuskan pedang ke arah Zenitsu yang memeluk kotak.


Yuuji menyerang dengan cepat beberapa kali hingga Inosuke membuat jarak antara mereka berdua.


“Hentikan, Zenitsu adalah salah satu rekan kita bodoh.”


Ketika Yuuji mengakhiri kalimatnya, Inosuke langsung bergerak dan memukul perut Yuuji kemudian menendang wajahnya hingga ia terdorong dan terjatuh ke permukaan tanah dengan wajah terlebih dahulu mendarat. Inosuke kembali menendang Zenitsu beberapa kali.


“Cabut pedangmu dan bertarunglah denganku! Dasar pengecut!”


Tanjiro baru tiba di depan pintu, menggendong Kiyoshi dan di sampingnya terdapat Teruko. Mereka bertiga melihat pemandangan yang tidak enak dipandang akan pengorbanan Zenitsu.


“Tanjiro ... aku melindunginya. Karena kau bilang ... dibandingkan nyawamu, benda ini lebih berharga.”


Zenitsu mengatakannya dengan melindungi kotak yang dia peluk. Inosuke menendang Zenitsu beberapa kali dengan gusar, hingga terjatuh dengan posisi melindungi kotak.


Ketika melihat Zenitsu dalam posisi melindungi, Tanjiro teringat dengan sosok Adik perempuannya yang melindungi Adik laki-lakinya ketika terbunuh.


“Kalau kau tidak mau bertarung, cepatlah enyah!”


Inosuke menendang Zenitsu terus menerus tanpa henti. Tanjiro terdiam sebentar, tangan mengepal dengan wajah penuh amarah.


Inosuke membalikkan posisi pedang yang digenggam dengan tangan kanan. Ia berniat untuk menusuk Zenitsu dengan pedangnya.


“Sudah cukup, kalau kau tak mau menyingkir ... ”


Inosuke mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pedang bergerigi. Tanjiro berteriak agar Inosuke berhenti, perhatiannya teralihkan dan mereka berdua saling melihat satu sama lain.


Dengan satu lompatan yang kuat, Tanjiro meluncur ke arah Inosuke dengan wajah penuh amarah yang hanya tertuju pada Inosuke.


“Hentikan!”

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2