
Mereka berempat sampai di depan rumah yang memiliki ukuran megah. Di depan gerbangnya terdapat sebuah simbol bunga wisteria.
“Gerbang dengan simbol bunga wisteria?”
“Istirahat! Istirahat! Yang terluka beristirahatlah sampai pulih.”
Ucap sang Gagak Kasugai yang memandu perjalanan Tanjiro serta yang lainnya dari turun gunung.
“Kami boleh beristirahat? Tapi yang kulawan kali ini adalah Oni yang sudah terluka.”
“Ke-ke-ke.”
“Ke-ke-ke, apa maksudnya?”
“Ayo kita makan saja gagak ini.”
Ucap Inosuke kepada Tanjiro yang melakukan pembicaraan dengan Gagak Kasugai. Karena ucapan dari Inosuke, gagak itu bergidik ketakutan.
“Masuklah ... ”
Dari gerbang, terdapat seorang nenek dengan usia sudah tua membuka gerbang. Kedatangannya dapat kami sadari karena suara gerbang di dorong terdengar jelas.
“Maaf mengganggu malam seperti ini.”
“Ada hantu!?”
“Woi!?”
Bentak Tanjiro kepada Zenitsu yang berkata kasar kepada sang nenek. Yuuji tidak berkata apapun karena hal itu hanya akan membuatnya lelah dan hal yang dipikirkannya saat ini adalah makan.
“Apa-apaan kau ini!?”
Tanya Inosuke seraya berjalan ke arah nenek yang berada di gerbang simbol bunga wisteria.
“Kalian pasti para Pemburu Iblis.”
Ucap sang nenek lalu membungkuk sebagai tanda kehormatan akan keempat tamu Pemburu Iblis.
“Kau terlihat lemah ya.”
Ucap Inosuke yang menyentuh rambut sang nenek dengan nada tidak sopan sekali. Yuuji dan Tanjiro yang melihatnya langsung membentaknya karena tidak sopan akan tingkahnya.
“Silahkan masuk.”
Rumah megah yang memiliki simbol bunga wisteria ini di dalamnya benar-benar megah. Halamannya pun cukup panjang dari rumah utama.
“Nenek itu jalannya cepat.”
Ucap Zenitsu yang berada di belakang Tanjiro. Inosuke dan Yuuji yang ada di belakang mereka berdua melihat ke sekeliling rumah ini.
Nenek yang menyambut mereka benar-benar ramah dan mengurus mereka berempat dengan baik. Baju ganti, berikutnya berupa makan malam dan dengan waktu yang singkat nenek itu benar-benar cepat.
“Dia pasti siluman! Tanjiro, Yuuji!? Nenek itu pasti siluman!? Dia terlalu cepat! Pasti siluman!”
Zenitsu mulai heboh sendiri, Tanjiro dan Yuuji langsung menjitak Zenitsu.
Makan malam, Inosuke memakan makan malamnya dengan barbar menggunakan tangan tanpa menggunakan sumpit sama sekali.
“Sumpitnya dipakai.”
Ucap Zenitsu, Inosuke beberapa kali mengunyah makanan lalu tersenyum kemenangan ke arah Tanjiro. Zenitsu dan Yuuji yang sudah tahu akan tingkahnya pastinya berniat siapa makan paling banyak dialah yang menang, mungkin itu yang dipikirkan Inosuke.
“Kalau memang selapar itu, kamu boleh memakan yang ini.”
Ucap Tanjiro disertai senyumannya yang polos dan menawari Inosuke semangkuk masakan daging kentang kepadanya.
“Sialan! Ini salah!”
“Ayo.”
“Bukan!”
Inosuke berteriak karena Tanjiro benar-benar salah paham. Dan Zenitsu sangat marah kepada Inosuke, dia benar-benar melupakan kotak yang dilindungi olehnya hingga dipukuli Inosuke.
“Jangan bercanda, dasar sialan!”
Umpat Zenitsu dalam hatinya dengan urat wajah yang muncul. Yuuji menikmati makan malamnya dengan damai, ya makan malam gratis adalah kenikmatan tiada tara.
* * * * *
“Ini futon kalian.”
__ADS_1
Ucap sang nenek yang menyambut mereka di dalam kamar mereka berempat.
“Muncul juga! Nenek siluman—”
Tanjiro dan Yuuji langsung memukul kepala Zenitsu yang tidak sopan lagi akan ucapannya. Inosuke langsung menerjang futon yang ada di kanan, karena empat futon tidak cukup dalam baris maka satu futon berada di baris lainnya.
“Siapa cepat dia dapat. Aku tidur di sini.”
“Boleh kok, tidurlah di tempat yang kamu suka. Zenitsu, kamu pilih mana?”
Tanya Tanjiro kepada Zenitsu yang ada di samping kanannya, Inosuke cukup kesal akan Tanjiro yang tidak mau bersaing dengannya. Karena kesal, Inosuke mengambil bantal miliknya lalu menghantamnya ke Zenitsu yang sedang berpikir.
