Kisah Nyata

Kisah Nyata
Bab 10 Tak Ada Salahnya Mencoba part 3


__ADS_3

"iya mas..."


PoV Sri


Karena sedang datang bulan, jadi aku hanya menunggu Mas Udin yang sedang sholat di depan tv. Memang kami tak punya meja khusus untuk makan, cukup di atas tikar juga sudah alhamdulillah.


Ku siapkan 2 piring nasi, 1 mangkok isi rebusan daun singkong , beberapa ekor ikan asin dan 1 mangkok kecil buat sambal. Tak lupa juga 2 gelas teh hangat.


"Udah selesai, yuk makan , enak banget pasti ini, makin nggak sabar buat di masukin ke mulut" Kata Mas Udin yang sedikit membuatku terkejut, karena sedang fokus nonton tv.


"eh mas, kaget aku , ya udah yuk , itu di minum dulu"


"bismillah... slurrrrrppppp... ahhhhh, alhamdulillah nikmat sekali rasanya ma"


"iya udah di habisin dulu, kalau lagi makan jangan sambil bicara, nanti tersedak baru tau rasa" kataku menasehati, mumpung aku belum mulai makan.


Akhirnya dia menanggapi kataku hanya dengan manggut manggut.


Tak sampai 10 menit, Mas Udin sudah menyelesaikan semua yang ada di piringnya, sampai benar benar bersih. Padahal aku habis separuh aja belum.


"Alhamdulillah kenyang, habis ini aku langsung berangkat lagi ya"


Sekarang gantian aku yang manggut manggut, karena mulutku masih penuh dengan menu makan siang ini yang sangat nikmat.


'tok tok tok'


"Assalamualaikum, mbak sri...."


Siapa ya yang siang siang gini ke rumah. Aku yang bingung hanya saling bertatap dengan Mas Udin. Karena aku belum selesai makan, jadinya Mas Udin yang berdiri membukakan pintu.


"iya waalaikumsalam, eh Mbak Yati, ada apa mbak?"


"Mbak Sri nya ada mas? ini mau ngasih uang hasil jualan daun singkong tadi pagi, alhamdulillah habis, ini uangnya 15.000 ya"


"ohh iya mbak, makasih ya" jawab Mas Udin singkat, tapi sepertinya dia bingung karena aku belum bilang sama Mas Udin.


"terus nanti bilangin, kalau lagi ada sayur apa aja , terus mau di jual, langsung telvon saya aja, saya pamit dulu ya mas, assalamualaikum..."


"iya mbak waalaikumsalam..."


Setelah pintu di tutup, Mas Udin langsung duduk dan menatapku dengan tajam. Aku yang tidak biasa di gitukan langsung salah tingkah.

__ADS_1


"kalau memang banyak nggak papa kok di jual, tapi kalau sedikit , cukup di masak sendiri aja ya"


"huufftttt... aku kira kamu mau marah mas, soalnya aku nggak izin dulu sama kamu, hehe" kataku yang masih salah tingkah.


"nggak papa kok, kan kamu ikut nanam juga, yang penting kamu ikhlas ngelakuin apa aja"


"ikhlas banget kok mas, hehe" jawabku sambil senyum senyum memasukkan nasi ke dalam mulut.


Selesai makan, langsung ku cuci piring dan gelas yang kotor sekalian, biar nggak numpuk banyak, kalau udah banyak jadi males mau nyuci.


Sambil nyuci, aku kok kepikiran pepaya yang ada di ladang. Sepertinya tadi pagi waktu aku kesana sudah ada yang matang, sayangnya pohonnya tinggi. Takut kalau aku petik pakai kayu malah jadi rusak, kalau jatuh pun pasti akan hancur juga.


"Mas, tadi pas aku ke ladang ada buah pepaya yang udah matang , lumayan banyak. Kalau kamu nggak capek nanti di petik yaa, soalnya aku nggak nyampe, lumayan kalau di jual kan, hehe"


"Iya, mumpung masih jam segini, sebentar lagi aku ke ladang, kalau udah ku petik, kamu langsung telfon Mbak Yati ya ma" kata Mas Udin sambil pergi keluar rumah.


Setengah jam aku menunggu, akhirnya Mas Udin pulang juga. Ternyata dia tadi bawa kantong plastik yang besar untuk membawa pepayanya. Banyak juga, bahkan ada yang di bawa pakai tangan karena nggak muat.


