Kimetsu No Yaiba : Kage

Kimetsu No Yaiba : Kage
Katana Nichirin


__ADS_3

“Ibusaki! Ambil karung beras yang ada di gudang!”


Seru seorang pria yang usianya baru menginjak kepala tiga, saat ini Yuuji menjadi seorang pesuruh kuli di sebuah desa di mana dirinya pernah tidur di salah satu pinggir sawah milik warga desa ini.


Untuk pulang membutuhkan banyak waktu dan uang, lagipula katana nichirin miliknya sedang dibuat saat ini. Maka sambil menunggu katana miliknya dibuat, Yuuji mengambil pekerjaan sebagai kuli di desa ini.


Sudah lima belas hari sejak seleksi terakhir ketika di Gunung Fujika. Ia masih belum mendapatkan kabar dari penempa pedang yang membuatkannya pedang nichirin. Untuk saat ini, dia fokus ke pekerjaannya saat ini sebagai kuli seraya melatih fisik dan pernapasannya.


Yuuji mengambil karung beras dari gudang, ia mengedarkannya ke beberapa rumah. Lagipula dia bekerja sebagai pesuruh dari Juragan Beras, maka tidak asing dalam sebelas hari ini dia sudah dikenal di desa yang terbilang cukup kecil ini.


Tidak ada lagi Oni yang menyentuh desa ini, setiap malam Yuuji selalu memasang jebakan kelontang yang terbuat dari kayu. Jika senar yang dipasang sejajar mengelilingi desa putus, alarmnya berupa kayu yang saling berbenturan akan menyala dan itulah pertanda Yuuji mulai bergerak.


Istirahat siang, Yuuji pergi ke tempat menginapnya saat ini yang berupa kandang kuda. Meskipun kandang kuda dia selalu membersihkan tempat ini, apalagi tidur di atas tumpukan jerami dan dilapisi dengan beberapa helai kain merupakan salah satu kenikmatan yang hakiki bagi Ibusaki Yuuji.


Kerja keras seperti ini tidak ada salahnya, yang penting ada uang untuk makan pikir Yuuji seraya berbaring di atas tumpukan jerami dan melihat kuda yang sedang makan. Ketika berniat untuk tidur sebentar, pintu yang tertutup kini terbuka dan terdapat seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng hyottoko.


“Apakah kau yang bernama Ibusaki Yuuji?”


Tanya pria yang mengenakan topeng hyottoko tersebut, Yuuji segera berdiri lalu mengiyakan pertanyaan tersebut. Ia buru-buru keluar dan memulai pembicaraan mereka di atas kursi kayu yang memanjang di luar kandang kuda.


“Namaku Kozo Kanamori yang menangani katana nichirin milikmu. Bahan untuk pedang nichirin bisa didapat dari gunung yang dekat dengan matahari. Bahan-bahan yang menciptakan besi bisa menyerap cahaya matahari.”


Kanamori mengeluarkan sebuah katana yang dibungkus dengan kain. Ia membukanya secara hati-hati lalu memberikannya kepada Yuuji yang ada di samping kirinya.


“Cabutlah katana nichirin itu, warna katana itu dapat berubah tergantung penggunanya.”


Ucap Kanamori, Yuuji menganggukan kepala lalu memegang sarung pedang tersebut menggunakan tangan kiri dan memegang gagangnya menggunakan tangan kanan dan perlahan-lahan ia mencabut katana miliknya.


Bilah besi katana tersebut mulai memiliki warna hitam yang memiliki corak layaknya api. Kanamori terkejut karena pedang yang berwarna hitam dan memiliki corak adalah suatu peristiwa yang cukup langka.


“Warna hitam dengan corak api ... aku tidak tahu apa artinya ini dan cukup langka.”


Ucap Kanamori seraya melihat Yuuji yang terpaku melihat katana nichirin miliknya memiliki corak api berwarna hitam. Setelah itu, Kanamori memberikan seragam Pemburu Iblis kepada Yuuji lalu pamit untuk pergi terlebih dahulu dan kembali ke desa tersembunyi di mana para penempa pedang nichirin ada.


Gagak Kasugai yang sudah hilang beberapa hari kembali, gagak tersebut bertengger di atas kepala Yuuji yang memiliki warna rambut hitam kecoklatan. Gagak Kasugai memberikan informasi kepada Yuuji untuk menyelesaikan misi pertama miliknya di sebuah kota di sebelah Selatan, ia mengerti dengan hal itu dan pada hari ini juga dia keluar dari pekerjaannya sebagai kuli Juragan Beras.


