
Tanjiro meluncur dengan kecepatan tinggi, ketika berhadapan dengan Inosuke ia membuat gerakan rendah lalu memukul perut Inosuke sekuat tenaga hingga suara retak empat tulang rusuknya patah.
Tentu saja, Inosuke kesakitan dan ia terhempas akan pukulan Tanjiro yang telak padanya. Zenitsu yang melihatnya, terkejut karena tulang sosok pemakai topeng itu patah oleh pukulan Tanjiro.
“Tulangnya patah!?”
“Bukankah kau anggota Pemburu Iblis!?”
Tanjiro benar-benar marah, sangat marah akan sosok Pemburu Iblis yang mengenakan topeng babik.
“Apa kau tak mengerti kenapa Zenitsu tidak mencabut pedang miliknya? Karena sesama anggota Pemburu Iblis itu dilarang saling mengacungkan pedangnya! Dan kau malah menikmati ... rasa sakit rekanmu?”
Tanjiro benar-benar marah kepada sosok Pemburu Iblis yang kini terkapar di atas permukaan tanah. Ia menggenggam erat tangan kanannya akan bentuk kekesalan Tanjiro.
“Kau sangat ... tidak tahu diri!”
Inosuke yang terkapar mulai batuk beberapa kali seraya menahan rasa sakit di perutnya. Namun, perlahan-lahan suara batuk itu berubah menjadi suara tawanya yang khas.
“Begitu rupanya. Maaf ya ... kalau begitu, kita bertarung dengan tangan kosong.”
“Tidak! Kau benar-benar telah salah paham!”
Tanjiro mengedepankan tangannya akan menyadari Inosuke yang salah paham akan perkataannya. Inosuke menendang kakinya ke atas dan berdiri dengan efek jatuh yang dilakukannya, ia segera berlari ke arah Tanjiro untuk bertarung dengan tangan kosong.
“Sesama Pemburu Iblis tidak boleh bertarung!”
Tanjiro menolak untuk bertarung dengan dua tangannya melakukan gerakan isyarat menolak. Namun, Inosuke menghiraukannya dan langsung maju menendang Tanjiro.
Gerakan Inosuke sangat cepat, ia menyerang Tanjiro membabi buta meksipun dapat Tanjiro hindari. Setelah melakukan tendangan, Inosuke menempel ke atas tubuh Tanjiro lalu memutar-mutar badannya beberapa kali dan menjatuhkan Tanjiro.
Tetapi, Tanjiro tetap tidak jatuh sehingga Inosuke menambah serangannya dengan tendangan memutar akan kedua tangannya yang menopang tubuh untuk berputar.
Yuuji yang melihat pertarungan Inosuke serta Tanjiro berjalan menghampiri Zenitsu untuk melihat lukanya. Zenitsu dan Yuuji juga terkejut, Inosuke dapat melakukan gerakan macam itu yang bahkan mereka berdua tidak mengerti akan pola serangannya.
Apalagi, mereka juga tahu bahwa Inosuke dan Tanjiro mengalami luka yang parah dengan bagian dalamnya yang patah. Tentu saja, pertarungan antara dua orang yang terluka tidak dapat dilerai oleh Yuuji meskipun dia ingin menghentikan mereka berdua.
“Kau tidak apa Zenitsu, Shoichi ... kenapa kau menangis terus?”
“Ibusaki, kau tidak apa?”
“Seharusnya kau mengkhawatirkan lukamu. Dari pada itu, aku tidak bisa menghentikan pertarungan antara mereka berdua.”
Inosuke berlari dengan tubuh yang rendah lalu melompat ke arah depan, berguling dengan cepat menendang kaki Tanjiro yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Inosuke melanjutkan serangannya dengan tendangan ke depan yang membuat Tanjiro terhempas.
Tanjiro tidak mau kalah, ia menendang bagian atas Inosuke dengan cepat namun gerakan Inosuke yang benar-benar lentur menghindari serangan Tanjiro yang cepat. Kini, mereka berdua saling bertatapan meskipun Inosuke menggunakan topeng.