"waaahh banyak juga ya mas, satu dua tiga empat..... sepuluh biji. Aku telfon Mbak Yati dulu ya" kataku dengan semangat.


"Halo Mbak Yati, ini aku ada buah pepaya, udah matang , ada 10 biji , mau di ambil kapan?"


"Oh iya mbak, kebetulan tadi banyak yang nanyain buah pepaya, sebentar lagi aku kesitu ya" jawab Mbak Yati di seberang telfon, dia tak kalah semangatnya seperti aku.


"iya mbak" tut tut tut.


Sambungan telfon ku tutup, alhamdulillah ya Allah, tak apa sedikit sedikit kaya gini, yang penting lancar terus.


"Mbak Yati bilang apa ma?" ternyata ada penasaran juga ini.


"Mau kesini mas, kebetulan tadi ada yang nanya pepaya matang katanya"


"wah, alhamdulillah yaa, semoga hasil ladang kita terus ada, walaupun sedikit nggak apa apa, asal lancar ya ma"


Ternyata doa Mas Udin sama dengan pikiranku barusan.


"Ya udah sana kalau mau berangkat jualan lagi"


"Eh kamu ngusir nih ceritanya" aku kaget tiba tiba Mas Udin bicara seperti itu.


"nggak gitu maksudnya mas, duh , maaf maaf, kalau kamu capek mau istirahat dulu ya nggak apa apa kok" kataku mencoba memelas supaya Mas Udin nggak marah.

__ADS_1


"hahahaha kamu nih, baperan banget , di gituin aja langsung takut, hahaha"


Aku yang tadi sudah takut mendadak pingin ku cubit mulutnya, biar nggak keterusan bikin deg degan.


"aduh aduh sakit ma, sakit , bercanda doang ma, aduhhh" Kata Mas Udin yang masih terus meringis menahan sakit dan memegangi lengannya yang aku cubit.


"Makanya jangan di biasakan kaya gitu" kataku kali ini dengan mulut yang mulai manyun.


"Iya iya maaf yaaa, hehe ya udah aku berangkat dulu, assalamualaikum"


"hmm, waalaikumsalam, hati hati" jawabku singkat. Masih sebel rasanya.


"jangan marah lagi yaa, muah hahaha"


Udah seperti abg aja, pake acara muah muahan. Lupa kali ya kalau udah punya anak satu, dasar laki laki.


"ma, atan antuk mau bobok" (ma, athar ngantuk mau bobo)


Nah kan, sampai lupa kalau udah jam tidur siangnya Athar, gara gara Mas Udin ini.


"Ayo Athar sayang, mama temenin ya" Athar hanya mengangguk, mungkin udah ngantuk banget.


Tak sampai 10 menit, Athar sudah pergi ke alam mimpinya yang indah. Aku turun pelan pelan biar dia nggak kaget dan kebangun.


Ku ambil sapu, lalu mulai menyapu depan ruang tv lagi. Karena kita ngumpulnya di sana , jadi lebih sering kotor. Makanya harus sering sering di sapu juga.


"Assalamualaikum, Mbak Sri....."


Nah suara yang aku tunggu tunggu, datang juga akhirnya.


"Waalaikumsalam Mbak Yati, sebentar" Ku taruh sapu, dan pergi membukakan pintu Mbak Yati.


"Sini masuk mbak" ajak ku , biar lebih nyaman.


Langsung saja ku beri lihat pepaya pepaya yang tadi sudah di petik Mas Udin.


"waahh bagus bagus banget ini, besar besar juga , aku kasih harga 3000 per biji yaa, biasanya kalau yang kecil kecil gitu 1000 sampai 1500" Ternyata harga pepaya murah juga, batinku.


"iya mbak hehe, ya udah di bawa semua aja ya" kataku sambil memasukkan pepayanya ke dalam kantong plastik yang besar.


"ini uangnya, 30.000 ya mbak, besok besok kalau ada yang lain langsung telfon aja nggak papa, saya pamit dulu ya , assalamualaikum..." kata Mbak Yati sambil keluar.

__ADS_1


"iya mbak, makasih yaaa, waalaikumsalam"


Langsung saja ku tutup pintunya, alhamdulillah ya Allah atas rezeki-Mu siang ini.


__ADS_2