
Semenjak kejadian kehilangan pisang di belakang rumah, aku jadi selalu mengecek beberapa pohon pisangku yang sedang berbuah.
Bahkan aku jadi sering menanam batang singkong, supaya bisa di ambil daunnya dan di jual.
Rutinitas pagi ku selalu sama seperti biasanya. Berkutat dengan serangkaian kegiatan rumah tangga yang tak ada selesainya.
"Ma, udah siap nih, bapa berangkat jualan dulu ya, doain dagangannya habis , biar kita tabungannya cepet banyak" doa nya pagi ini dengan senyum harap menghiasi ujung bibirnya.
"Iya aamiin pa, semoga yaa" jawabku dengan bibir tersenyum tak kalah lebar.
Setelah ku cium takzim punggung tangannya , Mas Udin langsung berangkat, mumpung cuacanya cerah.
Selesai memandikan Athar dan menyuapinya, ternyata dia kembali mengantuk. Maklum saja, tadi dia bangun jam 5. Pantas baru jam 10 Athar sudah mengantuk lagi.
Pekerjaan rumah sudah ku selesaikan semuanya. Waktunya untuk bersantai. Iseng ku buka aplikasi berwarna merah, Youtube.
Aku paling suka menonton cara membuat camilan camilan sederhana, yang rasanya enak, bahannya mudah dan murah. Seblak kering.
"Ma, atan mau mamam pupuk" (ma, Athar mau makan kerupuk)
"Eh anak mama udah bangun, mau kerupuk? mama goreng dulu ya" jawabku sambil membopongnya dan ku taruh di depan tv lalu ku setelkan upin dan ipin.
Saat kerupuk mentah ku goreng, tiba tiba aku teringat seblak kering yang tadi ku tonton di Youtube.
"nanti kalau Mas Udin udah pulang, aku mau coba ah. Mumpung ada bahan bahannya di dapur, kalau cocok bisa di bungkus plastik dan di titipin di gerobak Mas Udin, nggak ada salahnya mencoba kan" sambil tersenyum senyum,ternyata aku sedang berbicara sendiri.
Namanya jadi ibu rumah tangga, dan 24 jam full di rumah kadang membuat aku lupa waktu. Seperti hari ini misalnya, terlalu sibuk sama Athar tau tau udah adzan maghrib. Sebentar lagi Mas Udin pasti pulang.
"Assalamu'alaikum... mama.... athar.... bapa pulaaang" katanya dengan senyum sumringah. Padahal tanpa dia bilang pulang pun, aku sudah tau kalau dia pulang. Karena sudah mendengar suara knalpot motor Mas Udin.
"Waalaikumsalam pa, kenapa nih pulang pulang sambil senyum pepsodent gitu?" tanyaku yang mulai kepo, biasa.
"Yaaaaa emang enggak boleh gitu, pulang jualan senyam senyum gini. Nanti aku pulang cemberut kamu pasti ikutan cemberut, hahaaa"
Nah emang suka gitu Mas Udin, suka bikin penasaran.
Setelah selesai sholat maghrib, gegas ku ambilkan teh hangat. Memang Mas Udin kalau pulang jualan lebih suka langsung bersih bersih dan langsung sholat. Katanya kalau duduk duduk dulu nanti jadi males kalau mau beranjak bersih bersih badan.
"Mas, aku mau buat cemilan, nanti kamu yang nilai rasanya yaa" kataku sambil pergi ke dapur.
__ADS_1
Udah nggak sabar mau coba buat seblak kering dari tadi siang sebenarnya, tapi kayaknya lebih baik nunggu Mas Udin pulang. Biar tenang buatnya, soalnya Athar udah ada yang jagain.
"hmmmm" Padat, singkat dan jelas jawabannya, udah pasti iya.
Pertama ku masukkan kerupuk mentah di minyak goreng dingin. Sambil di nyalakan kompornya dengan api sangat kecil, niatnya biar hasilnya bantat. Itu menurut video yang ku tonton tadi siang.
Setelah semua ku selesaikan dan sudah ku tambah bumbu, langsung ku taruh di piring.
