
Satu Oni dengan tiga gendang yang menempel di tubuhnya. Satu di bahu kanan, satu di bahu kiri, dan satu lagi berada di tengah perutnya.
Inosuke menginjak anak perempuan dengan dua tangannya yang menggenggam katana bergerigi. Tanjiro yang ada di dekatnya, melihat sosok Inosuke yang memakai topeng.
“Ruangannya berputar-putar, menarik sekali ... menarik sekali!”
Setelah itu, Inosuke tertawa terkekeh geli akan situasi yang dialaminya saat ini. Tanjiro dengan cepat berlari ke arahnya, menggenggam erat kaki kanannya lalu melemparnl Inosuke ke samping kiri dengan tenaga yang kuat.
“Jangan menginjak tubuh orang lain seenaknya!”
Inosuke menahan efek dorongan, menatap Tanjiro yang tengah memeluk anak kecil yang diinjak oleh Inosuke.
“Apa yang kau lakukan?”
“Menginjak tubuh anak kecil, apa yang kau pikirkan!?”
Inosuke menanggapi pertanyaan Tanjiro dengan tawa yang bergema lalu memasang kuda-kuda dengan kedua pedang yang disilangkan di sebelah kanan.
“Boleh juga! Baru kali ini aku dilempar oleh manusia!”
Inosuke langsung menerjang Tanjiro lalu mengayunkan kedua pedangnya dengan menyilang ke depan. Tanjiro menghindar ke belakang bersama anak kecil yang ia pangku.
“Kenapa dia menyerangku? Bukannya dia seorang Pemburu Iblis?”
Pikir Tanjiro, Yuuji berpikir untuk menghentikan Inosuke yang asal menyerang orang lain dengan pola pikir yang pendek.
“Tebasan pedangku ini menyakitkan, bukan pedang untuk bocah! Sekali kena tebas, terasa seperti seribu tebasan!”
“Hentikan! Di sana ada Iblis tahu!”
“Aku tidak peduli!”
Inosuke kembali bergerak maju berniat menyerang Tanjiro. Namun, Oni yang ada di dekat mereka bergumam lalu menyerang Inosuke dan Tanjiro dengan sesuatu yang tidak terlihat berupa senjata miliknya setelah memukul gendang yang ada di perutnya.
Yuuji yang melihatnya terbingungkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Oni tersebut. Ia berasumsi bahwa Oni dengan gendang di tubuhnya itu adalah pengendali bangunan ini.
Permukaan lantai berupa tatami terbelah, layaknya cakaran binatang buas tiga garis.
Oni itu kembali memukul gendang di perutnya, serangan tersebut tertuju kepada Inosuke yang segera menghindar sehingga pintu ruangan geser yang ada di belakangnya rusak.
__ADS_1
Oni itu memukul gendang di bahu sebelah kanannya, ruangan berputar ke arah kanan dan Yuuji serta Tanjiro melompat untuk mengimbangi gravitasi. Memukul gendang di bahu sebelah kiri, ruangan kembali berputar ke keadaan semula namun hanya Inosuke yang tidak bisa mengimbangi hingga ia masuk ke dalam ruangan lain karena terjatuh.
Yuuji segera menghunuskan katana nichirin miliknya lalu berlari ke arah Oni yang berdiri seraya melihat kedua tangannya. Ketika ia mengayunkannya, tiba-tiba ruangan berubah entah apa sebabnya padahal Oni tersebut tidak memukul gendang di tubuhnya sama sekali.
“Tanjirou, kita berpisah.”
Yuuji segera memasuki ruangan di mana Oni yang sebelumnya berdiri di dalam ruangan lain. Namun, Oni itu sudah berpindah ke ruangan lain. Ketika Yuuji berniat kembali, ruangan yang ditempatinya tiba-tiba berganti sekali.
Yuuji berasumsi bahwa ruangan yang dapat berubah-ubah ini penyebabnya bukan pada Oni yang memiliki gendang di tubuhnya. Karena terlihat gendang bahu kanan dan kiri untuk mengubah rotasi ruangan, sedangkan gendang di perut untuk menyerang.
Yuuji berjalan ke ruangan lain seraya menggenggam erat katana nichirin miliknya. Suara Zenitsu yang berteriak terdengar cukup samar, Yuuji segera pergi ke sumber suara namun dirinya bertemu dengan Inosuke ketika berpas-pasan di tikungan titik buta.
*Trang
Mereka berdua saling menyerang karena tidak tahu mana kawan mana musuh. Setelah saling mengayunkan pedang, mereka berdua menurunkan pedangnya lalu Inosuke kembali berlari meninggalkan Yuuji.
Hanya saja Inosuke menghiraukan suara Yuuji yang bertanya padanya. Mengejar Inosuke mungkin hal yang tepat, namun kemampuan berlarinya amat cepat hingga Yuuji yang belum siap berlari tertinggal.
Lorong ini amat gelap, Yuuji dan Inosuke dapat mengenali satu sama lain berasal dari hawa, napas, serta gerakan ayunan yang telah mereka kenali. Karena itu, meskipun di tempat gelap Yuuji dan Inosuke bisa saling mengenali satu sama lain.