Inosuke memukul Tanjiro dengan kuat hingga membuatnya terpental. Mengambil napas dengan posisi tubuh merendah, Inosuke melompat untuk memperpendek jarak antara dirinya dengan Tanjiro.
“Berarti, Tanjiro sendiri juga melanggar peraturannya, kan? Tulangnya juga patah.”
Ucap Zenitsu yang masih memeluk kotak milik Tanjiro, Yuuji dan Shoichi mengelap wajahnya yang terluka seraya melihat pertarungan membabi buta antara Inosuke dan Tanjiro.
Inosuke menempel ke tubuh Tanjiro dengan cepat dengan gerakan kuncian leher menggunakan kedua kakinya. Menjatuhkan Tanjiro dengan berat tubuhnya dengan cepat, namun Tanjiro segera bangkit melakukan serangan balik dengan sundulan kepala ke wajah Inosuke yang ditahan menggunakan tangannya.
__ADS_1
Inosuke merendahkan kembali tubuhnya yang lentur, menendang kaki Tanjiro dua kali dengan cepat. Tanjiro dapat menghindarinya dengan mundur, tetapi Inosuke melompat dengan gerakan meluncur serangan sundulan yang mengenai dada Tanjiro.
Dua serangan diluncurkan oleh Inosuke dengan cepat mengenai Tanjiro, Ia melalukan serangan balik dengan tendangan ke atas namun Inosuke menghindarinya dengan tubuh merendah.
Inosuke mengambil napas, ia menyerang Tanjiro dengan bertubi-tubi namun dengan area rendah bagian bawah tubuh. Tanjiro terus menahan pukulan Inosuke yang mengarah ke tubuh bagian bawahnya.
Tanjiro menyadari, Inosuke yang menyerang dengan serangan rendah dan bertubi-tubi bagaikan binatang berkaki empat yang telah menggambarkan pola serangan babik hutan.
Tanjiro menghindari, menyerang Inosuke serendah mungkin dengan menopang tubuhnya dengan tangan kiri lalu mengayunkan kakinya serendah mungkin. Tubuh lentur Inosuke melakukan gerakan tiarap secara tiba-tiba, Zenitsu dan Yuuji yang melihat kelenturan tubuhnya benar-benar muak karena Inosuke di luar nalar mereka.
Dengan memanfaatkan tubuh yang merendah, Inosuke menginjak kepala Tanjiro dengan gerakan dua tangan menopang tubuhnya sedangkan kakinya yang lentur dapat menyerang dengan cepat.
Kelenturan sendi-sendi tubuhnya benar-benar tidak normal dan Tanjiro menyadarinya. Inosuke mundur sementara dengan melompat ke belakang lalu memutar-mutar badannya meskipun tubuhnya terluka.
“Aku hebat, kan!? Aku hebat, kan!?”
“Dia mengucapkannya dua kali?”
Pikir Zenitsu, Yuuji yang ada di sampingnya mengurus Kiyoshi, Teruko, dan Shoichi yang berkumpul kembali.
“Aku juga bisa melakukan hal seperti ini!”
Inosuke melakukan gerakan kuyang, menahan kedua kakinya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar memasukkan kepalanya ke celah antara dua kaki dan itu pastinya menyakitkan dengan tulang yang patah.
“Hentikan! Jangan melakukan hal seperti itu! Berhentilah merusak tulang-tulangmu! Tubuhmu bisa rusak!”
“Bukankah itu bagus?”
Inosuke mengubah posisinya yang aneh menjadi berdiri tegak, berlari menuju Tanjiro dengan cepat seraya mengepalkan tangan kanannya.
Inosuke memukul Tanjiro dengan menyilang menggunakan kedua tangannya dengan cepat.
“Pikirkanlah juga masa depanmu!”
Tanjiro menghindari beberapa serangan Inosuke yang meluncur ke arahnya, tendangannya pun dihindari dengan cepat oleh Tanjiro. Dengan menggenggam kedua pundak Inosuke yang pergerakannya terhenti, Tanjiro berniat adu sundul dengan Inosuke.