* * * * *


Yuuji pergi ke suatu kota yang ada di Selatan. Dia juga mengenakan seragam Pemburu Iblis miliknya yang berwarna hitam dengan corak kipas berwarna putih hampir pada seluruh permukaannya.

__ADS_1


Seragam tersebut terbuat dari bahan yang kuat, serangan Oni level rendah tidak akan melukainya. Seraya berpergian, Yuuji berjalan santai karena kota yang akan dituju olehnya membutuhkan waktu tiga jam dengan cara jalan kaki.


Katana nichirin yang dipinjam dari gurunya ia bawa sekalian, sehingga ia membawa dua katana nichirin sekaligus pada pinggang sebelah kirinya yang menempel. Sesekali, Yuuji istirahat di beberapa desa yang dilewatinya dan dalam tiga jam lebih dia tiba di kota Selatan yang dimaksud.


Memasuki kota tersebut dan berjalan di jalanan yang cukup sepi. Ia melihat-lihat sekeliling kota di mana berbagai toko dan rumah berjejer di sepanjang mata memandang. Itu hanya kedok sementara, Yuuji merasa ada sesuatu yang tertinggal di kota ini.


Apalagi beberapa penduduk lokal melakukan pembicaraan kecil tentang beberapa orang hilang, itu pun sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Yuuji istirahat sebentar seraya memakan bakpao isi daging ayam, insting bertahan hidupnya merasa ada yang janggal dengan kota ini.


Orang yang hilang di antaranya dikalangan anak kecil dan beberapa gadis muda. Mereka hilang ketika malam hari, maka tidak aneh lagi pelakunya adalah Oni yang menetap di kota ini. Namun aneh, meskipun Oni ini sudah menetap di kota ini mana mungkin masih belum tertangkap dan tidak diburu.


Setelah menelan bakpao terakhirnya, tenaganya perlahan-lahan pulih dan Yuuji melakukan peregangan kecil. Ada satu hal yang harus dilakukannya saat ini, mencari lokasi di mana orang-orang yang hilang terakhir kalinya terlihat.


Yuuji menyusuri jalan kecil dan beberapa persimpangan, ia tidak bisa mendeteksi jejak kaki Oni yang tertinggal. Namun ia tahu, setelah melihat jalanan sempit ini ia merasa ada yang janggal apalagi ketika di persimpangan yang ia lewati tadi.


“Oni yang merepotkan, bersembunyi di kota ini dan memangsa penduduk lokal tanpa diketahui sampai sekarang sangat merepotkan.”


Pikir Yuuji seraya jongkok dan memeriksa bekas kaki seseorang. Tidak ada yang aneh dengan tempat ini, Yuuji mulai berasumsi bahwa Oni yang ada di kota ini sangatlah cerdik dan jejak kaki yang ditinggalkannya bisa bersih tidak membekas.


“Pernapasan Bayangan Bentuk Keenam : Potongan Dimensi.”


Tiba-tiba saja Yuuji mengayunkan katana nichirin milik gurunya ke bagian tembok dinding pembatas jalan. Katana miliknya memotong sesuatu, Yuuji langsung memeriksa apa yang terpotong dan terdapat selembar kertas yang terpotong dan bekas sambungannya ada di dinding pembatas jalan.


“Jangan-jangan kertas ini yang membuat perasaanku tidak enak?”


Yuuji menyerah untuk hari pertama, ia lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dan bergerak di malam harinya. Malam hari adalah teman yang cocok baginya dan pada saat itu pula para Oni keluar dari sarang mereka untuk mencari mangsa.


* * * * *


Di atas menara yang menjadi tempat pengawasan kota terjadi. Di situlah Yuuji tengah memakan bakpao daging ayam seraya menikmati pemandangan bulan dengan cahayanya yang menyinari kota ini, dari atas terlihat cukup jelas orang-orang yang berkeliaran karena membawa lentera api sebagai penerangan di malam hari.


Yuuji tidak terlalu berharap jika Oni yang ia incar akan keluar. Karena itu ia bersantai dulu seraya menikmati kopi hitam sebagai teman di kala sendiri, meskipun ada Gagak Kasugai yang berdiam diri di depannya.


Seraya melihat-lihat ke bawah, Yuuji menandai beberapa orang yang berkeliaran di malam hari. Jika mereka hilang secara tiba-tiba maka Oni yang dia incar mulai bergerak.


Ketika Yuuji mengalihkan perhatiannya ke samping, perempuan yang bersama dengan anak kecil tadi seharusnya masih ada di tempat yang tadi. Namun, ia sosok dua manusia itu tiba-tiba hilang dan hanya meninggalkan lentera api di atas permukaan tanah.