Terdengar suara seperti sambaran petir, meski samar daya gemuruhnya tidak terlalu kuat dan hanya sekejap. Padahal tidak ada badai maupun hujan, suara petir tersebut tentu jelas tidak benar sama sekali.
Yuuji berjalan di lorong yang gelap dengan arah yang berlawanan dengan Inosuke. Dia harus mencari penyebab kenapa ruangan di rumah ini dapat berganti ke ruangan lain, karena akan merepotkan melawan Oni yang dapat mengendalikan bangunan serta ruangan apalagi serangannya tidak terlihat.
“Tersisa satu Oni, jika Inosuke dan Tanjirou bertemu lagi mungkin dia akan menyerangnya. Haruskah aku pergi mencari mereka kembali? Luka Tanjirou mungkin sudah sangat parah jika melawan Oni tadi.”
Pikir Yuuji seraya berjalan di lorong mencari Oni serta tiga Pemburu Iblis yang ada di bangunan ini. Dan baru saja Yuuji menyadari, sejak tadi dia berjalan di lorong yang sama dan tidak menemui ujung lorong sama sekali.
“Apa-apaan tempat ini? Tidak jelas sekali.”
Yuuji berhenti sejenak lalu mengambil napas beberapa kali hingga udara menyebar di seluruh tubuhnya. Kemudian dia melakukan pernapasan untuk menguatkan fisiknya.
“Konsentrasi maksimal, pernapasan bayangan.”
Setelah mengambil napas panjang, Yuuji segera pergi ke tempat lain dengan mengandalkan instingnya pergi ke beberapa ruangan dan menghancurkan pintunya sebagai tanda. Beberapa ruangan masukin dengan cepat namun keberadaan Oni serta tiga Pemburu Iblis lainnya masih belum ketemu.
Di pintu terusan ruangan terdapat satu pintu geser, Yuuji akhirnya menemukan pintu di mana Tanjirou tengah berlari mengitari ruangan dengan cepat dan itu benar-benar Teknik Napas dari aliran yang lain.
“Kyougai! Seni Darah Iblis milikmu memang hebat!”
__ADS_1
Setelah mengatakannya seraya melayang di udara, Tanjiro mengayunkan pedangnya tepat di leher Oni yang bernama Kyougai hingga kepalanya terpisah dengan tubuhnya.
Tanjiro mendarat, mengambil napas untuk memenuhi tubuhnya yang kelelahan setelah menggunakan Teknik Napas yang berlari mengitari ruangan. Dia tersentak dan bertekuk di permukaan lantai seraya memegangi dadanya.
Saat itu juga, Yuuji melihat kehebatan Tanjiro yang dapat mengalahkan Kyougai dalam sekejap meskipun Tanjiro kelelahan apalagi merasakan sakit karena tubuhnya terluka akan pertarungan sebelumnya.
“Hei bocah, apa Seni Darah Iblis milikku benar-benar hebat?”
Kyougai masih dapat berbicara dengan kepala yang terpisah dengan tubuhnya dan itu membuat Yuuji terdiam karena mengetahui Oni dapat bertahan meskipun kepalanya terpisah dengan tubuhnya.
“Hebat sekali, aku tidak bisa memaafkan pembunuhan manusia.”
“Begitu ya ... ”
Perlahan-lahan kepala Kyougai menghilang, tubuhnya pun mulai terkikis menghilang. Yuuji menghampiri Tanjiro yang tengah melempar pisau kecil ke tubuh Kyougai, ia berjongkok untuk mengambil pisau kecil tersebut dan memeriksanya.
“Maafkan aku karena terlambat untuk membantumu Tanjiro. Apa yang kau lakukan?”
“Ah Ibusaki, aku—”
*Meong
Terdengar suara kucing mengeong, entah dari mana kucing tersebut tiba-tiba muncul di dekat mereka berdua.
“Kucing!? Jadi kamu yang jadi kurir ke tempatnya Nona Tamayo, ya?”
Yuuji dapat mengambil beberapa informasi hanya dengan kalimat yang dikatakan oleh Tanjiro. Pertama Nona Tamayo, kemungkinan besar dia memiliki keterkaitan dengan tujuan Tanjiro serta pisau kecil tersebut berisi darah Kyougai dan kemungkinan besar Tanjiro tengah mencari solusi untuk masalahnya.
Tanjiro memasukkan pisau kecil berisi darah Kyougai ke dalam kantong kecil di punggung kucing. Ia menutupnya kembali lalu mengelus rambutnya dengan lembut.
“Baiklah, dengan ini selesai. Hati-hati di jalan.”
Kucing tersebut berjalan menjauhi Tanjiro, ketika mengeong wujud kucing tersebut menghilang sama seperti sebelumnya di mana dia datang secara tiba-tiba.
“Kita pergi dari sini Tanjiro, beberapa Oni yang ada di bangunan ini kemungkinan sudah dibereskan.”
“Ya, sebelumnya ada dua anak yang bersamaku. Aku harus mencarinya.”
Sebelum itu, tiba-tiba saja Yuuji memukul punggungnya dan tentu saja Tanjiro berteriak kesakitan akan luka yang disebabkan ketika bertarung melawan Kyougai.
__ADS_1
“Jangan memaksakan dirimu, berikutnya aku yang mengurusnya.”
To Be Continue ....