Kimetsu No Yaiba : Kage

Kimetsu No Yaiba : Kage
Ketololan Yang Hakiki


__ADS_3

Inosuke berbaring di atas permukaan tanah dengan bantal menggunakan kimono jubah milik Tanjiro, sedangkan selimutnya menggunakan kimono jubah milik Zenitsu. Pedang ganda miliknya berada di samping kiri, dirinya tertidur lelap.


Inosuke membuka matanya, terdiam sebentar lalu berteriak entah kenapa dan apa yang ia pikirkan baru saja bangun. Melompat secara tiba-tiba dan membuat Zenitsu serta Yuuji yang ada di depannya terkejut akan teriakannya.


“Dia bangun!?”


“Gelud! Baku hantam!”


Inosuke mengejar Zenitsu yang tiba-tiba berlari, Yuuji yang ada di sampingnya diam saja dan melihat tingkah mereka berdua yang kejar-kejaran.


“Aku paling repot ketemu yang seperti ini!”


Seru Zenitsu seraya berlarian menghindari Inosuke yang mengejarnya. Teruko yang ada di depannya, dijadikan pertahan oleh Zenitsu dan ia bersembunyi di belakangnya yang membuat Inosuke berhenti.


Tanjiro dengan wajah bodohnya tengah mengangkat batu, mereka tengah mengubur mayat yang ada di rumah ini. Yuuji berjalan menghampiri Tanjiro lalu meletakkan batu yang dibawa olehnya di kuburan yang baru dibuat.


“Apa yang kalian lakukan!?”


“Lagi mengubur tahu. Inosuke, kamu juga ikutlah membantu. Di dalam kediaman itu masih ada beberapa orang yang terbunuh.”


Ucap Tanjiro kepada Inosuke seraya menunjuk ke arah rumah di mana terdapat Kyougai sebelumnya.


“Apa gunanya mengubur sisa-sisa makhluk hidup? Takkan kulakukan! Takkan kubantu! Yang lebih penting bertarunglah denganku!”


“Dia benar-benar aneh, ‘apa gunanya?’ katanya?”


Pikir Zenitsu dengan mata kiri masih berwarna ungu karena dihajar oleh Inosuke dan masih juga bersembunyi di balik Teruko.


“Begitu ya. Pasti karena lukamu masih sakit, makanya kamu tidak bisa membantu.”


Ucap Tanjiro dengan pikiran yang polos, dia benar-benar salah paham dengan keadaan saat ini.


“Mereka berdua benar-benar payah. Sama-sama tidak beres dua orang ini.”


Pikir Zenitsu dan Yuuji yang memahami situasinya. Yuuji menata batu lalu menimbun pasir di atas lubang kubur mayat yang diletakkan.


“Tanjiro, biar aku yang membawa mayat-mayatnya dari dalam kediaman. Luka kalian bertiga benar-benar parah, aku yang tidak terlalu banyak ambil bagian tidak terlalu terluka.”


“Ya, terima kasih Ibusaki.”


Ucap Tanjiro kepada Ibusaki yang tengah berjalan ke arah kediaman, Yuuji menanggapinya dengan lambaian tangan kanan dan memasuki kediaman untuk mengambil mayat yang akan dikubur.


“Tidak perlu, kalau menahan rasa sakit tiap orang memang berbeda-beda. Mengangkat jasadnya dari dalam kediaman lalu keluar, lalu menguburnya memang tugas yang berat. Biar Zenitsu, Ibusaki dan anak-anak ini yang melakukannya jadi Inosuke tenang saja.”


Ucap Tanjiro, Shoichi dan Kiyoshi yang ada di belakang Tanjiro berpikiran sama bahwa Tanjiro salah kaprah tentang situasi saat ini. Inosuke kesal, urat wajahnya bermunculan.


“Inosuke, kamu istirahat saja. Maaf sudah memaksamu ya.”


Ucap Tanjiro dengan polos dan wajah santainya benar-benar membuat Inosuke kesal. Tentu saja, Inosuke salah kaprah juga dengan situasi ini dan dirinya tiba-tiba berteriak.

__ADS_1


“Jangan remehkan aku! Mau seratus, mau dua ratus! Akan aku kubur mereka semua! Aku ini lebih jago mengubur dari siapapun!”


* * * * *


Waktu berlalu hingga langit berubah warna menjadi senja. Yuuji serta Tanjiro, Zenitsu dan anak-anak lainnya mendoakan orang-orang yang terbunuh di kediaman ini meski mereka tidak tahu siapa orangnya.


Suara berisik dari Inosuke seraya berlari, menubruk pohon yang kokoh seperti halnya babik hutan bertindak. Teruko yang melihat tingkahnya bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Inosuke.


“Apa yang sedang dilakukan orang itu?”