Dengan segera ia langsung pergi menuruni tangga seraya membawa katana nichirin miliknya sedangkan milik gurunya ia gantungkan di pinggang sebelah kiri. Berlari menuju tempat di mana mereka berdua hilang, Yuuji mengandalkan insting bertahan hidupnya lalu memasang kuda-kuda untuk menyerang.


Perasaan janggal yang sebelumnya ia rasakan terjadi lagi. Yuuji mengayunkan katana miliknya ke arah dinding pembatas jalan, terdapat sepotong kertas yang jatuh ke atas permukaan tanah akan ayunan katana miliknya.

__ADS_1


“Sial!? Apa maksudnya ini!?”


Pikir Yuuji, ia segera pergi ke jalan yang lain di mana sebelumnya terdapat seorang perempuan yang berjalan seorang diri di malam hari. Dari persimpangan gang dari belakang, sosok perempuan yang tengah berjalan seorang diro di dekat dinding pembatas jalan terdapat dua tangan yang berniat meraihnya.


“Oni yang bisa masuk ke dalam dinding!?”


Pikir Yuuji, ia segera berlari lalu mencabut katana nichirin miliknya. Sebelum tangan Oni itu meraih perempuan tersebut, Yuuji memotong tangan kirinya hingga terjatuh ke atas permukaan tanah.


Perempuan tersebut menoleh ke belakang dan terkaget karena terdapat seseorang yang membawa katana dan orang tersebut adalah Yuuji. Ingin berteriak meminta tolong, namun Yuuji segera menendang perempuan tersebut karena tangan Oni tersebut keluar lagi dari dinding meskipun hanya tangan kanan.


Yuuji memutar tubuhnya lalu mengayunkan katana miliknya ke dinding di mana Oni tersebut bersembunyi. Tetapi, Oni tersebut kembali masuk dengan cepat dan Yuuji memotong sepotong kertas yang menempel di dinding tersebut.


“Sepotong kertas? Tidak mungkin!?”


Panik Yuuji seraya melihat perempuan tersebut sudah ditarik lehernya dari belakang dinding pembatas jalan seberangnya. Perempuan tersebut masuk ke dalam kertas, Yuuji segera bangkit lalu menarik kedua kaki perempuan tersebut karena hampir setengah badannya sudah tertelan ke dalam kertas.


Karena situasinya sangat rumit, Yuuji sekuat tenaga menarik perempuan tersebut dan pada akhirnya Oni tersebut kalah tenaga karena hanya menggunakan satu tangan saja. Perempuan yang ia tarik terjatuh dan mengalami syok karena situasi yang di luar akal manusia biasa.


“Kau tidak apa!?”


Panik Yuuji seraya melihat leher perempuan tersebut meninggalkan bekas cekikan berwarna merah. Sialnya lagi, perempuan tersebut kehilangan kesadarannya dan Yuuji segera bangkit dan mencoba untuk melindungi perempuan yang ada di belakangnya.


Tangan yang sudah ia potong sebelumnya kini hilang, terdapat beberapa lembar kertas menempel di dinding dan di atas permukaan tanah. Oni ini memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam kertas, itulah yang dipikirkan oleh Yuuji.


Tetapi ...


*Trang


Yuuji berhasil memotong selembar kertas yang melesat ke arahnya, jika ia tidak mengedepankan pedangnya mungkin saja kertas tersebut sudah menyayatnya lagipula kecepatannya cukup tinggi.


Dari kertas berukuran cukup besar, keluar dua tangan milik Oni yang kini menjadi musuh Yuuji. Dia perlahan-lahan keluar dari dalam kertas lalu berdiri dengan tangan kiri yang bergerak ke sana kemari.


Wujudnya cukup mengerikan, mulutnya sobek sampai ke pipi namun giginya amat runcing. Ia juga memiliki sebuah tanduk di dahinya yang mencuat ke atas, tangannya bergerak ke sana kemari yang dapat mengendalikan berbagai kertas sebagai senjatanya.


Kini, di sekelilingnya terdapat lembaran kertas yang memutar mengelilinginya lalu ia tersenyum lebar ke arah Yuuji seraya menunjukkan gigi-gigi miliknya yang runcing.


“Kau mengganggu sekali, akan kubunuh kau.”


Ucap Oni tersebut, ia mengayunkan kedua tangannya ke depan lalu lembaran kertas yang mengelilinginyanya terbang melesat ke arah Yuuji.

__ADS_1


“Sial!”


To Be continue ....


__ADS_2