“Tenanglah sedikit!”
Dua jidat diadu dengan hebat, suara tengkorak yang terbentur benar-benar terdengar amat jelas. Zenitsu berteriak histeris seraya memegangi dahinya.
“Suara ini ... apa tengkorak mereka masih utuh!?”
“Gawat, mereka ini sebenarnya sedang apa!?”
Pikir Yuuji yang merinding mendengar tengkorak kepala diadu dengan kuat. Langkah Inosuke terhuyung-huyung mundur, topeng yang ia kenakan terjatuh dan wajah Inosuke terlihat jelas oleh mereka.
“Cewek!? Wajahnya!?”
Reaksi akan Zenitsu benar-benar menarik, Inosuke memegangi dahinya yang terluka mengeluarkan darah segar.
“Memangnya kenapa, sialan? Ada yang salah dengan wajahku?”
“Benar-benar orang yang menjijikan. Bagian tubuh berotot, tapi wajahnya cewek banget.”
__ADS_1
Ya, sosok Inosuke dapat digambarkan dengan tubuh L-Men tapi wajah Kiranti.
“Ada apa? Kenapa kau melototi wajahku!?”
Tanya Inosuke kepada Zenitsu yang menatap wajahnya. Zenitsu segera pergi dan berlari ke arah Kiyoshi dan dua adiknya, sedangkan Yuuji masih memikirkan rasa sakit yang dialami Inosuke setelah ada kepala dengan Tanjiro.
“Bu-bukan seperti itu!? Aku tidak melihatnya.”
Ucap Zenitsu seraya bersembunyi di balik Teruko dan memeluknya, dia benar-benar ketakutan dari wajahnya sudah terlihat.
“Aku tidak masalah dengan wajahmu! Bersih dan rapi serta kulit agak kemerahan itu bagus!”
Jelas Tanjiro tanpa ada kebohongan sedikit pun setelah melihat sosok Inosuke yang sebenarnya.
“Kubunuh kau! Sini maju!”
“Tidak boleh! Aku tidak akan bertarung denganmu lagi!”
“Coba benturkan kembali kepalamu!”
“Tidak mau!”
“Ayo lakukan!”
“Kamu cobalah tenang sedikit! Kau baik-baik saja!?”
“Woi jidat lebar, akan kuberitahu namaku. Namaku Hashibira Inosuke, ingatlah baik-baik!”
“Bagaimana mengeja namamu!?”
“Pengeja— a-aku tidak bisa membaca atau menulis tahu! Namaku tertulis di celana—”
Perkataan Inosuke terhenti dengan tangan kanannya yang menunjuk ke dadanya sendiri.
“Ada apa dengannya?”
Tanya Zenitsu kepada Shoichi dan lainnya, dia benar-benar berhenti dan tidak bergerak sama sekali.
“Ada apa?”
Tanya Tanjiro, Inosuke mulai roboh dengan kedua matanya yang bergerak ke atas dengan tiba-tiba. Ia terjatuh dengan mulut berbudah, sepertinya benturan kepala tadi benar-benar membuat gegar otak.
“Dia terkapar!? Dia mati!?”
Teriak Zenitsu, Yuuji segera menghampiri Inosuke yang terkapar untuk mengecek keadaannya.
“Dia tidak mati, mungkin cuma pingsan. Soalnya aku membenturkan kepalaku sangat kuat.”
“Benar, seperti yang dikatakan Tanjiro. Inosuke tidak sadarkan diri akan serangan yang menuju otaknya langsung.”
Ucap Yuuji setelah melihat keadaan Inosuke, Teruko yang ada di belakang Tanjiro mencoba memegang dahi Tanjiro yang keras.
“Ngeri ... kepalanya juga tidak berdarah. Sekerar apa kepalanya? Soalnya sampai membuat si babik pingsan.
__ADS_1
Pikir Zenitsu yang membandingkan antara dahi Tanjiro yang tidak terluka sama sekali sedangkan Inosuke mengeluarkan darah segar.
To Be Continue ...