“Jangan dilihat.”


Jawab sang Kakak Kiyoshi, di samping kirinya terdapat Shoichi yang menanggapinya dengan anggukan kepala.


Suara burung gagak terdengar dari arah Utara. Tanjiro, Zenitsu, serta Yuuji yang sedang berdoa teralihkan perhatiannya karena suara gagak tersebut.


“Turuni gunung! Turuni gunung!”


“Burung gagaknya bisa bicara!”


Seru Shoichi yang terkejut akan sosok kedatangan Gagak Kasugai itu.


“Tidak perlu memikirkan apapun lagi.”


Ucap Kiyoshi untuk menanggapi ucapan Shoichi. Gagak Kasugai itu terbang memutar di atas mereka.


“Ikuti aku!”


Inosuke yang membenturkan kepala ke pohon teralihkan perhatiannya akan Tanjiro dan yang lainnya berniat pergi menuruni gunung.


“Oi! Kau mau ke mana!?”


“Kami mau menuruni gunung.”


Jawab Tanjiro, Inosuke tetap ngotot untuk bertarung lagi melawan Tanjiro.


“Kamu pasti lelah, kan? Sudahlah, kami mau turun.”


“Aku sama sekali tidak lelah! Ayo bertarung!”


* * * * *


“Tidak boleh tidak boleh! Shoichi kamu ini kuat! Shoichi kau harus melindungiku!”


Zenitsu merengek kepada Shoichi seraya duduk di atas permukaan tanah menempel pada kaki Shoichi. Memang benar, Zenitsu sebelumnya bertarung melawan Oni dan hanya satu serangan ia dapat mengalahkannya.


Pernapasan petir, itu adalah aliran napas yang digunakan oleh Zenitsu. Zenitsu adalah penakut yang sangat kuat dari siapapun.


“Shoici tidak menyukainya!”

__ADS_1


“Jangan tinggalkan aku!”


“Sudahlah hentikan ini!”


Tanjiro yang mulai marah menyerang leher Zenitsu karena kesal akan tingkahnya. Zenitsu tiba-tiba terkapar setelah menerima serangan Tanjiro, air liur keluar dari mulutnya dan ia tidak sadarkan diri.


“Ulurkan tanganmu.”


Perintah Gagak Kasugai kepada Kiyoshi, dia menuruti perkataan Gagak Kasugai lalu tangannya dikotori oleh kotoran Gagak Kasugai tersebut namun ada suatu kantong kecil yang di dalamnya terdapat bahan pengusir Oni.


Bunga Wisteria, bunga yang memiliki aroma tidak disukai oleh mereka dapat melindungi Shoichi yang memiliki darah langka. Sebelumnya Oni yang dikalahkan Tanjiro yaitu Kyougai mengincar Kiyoshi yang memiliki darah langka, entah apa alasannya.


Kiyoshi serta kedua Adiknya berterima kasih, mereka berpisah di tempat ini dan Tanjiro serta Ibusaki melambaikan tangannya dan Kiyoshi serta kedua Adiknya melambai balik.


* * * * *


“Ayo bertarung! Aku pasti akan menemukan celah darimu dan mengalahkanmu!”


“Aku ini punya nama! Namaku Kamado Tanjiro!”


“Kalian berdua ini benar-benar berisik.”


Ucap Yuuji di samping kiri Tanjiro, sedangkan Inosuke berjalan di samping kanan Tanjiro seraya menggendong Zenitsu dan membawa kotak berisi Iblis di pangkuannya.


“Kamaboko Konpachiro. Kau akan kukalahkan!”


Seru Inosuke dengan melakukan sedikit gaya, tentu saja Tanjiro yang mendengar namanya menjadi aneh marah akan hal itu.


“Nama siapa itu!?


“Namamu!”


“Salah orang!”


“Berisik tahu!”


Zenitsu menyela pembicaraan mereka berdua, ya benar-benar berisik sedari tadi.


“Benar juga, terima kasih Ibusaki karena telah membantuku.”


Ucap Tanjiro, Yuuji menganggukkan kepalanya lalu menepuk pundak Tanjiro. Inosuke pun menepuk pundak Tanjiro yang berada di sisi lainnya.


“Inosuke, ini bukan persaingan bodoh.”


“Apa katamu Iboko Yusuke!”


“Siapa itu!?”


Bentak balik Yuuji kepada Inosuke, Tanjiro menanyakan alasanku karena dia belum melihatku pernah bertukar nama dengan Inosuke. Yuuji menceritakan bahwa dia sudah mengenal Inosuke sebelum sampai di kediaman Tsuzumi.

__ADS_1


“Kamaboko Konpachiro! Bertarunglah denganku!”


To Be Continue ....


__ADS_2