* * * * *
Seorang Dokter mengunjungi mereka berempat, satu persatu mereka berbaris dan diperiksa keadaan tubuh mereka.
“Ya, parah.”
Setelah melalui pemeriksaan fisik, mereka berempat berbaring di futon masing-masing namun belum tidur. Memikirkan ucapan Dokter yang telah memeriksa fisik mereka berempat.
“Sepertinya kita bertiga mengalami patah tulang rusuk, ya? Hanya Ibusaki saja yang tidak mengalaminya dan itu memar saja.”
Ucap Zenitsu, berawal dari Zenitsu yang mengalami dua tulang rusuk yang patah. Dilanjut oleh Tanjiro yang tidur di samping kirinya mengalami tiga tulang rusuk yang patah, dan Inosuke mengalami empat tulang rusuk yang patah.
“Daripada patah tulang, benjolan ini lebih sakit.”
Ucap Inosuke seraya menunjukkan benjolan di kepalanya bekas hantaman kepala Tanjiro yang keras.
“Maaf.”
“Kau juga akan minta maaf padaku, kan? Sakit banget tahu, seenaknya saja menghantamku seperti itu. Minta maaflah padaku.”
“Tidak mau.”
Jawab Inosuke kepada Zenitsu yang sebelumnya dia pukul beberapa kali karena melindungi kotak berisi Iblis.
“Minta maaf dong!”
“Tidak mau.”
“Minta maaf sana!”
Tanjiro menyela pembicaraan mereka dan menyuruh Inosuke untuk benar-benar meminta maaf kepada Zenitsu. Yuuji hanya mendengarkan percakapan mereka seraya melatih pernapasannya.
“Huh!? Apa-apaan itu!?
“Makanan kalau disantap bersama-sama itu lebih enak.”
“Itu benar.”
Tanjiro setuju akan ucapan Zenitsu kepada Inosuke.
“Apa otak kalian masih waras?”
“Kau tak berhak berkata seperti itu!”
Bentak Zenitsu yang marah akan pertanyaan Inosuke kepada mereka berdua. Yuuji yang berniat untuk tidur tertawa namun dia menahannya, percakapan mereka sangatlah menarik.
“Apa ada yang bisa dibantu?”
Sosok nenek yang menyambut kedatangan mereka berempat terlihat di balik pintu geser kuno.
“Hantu!?”
“Tidak sopan!”
* * * * *
“Jika menurut penjelasan gagak itu, rumah dengan lambang wisteria ini milik keluarga yang dulu pernah diselamatkan oleh Pasukan Pemburu Iblis. Karena itulah, jika yang datang Pemburu Iblis mereka takkan meminta imbalan. Yang kudengar seperti itu, tetapi tidak kusangka mereka sampai sebaik ini.”
Ucap Tanjiro yang menjelaskannya tentang rumah bersimbol bunga wisteria.
“Pasukan Pemburu Iblis itu sehebat apa?”
“Ngomong-ngomong Inosuke, kenapa kamu bergabung dengan pasukan Pemburu Iblis?”
Tanjiro menjawab pertanyaan Inosuke dengan pertanyaan lagi.
“Karena ada Pemburu Iblis yang menabrakku di gunungku, aku beradu kekuatan dengannya lalu merebut pedangnya.”
Penjelasan Inosuke membuat Zenitsu, Tanjiro, dan Yuuji yang mendengarkan percakapan mereka bingung ingin menanggapinya bagaimana.
__ADS_1
“Pemburu Iblis itu sial sekali.”
Pikir Zenitsu dan Yuuji, Inosuke kembali melanjutkan ceritanya.
“Setelah itu, aku tahu kalau ada seleksi akhir dan keberadaan yang bernama Oni.”
“Jadi karena itu Inosuke bergabung dengan Pasukan Pemburu Iblis. Selain itu, Inosuke sama sepertiku yang besar di gunung ya.”
“Kau salah Tanjiro, aku juga hidup di gunung dengan guruku.”
Yuuji menyela pembicaraan Tanjiro, Zenitsu belum pernah menceritakan tentang dirinya karena itu Yuuji cukup penasaran akan dirinya.
“Jangan menyamakanku dengan kalian berdua! Aku tak punya saudara maupun orang tua. Mengadu kekuatan dengan makhluk lain hanyalah satu-satunya hobiku.”
Setelah mengucapkannya, Inosuke memakai topeng babik hutan yang diletakkan di atasnya. Tanjiro salah paham akan ucapan Inosuke yang ada di ucapan mengenai orang tua dan saudara, Tanjiro pikir Inosuke sebatang kara yang kesepian.
“Begitu ya, begitu ... ”
Ucap Tanjiro dengan air mata yang sedikit keluar akan rasa kasihan kepada Inosuke. Suasana hening sebentar, Zenitsu bangun dari posisi tidur dan membuat perhatian mereka bertiga tertuju padanya.
“Tanjiro, karena tidak ada yang mau bertanya maka aku yang akan bertanya. Kenapa kau membawa Oni bersamamu?”
