
Seorang pemuda tertidur di pinggir sawah. Warga di sekitar yang berniat menangani ladang dan sawah mereka terbingungkan oleh pemuda yang tidur seraya memeluk erat pedang dan sebuah kendi.
Pria yang sudah tua berumur kepala empat mencoba membangunkan pemuda tersebut. Perlahan-lahan tapi pasti, pemuda itu terbangunkan dan dia menyadari bahwa terdapat beberapa petani yang melihatnya dengan rasa heran serta ingin tertawa karena melihat wajah bodohnya yang baru saja bangun tidur.
“Kau baik-baik saja nak?”
Tanya pria tua yang membantu pemuda itu berdiri. Pemuda itu memperkenalkan dirinya, Ibusaki Yuuji itulah namanya. Ia juga meminta maaf karena ketiduran di sawah miliknya dan ia segera pergi dari tempat ini.
Namun, rasa kantuknya menyerang lagi hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Petani yang melihat tingkahnya langsung kaget, Yuuji mencoba berdiri kembali dan meminta maaf lagi dengan senyuman kecilnya.
Jika dihitung kembali, membutuhkan waktu beberapa jam lagi menuju tempat tes yang akan diadakan hari ini. Sembari mencari makan, Yuuji melatih pernapasannya dan menahan perutnya yang sedari tadi demo meminta makan.
* * * * *
Sebelum tes dan waktu yang ditentukan dimulai. Yuuji mengisi perutnya dengan makanan yang memiliki energi cukup, apalagi ia menggunakan uang terakhirnya yang dipinjamkan oleh gurunya sebelum pergi dan kini ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Memasuki wilayah pegunungan, masuk lebih dalam lagi dan terdapat pohon bunga wisteria yang mengelilingi wilayah gunung ini. Aroma wanginya membuat pernapasan Yuuji terhenti, dia terkagum karena di mana-mana ada bunga wisteria.
Berjalan menuju puncak, memang tidak ada yang mudah apalagi sudah terdapat banyak orang yang berkumpul di atas. Usianya tidak begitu jauh dengan Yuuji, usianya saat ini tujuh belas tahun dan kemampuannya sudah cukup untuk menjadi seorang Pemburu Iblis.
Ketika ia memperhatikan kembali para peserta, ia menemukan orang yang pernah ia temui sebelumnya. Memakai kimono kuning dan rambutnya yang pirang pun sudah terlihat mencolok dari peserta lainnya.
Ada salah satu peserta yang di kepalanya terikat dengan topeng rubah. Kimono biru dengan corak aliran air, jika dilihat lagi dia memiliki bekas luka di dahinya. Yuuji menghela napas, ia menyadari ada beberapa orang yang lebih kuat darinya.
Terdapat dua perempuan yang memiliki warna rambut hitam dan putih. Mereka berdua menyambut kedatangan para peserta yang akan menjalani tes Pemburu Iblis saya ini.
Mereka berdua menjelaskan bahwa di Gunung Fujika yang saat ini mereka pijaki terdapat Oni yang ditangkap hidup-hidup dan mereka tidak bisa pergi keluar karena efek bunga wisteria yang dibenci oleh mereka. Mereka berdua juga menjelaskan bahwa tes yang akan dilangsungkan saat ini adalah bertahan hidup selama tuhuh hari di hutan yang penuh dengan Iblis.
Setelah penjelasan itu, mereka berdua pamit undur diri dan suasana hening yang mencekam mulai saling berpandangan.
* * * * *
Malam pertama di Hutan Fujika ...
Yuuji mencari tempat aman terlebih dahulu, meskipun mencarinya tidak akan mudah karena penjelasan tadi mengenai hutan yang dipenuhi Oni ini sudah cukup membuat merinding apalagi bertahan hidup selama tujuh hari. Bertahan hidup tanpa makanan masih bisa dilakukan, tetapi jika Iblis terus berdatangan akan membuatnya kewalahan.
“Sepertinya bekerja sama dengan peserta yang lain akan menjadi lebih mudah.”
Pikir Yuuji seraya duduk di balik batu besar, ia menghela napas lalu mengatur napasnya kembali dan dia berniat tidur untuk malam ini. Dengan mata kanan yang terbuka, dia masih bisa mengistirahatkan tubuhnya yang cukup kelelahan hanya pergi menuju tempat ini.
Tapi niatnya gagal, teriakan salah satu peserta menggema di hutan Fujika ini dan sepertinya dia terbunuh. Yuuji tidak bisa membantu mereka karena tidak ada jaminan untuk dirinya selamat, apalagi ini baru malam pertama dan membuang-buang tenaga adalah hal bodoh yang dilakukan.
Tapi jika ingin bertahan hidup untuk malam ini, Yuuji mengurungkan niatnya untuk tidur dan berlari menuju arah Timur. Karena matahari akan lebih cepat terbit di sebelah timur maka alasan ini sudah cukup untuk membuat Yuuji bergerak.
