
PERJODOHAN SEPIHAK
suasana langit yang biru terlihat sangat cerah dikala akan bertemu sang pujaan hati, hembusan angin sejuk berhembus dari selatan membelai mesra tubuh yang letih dari debu debu kehidupan saat ini sedikit ter obati oleh hangatnya sinar kuning dari langit. Sudah dua bulan berlalu dan Rangga berniat menemui Ana di waktu luang nya, ia ingin mengajaknya jalan jalan keliling kota sambil menikmati hasil jerih payah yang selama ini rangga dapat kan, di kontrak satu tahun oleh tim sekaliber RRQ membuat kehidupan perekonomian dan dapur rumah menjadi cukup teratasi namun saat bertemu Ana di tempat biasa di taman alun alun kota, Ia terlihat seperti tidak baik baik saja. Wajah dan senyuman Ana pun tidak seperti biasanya? ada apakah..? " kenapa, kamu seperti habis menangis..?" tanya rangga. "tidak, tidak apa ko.., he.. aku agak kurang sehat hari ini." jawab Ana berbohong. " ya sudah kita pulang aja kalau kamu lagi ga enak badan." ajak rangga pulang. "tidak..! aku ingin besama mu." tegas Ana. "lebih baik kita cari makan yu.. aku lapar. " ajak rangga. "iya ayo lebih baik makan saja dari pada dipikirin." mendengar pernyataan Ana tadi. " memangnya apa yang kamu pikirkan Ana..?" Rangga penasaran. " aku memikirkan tugas kuliah yang harus selesai minggu ini." jelas Ana berbohong lagi. "ya sudah ayo." kata rangga sambil memegang tangan kanan Ana untuk pergi mencari tempat makan.
__ADS_1
Ana yang merasa bingung dengan apa yang menjadi keputusan orangtua nya Dan enggan menceritakannya pada Rangga karena takut akan semua hal yang tidak terduga yang membuat Rangga berubah. "gw ga tau harus bagaimana ini..?, gw ga mau dijodohkan.., apa yang harus gw lakukan sekarang..?" ucap Ana dalam hatinya yang memegang erat genggaman tangan Rangga. "hari ini aku akan traktir kamu makan." ucap Rangga senang. " asik dong.. hehe.. sepuas nya ya.." jawab ana yang padahal isi kepalanya sedang bingung yang menolak untuk di jodohkan dan disisi lain kedua orangtua nya terus memohon. Dan terlintas dalam benak Ana untuk membawa Rangga kerumahnya dan mengenalkan langsung pada kedua orangtua nya bahwa ini adalah pilihanku.
"tapi kira kira.. apa reaksi orangtua gw kalau Rangga gw ajak kerumah." pikir Ana. "ah.. bodo amat gw mau lihat aja apa yang akan terjadi nanti, apa mungkin Rangga dapat mengatasinya untuk mempertahankan gw." ungkap Ana lagi dalam benak nya.
__ADS_1
Dikota kota besar dan ramai apa lagi Jakarta, tidak akan sulit untuk mencari makanan untuk mengisi perut yang lapar, beraneka macam kuliner semua tersedia dari mulai jajanan kaki lima sampai cafe dan restoran, Rangga dan Ana tengah menikmati kebersamaan nya diantara hiruk pikuk keadaan kota yang berisik itu. "kamu mau nyari makanan apa..?" tanya Rangga. "aku pengen makan seblak extra super pedas dan nasi kebuli khas timur tengah yang dipadukan dengan jus alpukat ala buatan lokal." jawab Ana. "seblak..?" ucap rangga. "iya seblak. kenapa..? ga suka ya..?". tanya ana. " suka ko.. iya ayo kita cari seblak, tapi punya ku jangan pedas ya.. hehe..., terakhir kamu ngasih seblak, sebenarnya aku moncor empat kali keluar masuk kamar mandi." jawab rangga. "hahaha... selemah itukah si bro.. si tanker yang tahan damage sekampung kalah sama pedas nya seblak.. hahaha.." Ana tertawa mendengar pengakuan Rangga. "hehehe.. " Rangga hanya tersenyum saja. "kenapa waktu itu kamu memakannya..?" tanya Ana lagi. "a.. aku memang suka seblak hehe.. tapi jangan kepedasan ya sekarang mah." ungkap Rangga. "hmm..., sosok apa ya jika seorang laki laki tidak menyukai pedas..?, apa dia punya maag kah.. atau...?" Ana mengira ngira. "haha.. ga gitu juga konteks nya Ana sayang.." rayu Rangga. "a hahaha... " tawa Ana.
Jajanan kaki lima yang super murah namun tidak murahan untuk masalah rasa memang berani diadu, Ana memilih makan di jajanan kaki lima saja di pinggiran jalanan kota metropolitan karena memang sudah kebiasaan saja. Dan selagi asik memakan makanan nya. "Rangga." ucap Ana. "ya kenapa." jawab Rangga. "aku ingin kamu mengantarku sampai rumah nanti pas pulang." pinta Ana. "memang nya ada apa..? aku selalu antar kamu kerumah kan..?" jawab Rangga. "iya.. tapi kali ini kamu harus bertemu dengan kedua orang tua ku." pinta Ana. "maksud..? iya deh akan aku lakukan sesuai permintaan mu.."jawab Rangga. " tapi..? kamu ga marah kan..?, atau merasa takut gitu..? selama ini kan kamu belum tahu sifat kedua orang tua ku..?" tanya Ana. "iya makanya akan aku cari tahu nanti pas ketemu orangtua mu.., dan kalau takut sih., aku ga pernah takut selama aku ada di jalur yang tepat." tegas Rangga pada Ana yakin bahwa tidak akan terjadi apa apa. "iya.. semoga saja akan baik baik saja." jawab Ana bingung.
__ADS_1
Tak terasa waktu terus turun menemani kebersamaan ini dan sudah di angka jam lima sore, langit langit awan sedikit mendung dan seperti nya hujan akan turun. "kita pulang sekarang." ucap Rangga. "takut kehujanan dijalan." kata Rangga lagi. "tunggu sebentar lagi, aku masih ingin duduk melihat suasana disini, beri aku waktu sepuluh menit saja." pinta Ana. "dari tadi aku perhatikan, seperti nya ada sesuatu yang kamu simpan dari ku..?" Rangga coba menebak nya dan Ana hanya diam saja tidak menjawab. "ada apa Ana..? cerita lah mungkin aku bisa bantu..?" kata Rangga. "iya.. nanti kamu akan tau semua nya nanti setelah di rumah ku." apa boleh buat, Ana tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat, dan yang pasti Rangga harus tahu dari mulut kedua orangtua ku, dan berharap semoga saja ia dapat mempertahanku. ungkap Ana di hatinya. "hmm.. ada apa sebenarnya..? mungkin orangtua nya hanya ingin tahu saja tentang aku, selama ini aku memang belum pernah bersalaman dengan mereka, aku hanya nganter Ana sampai depan rumah saja dan langsung cabut." Rangga berbicara dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu dicemaskan, semua akan baik seperti biasanya.
Rangga dan Ana bergegas pulang untuk menemui kedua orang tua ana, saat ini cuaca semakin mendung, angin kencang mulai datang menerpa tubuh Rangga dan ana, perlahan hujan gemerincik lembut turun di langit hitam menandakan bahwa sebentar lagi akan datang hujan lebat disertai angin yang kencang. Suara kilatan petir sesekali terdengar menggelegar di atas mega kelabu bercampur kegelisahan dalam diri. Ana masih berharap agar keputusan orangtua nya berubah saat bertemu dengan Rangga.
__ADS_1