Tanya Zenitsu lalu menoleh ke samping kirinya yang terdapat Tanjiro. Ia mengedipkan matanya, Inosuke dan Yuuji tidak mengatakan apapun dan membiarkan Tanjiro ingin menjawabnya ataupun tidak.
“Zenitsu, meskipun mengetahuinya. Kamu tetap melindunginya ya. Zenitsu itu memang orang yang baik, ya. Terima kasih.”
Zenitsu yang mendengar pujian dan rasa terima kasih kepadanya mulai salah tingkah. Wajahnya merona kemerahan, sebenarnya dia senang ketika dipuji namun orangnya malu-malu.
Zenitsu memeluk bantalnya lalu berguling-guling di kasur miliknya.
“Meski memujiku seperti itu, aku takkan senang loh!”
Ucapan dan tindakan Zenitsu berbeda dengan kenyataannya. Tanjiro yang melihatnya hanya diam sebentar akan tingkahnya.
“Indera penciumanku sangatlah tajam, dari awal aku sudah tahu ... kalau Zenitsu orang yang baik.”
“Tidak, aku tidak kuat. Jangan bercanda, aku masih belum memaafkanmu karena menghalangiku membawa Shoichi.”
Zenitsu marah dan Tanjiro bingung ingin menjawabnya bagaimana, dia memang salah karena Zenitsu sebelumnya merengek minta ampun. Pada saat itu juga, kotak yang dibawa Tanjiro bergerak-gerak menghasilkan suara.
“Wah!? Wah!? Eh!? Oni-nya keluar!? Oni itu keluar!?”
Zenitsu langsung beranjak dari futon miliknya. Tanjiro menenangkan Zenitsu bahwa akan baik-baik saja, namun Zenitsu menyangkalnya lagi.
Inosuke yang berbaring di futon-nya memikirkan kenapa Tanjiro tidak terprovokasi serta alasan beberapa kali kenapa Tanjiro marah. Namun Inosuke menyerah karena lupa.
Kotak kayu yang dibawa oleh Tanjiro terbuka pintunya, Zenitsu histeris karena mengetahui kotak itu tidak dikunci. Ia meminta perlindungan kepada Inosuke, namun dirinya ditendang dan terdorong ke dekat kotak tersebut seraya berguling-guling.
Oni dari dalam kotak keluar, Zenitsu langsung berdiri lalu membuka pintu geser yang di dalamnya berisikan futon. Pada mulut Oni itu terdapat bambu, ukuran tubuhnya kecil namun perlahan-lahan membesar menjadi ukuran normalnya.
Zenitsu terkejut karena Oni yang bersama Tanjiro adalah Oni yang cantik dan imut, itu yang ia pikirkan saat ini akan reaksi berlebihannya. Inosuke melihat Oni tersebut, namun dia langsung tidur tanpa memperdulikannya.
“Tanjiro ... kau ... ”
Tubuh Zenitsu mengeluarkan aliran listrik yang terlihat jelas oleh Tanjiro dan Yuuji.
“Kau beruntung sekali ya! Jadi kamu membawa gadis seimut ini! Kamu membawa gadis seimut ini setiap hari, dan melakukan perjalanan dengan penuh kebahagiaan, kan!?”
“Zenitsu ini tidak ... ”
Tanjiro ingin menghentikan amukan dan salah pahamnya, aliran listrik yang mengelilingi tubuhnya benar-benar membuat Yuuji terbingungkan. Mungkin suara petir ketika di kediaman Tsuzumi Zenitsu lah yang melakukannya.
“Balikin darah yang sudah kutumpahkan untukmu, nyet! Aku! Aku ini tidak menumpahkan darah agar kau bisa bermesraan setiap hari dengan gadis ini! Apa aku dihajar habis-habisan oleh babik agar kau bisa bermesra-mesraan dengan gadis itu!”
Zenitsu banyak tingkah dengan mengeluarkan air mata kekecewaan.
“Zenitsu tenanglah! Kenapa kau tiba-tiba marah?”
“Pemburu Iblis itu tidak boleh bermain-main orang sepertimu seharusnya musnah saja! Seka-rang-ju-ga!”
Zenitsu menunjukkan pedangnya kepada Tanjiro namun belum menariknya dari dalam sarung pedang.
“Oh iya, kau juga punya dosa menghalangi pernikahanku dan menghalangiku membawa Shoichi.”
Zenitsu menarik gagang pedangnya dari dalam sarung, terdapat corak aliran petir berwarna kuning pada pedang miliknya. Yuuji yang melihatnya mengerti kenapa pedang nichirin memiliki corak berbeda sesuai pengguna, karena dia memiliki corak pedang api berwarna hitam.
“Wak-tu-nya eksekusi! Jangan remehkan Pemburu Iblis!”
Zenitsu mengarahkan pedangnya kepada Tanjiro, mengejarnya ke sekeliling kamar mereka dan mengayunkannya namun Tanjiro menghindarinya.
“Pergilah ke neraka!”
__ADS_1
To Be Continue ....