"Mas ini, coba di cicip dulu,hehe"
kriuk kriuk kriuk
"emm, enak ma.. kenapa nggak coba buat dari dulu, pasti aku selalu minta di buatin. enak ini lhooo, pedes gurih.... " katanya sambil terus mengunyah.
"kenapa nggak di coba di bungkusin, terus nanti aku bawa jualan sekalian ma?"
celetuknya membuatku sedikit kaget, ternyata dia sepemikiran denganku.
"nah itu yang mau mama omongin mas, makanya mama buat, terus nyuruh mas buat tes rasa, eh ternyata keenakan" ucapku sambil terus melihat Mas Udin yang masih terus mengunyah.
"iya ma, enak ini lo , nanti di buat bungkusan kecil kecil aja , harga 1000 atau 2000 aja. Eh sekarang jam berapa? baru isya kan? bapa ke warung dulu beli kerupuk sama bahan yang lain, biar besok udah bisa di bawa"
Tak lama Mas Udin pulang, dan dia sudah membawa beberapa bahan yang aku butuhkan untuk membuat seblak kering.
"ma, atan apen , mau mamam eyus bobo" (ma, Athar laper, mau makan terus bobok)
Sangking semangatnya, sampai lupa kalau Athar belum makan dari sore.
Langsung ku gorengkan telur yang ku campur dengan terigu, biar lebih tebal. Ternyata Athar memang sudah lapar, baru sebentar ku suapi sudah habis saja. Dan dia langsung menuntun tanganku ke kamar, minta di temani tidur.
Belum juga 5 menit, Athar sudah langsung tepar. Ini nih, devinisi laper tapi ngantuk.
Saat aku keluar dari kamar, ternyata Mas Udin sedang membuat adonan sempol ayam.
"Mas, aku nggak bantuin dulu yaa. Mau buat seblak kering hehehe"
"iya ma, udah tau" jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku mencoba membuat ½ kg kerupuk mentah dulu, mau lihat bisa dapat berapa bungkus.
__ADS_1
Setelah semua pekerjaanku selesai, aku langsung membantu Mas Udin menusuk sempol ayam. Karena seblak keringnya masih hangat, jadi di bungkus nanti nunggu dingin.
"Mas..."
"Hmmmmm..."
Aku yang tak puas dengan jawaban Mas Udin, langsung ku ulang lagi.
"Mas...." kataku dengan sedikit manja.
Dia langsung meletakkan tusuk dan sempol nya, kemudian menatapku.
"Apa sayangku...." jawabnya sambil mengedip ngedipkan sebelah matanya.
"Eh eh , bukan itu mas" kataku spontan karena melihat jawaban Mas Udin yang kupikir sedikit merayu.
"Bukan itu apa sih ma? hahaahahaa" jawabnya dengan tawa yang lebar.
"Habis mas jawabnya gitu, kan aku otaknya langsung traveling, hehe" ku raba pipiku, kok hangat ya.
"Kebiasaan buruk yang harus di musnahkan, hahaahaha"
Rasanya kok makin malu, padahal sama suami sendiri.
"Aku tuh cuma mau bilang, semoga besok dagangannya laris semua yaa, meskipun mau di tambah seblak kering" kataku yang langsung to the point, takut salah paham lagi.
"Habis tadi kamu manggil aku kok sampe dua kali, padahal juga udah aku jawab, hhaha" Katanya dengan tawa yang renyah.
Setelah menyelesaikan menusuk sempol , aku dan Mas Udin langsung membungkus seblak kering. Masih dengan kebingungan, harga 2000 mau di bungkus berapa banyak. Kita dapat untung, tapi tidak kemahalan untuk yang membeli.
Setelah di kira kira dan semuanya sudah tepat. Kita langsung menyelesaikannya.
Tidak butuh waktu lama, ternyata kerupuk ½ kg berhasil menjadi 25 bungkusan kecil. Lumayan lah, ada untungnya.
"Kalau besok habis, buatnya tetep ½ kg aja yaa. Yang penting telaten setiap hari buat"
"Iya mas, semoga besok habis yaa , aamiin" jawabku dengan penuh harap.
"aamiin..." jawabnya dengan mengecup keningku.
__ADS_1