Seraya berlari, udara malam ini menusuk tangannya yang tidak terselimuti kimononya. Ia tidak bisa melakukannya, tangan kiri sibuk membawa pedang sedangkan tangan kanan bersiap untuk menarik dari sarungnya.
Rindou berhenti berlari dan ia bersembunyi di balik pohon. Ia tidak bisa bergerak lebih jauh lagi karena insting bertahan hidupnya menandakan bahaya di depan jika maju lebih jauh lagi. Maka dengan tanda seperti itu, tidak salah lagi ada Oni yang mengincarnya.
Terlalu gelap untuk dapat melihat jelas sosok Oni yang mengincarnya. Yuuji fokus pada pendengaran dan instingnya, dalam sekejap ia langsung berjongkok dan terdapat sebuah tangan yang diayunkan ke arahnya dapat ia hindari.
Suara dari batang pohon yang retak terdengar dengan jelas di atasnya. Yuuji langsung menarik pedangnya dan mengayunkannya ke depan, namun serangannya dapat dihindari lalu sosok Oni tersebut bersembunyi di kegelapan.
__ADS_1
Yuuji tersenyum kecil, bagi pengguna Napas Bayangan hal itu terlihat seperti dia diejek. Karena jengkel dengan tingkah Iblis tersebut, jiwa barbar yang terpendam di dalam tubuh Yuuji perlahan-lahan keluar.
Ia berdiri dengan tangan kanan memegang gagang katana nichirin miliknya. Bayangan adalah teman baginya, maka mana mungkin bayangan akan mengkhianatinya.
Dengan memperlihatkan penjagaannya yang lengah, Iblis yang mengarang tadi keluar dari kegelapan lalu menerkam Yuuji dari samping dengan mulut menganga menunjukkan taring tajamnya. Namun dia terkejut, Yuuji menoleh ke arahnya dengan senyuman lebar dan katana yang ia genggam langsung ia ayunkan dengan cepat sebelum Iblis itu bergerak lebih leluasa lagi.
Serangannya sangat kuat, tenaga yang Yuuji keluarkan dengan Teknik Napas Penuh miliknya membuat fisiknya meningkat. Hanya dengan satu ayunan yang tepat, dia dapat memenggal Iblis dengan sekejap.
Karena gangguan sudah hilang, Yuuji melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Timur seraya memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. Setiap melangkah selalu berhati-hati, karena ini adalah sarang Oni apalagi teriakan para peserta Pemburu Iblis memenuhi Hutan Fujika ini.
Yuuji yang biasanya barbar, kini menjadi kalem. Namun ia memiliki pemikiran yang unik, jika dia membunuh banyak Iblis maka di hari-hari berikutnya para Iblis akan berkurang dan dia dapat tidur dengan tenang.
Bunuh Iblis, habis, tidur tenang, hati pun senang. Yuuji tersenyum kecil lalu tertawa keras yang membuat para Oni di sekitarnya langsung menuju ke arah sumber suara tawa tersebut.
Terdapat empat Oni yang mengelilinginya. Mereka menganggap Yuuji sebagai mangsa yang akan diperebutkan, namun mereka melakukan kesalahan dan itu hanya satu. Mereka sendiri tidak menganggap bahwa mereka adalah mangsa dari Yuuji sendiri.
* * * * *
Selama beberapa hari, Yuuji beristirahat sambil melatih tubuhnya berulang kali di sebuah daerah yang dipenuhi oleh bunga wisteria. Tempat ini adalah tempat paling aman dari segala tempat, dan hari ini adalah hari terakhir berakhirnya tes.
Terdapat seorang pemuda yang sebelumnya Yuuji perhatikan, dia yang mengenakan kimono biru dengan corak aliran air. Dia dapat bertahan hidup dengan kata lain dia salah satu orang yang kuat, sebelumnya juga Yuuji menemukan sesosok pemuda yang barbar menggunakan topeng babik hutan dan menyerang para Oni secara membabi buta.
Karena itu, Yuuji tidak perlu bekerja lebih keras untuk membasmi Oni yang mengejarnya karena sudah disapu bersih oleh pemuda barbar bertopeng babik hutan.
Yuuji dan peserta lainnya berkumpul di tempat di mana pertama kalinya mereka dikumpulkan. Yuuji menghitung peserta yang lolos dan beberapa orang yang pernah ia lihat dapat bertahan terutama pemuda yang mengenakan kimono kuning.
“Satu ... dua ... tiga ... empat dan satu lagi pria barbar itu ke mana?”
“Semuanya karena aku pingsan pada waktu itu.”
Ucap pria yang mengenakan kimono biru, dahinya terluka dan dibalut menggunakan perban putih meskipun darahnya merembes keluar.
“Aku akan mati, pasti mati dah. Meskipun aku bertahan sekarang, aku akan tetap mati.”
Ucap pemuda berkimono kuning seraya sedikit menunduk dengan pesimis, sepertinya dia melewati hari-hari berat yang membuatnya tidak tahan.
Dua anak perempuan yang sebelumnya pernah menyambut mereka kembali berdiri di hadapan mereka dengan tatapan yang membuat Yuuji terintimidasi.
“Selamat datang kembali dan ... selamat. Kami senang melihat kalian baik-baik saja.”
“Lalu? Apa yang harus kulakukan sekarang? Mana katana milikku?”
Tanya pemuda dengan bekas luka yang ada di hidungnya sampai pipi sebelah kanan apalagi gaya rambutnya seperti jambul ayam.
“Pertama-tama, kami akan memberikan seragam untuk kalian. Kami akan mengambil ukuran kalian yang kemudian peringkat kalian akan dipahatkan. Ada sepuluh peringkat secara keseluruhan ... ”
Kedua anak perempuan itu menjelaskannya secara bergiliran. Cukup aneh karena Yuuji baru melihat hal yang seperti ini.
“Kinoe, Kinoto, Hinoe, Hinoto, Tsuchinoe, Tsuchinoto, Kanoe, Kanoto, Mizunoe dan Mizunoto. Pada saat ini kalian berada di peringkat paling bawah yaitu Mizunoto.”
“Dan katana kami?”
__ADS_1
“Hari ini kami akan membiarkan kalian memilih logam untuk pedang kalian. Tetapi, pedang itu membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas hari untuk diselesaikan.”
“Kalian bercanda?”
Keluh pemuda yang memiliki bekas luka di hidung sampai pipinya, intinya dia memiliki wajah yang sangar dari peserta lainnya.
Yuuji yang mendengar penjelasannya seraya mengupil mulai berpikir bahwa pedang yang ia dapat dari gurunya akan digantikan dengan yang baru. Namun karena tempat tinggal gurunya jauh yang berjarak dua hari dari tempat ini membuatnya enggan untuk pulang.
“Namun pertama-tama ... ”
Anak perempuan yang berambut putih itu menepuk tangannya dua kali. Terdapat beberapa burung gagak yang datang menghampiri kami, namun anehnya hanya pemuda yang mengenakan kimono kuning mendapatkan burung kecil.
“Kami akan memberikan Gagak Kasugai milik kalian masing-masing. Gagak Kasugai bisa digunakan untuk berkomunikasi.”
“Kalian bilang burung gagak? Tapi dilihat mana pun burung yang kudapatkan ini burung Pipit?”
Tanya pemuda berkimono kuning dengan tatapan heran ke arah dua anak perempuan yang ada di hadapan mereka. Burung Gagak Kasugai yang memilih Yuuji langsung menempati kepalanya.
“Jangan bercanda!? Siapa yang peduli dengan gagak bodoh yang kalian bicarakan!?”
Pria yang sebelumnya mulai ngegas, ia pun berjalan ke depan lalu menjambak rambut salah satu anak yang rambutnya berwarna putih.
“Aku ingin katana! Cepat berikan sekarang juga! Katana Pembasmi Iblis! Katana Berubah Warna!”
Tiba-tiba saja, pemuda yang jidatnya terluka dan mengenakan kimono biru menggenggam tangan kanan pemuda yang ngegas. Pancaran sorot matanya menunjukkan tekad akan jiwanya yang kuat.
“Lepaskan tanganmu darinya. Jika tidak, akan kuhancurkan tanganmu.”
“Siapa kau!?”
Balas pemuda yang menjambak anak perempuan berambut putih. Pemuda yang mengenakan kimono kuning mulai panik dan ia melihat ke berbagai arah.
“Ba-ba-bagaimana ini?”
Pemuda yang menjambak anak perempuan itu menolak untuk melepaskan tangannya. Pemuda berkimono biru menghirup napas lalu memperkuat genggamannya hingga tangan yang ia genggam terasa akan patah.
Pemuda berwajah sangar itu melepaskan tangannya seraya berteriak kesakitan lalu mundur seraya memegangi tangan kanannya.
“Apa ngobrolnya sudah selesai?”
Tanya anak perempuan berambut hitam, dia pun menarik sebuah kain yang menutupi sebuah meja yang ada di belakangnya. Terdapat beberapa bijih logam yang sudah mereka persiapkan dan akan dipilih oleh peserta yang lolos seleksi terakhir.
“Besi untuk katana ... yang akan menebas Oni dan melindungimu adalah pilihan kalian sendiri.”
“Palingan ... sebentar lagi juga aku akan mati.”
Keluh kesah pemuda yang mengenakan kimono berwarna kuning, burung Pipit yang bertengger di bahu kanannya sepertinya sudah mulai akrab dengannya.
Setelah cukup lama berpikir untuk memilih bijih besi. Salah seorang pemuda yang mengenakan kimono biru bercorak aliran air memilih bijih besinya. Diikuti dengan yang lainnya lalu Yuuji mengambil paling terakhir.
To Be continue ....
__ADS_1