
Semenjak hasil kebunku dapat menghasilkan uang meskipun itu tidak banyak, jadi setiap menjelang siang ketika cuaca belum begitu panas, aku selalu mengajak Athar menengok ke kebun.
Tapi hari ini aku tak sempat ke sana, karena Athar rewel, padahal tidak biasanya Athar seperti itu.
'Tak apalah hari ini nggak naik dulu, besok juga bisa, lagian nanas dan pepayanya belum terlalu matang, lebih baik di petik besok sekalian' batinku.
Rasanya hari ini aku benar benar lelah, Athar tidak mau di turunkan dari gendongan. Hasilnya, aku tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Tak terasa sudah mau gelap saja, sayup sayup aku juga mendengar deru suara motor Mas Udin, alhamdulillah akhirnya pulang juga suamiku.
"assalamualaikum, ma... bantuin nurunin gerobak yuk, ban belakang bocor mau aku tambal sekalian"
Hadehh, belum juga bilang minta tolong, Mas Udin udah minta tolong duluan.
"eh, kok Athar di gendong si, kenapa? pusing?" katanya sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Athar.
"enggak mas, Athar nggak panas. Tapi nggak tau hari ini rewel , maunya di gendong terus. Sampe pegel bahu aku" kataku yang mulai memancungkan ujung bibir, karena memang aku capek.
"ya udah, entar gantian, tapi setelah aku pulang nambal ban dulu yaa" katanya sambil mengecup keningku dan kemudian pergi lagi.
'ya udah lah, paling 15 menitan selesai, aku tunggu aja' batinku menyemangati diri sendiri.
Setelah aku tunggu tunggu, kok udah hampir 1 jam belum pulang juga. Padahal deket lo tukang tambal bannya. Akhirnya pun Athar sampai tertidur juga, setelah aku suapi nasi dan masih sambil di gendong juga.
Lalu aku pergi ke kamar, mencoba menaruh Athar ke kasur dengan sangat hati hati. Alhamdulillah, akhirnya turun juga ni anak.
Bagaimana tidak capek, bobot tubuh Athar udah hampir 13kg. Kalau sebentar si nggak papa lah ya, lah ini seharian, untung anak sendiri.
"Assalamualaikum ma...." Akhirnya pulang juga kamu mas.
"Waalaikumsalam mas, kok lama? mampir ngopi dulu ya di angkringan?" tanyaku dengan nada sewot.
"Jangan cemberut dong ma, sini aku ceritain yaaa, tadi tuh aku nyari uang sulu siapa tau jatuh di jalan. Soalnya waktu aku ke tukang tambal ban, pas aku rogoh uangnya masih ada, aku nggak kemana mana. Tapi waktu aku mau bayar uangnya tinggal 20ribu ma, untung tambal bannya cuma 10ribu" katanya yang tanpa jeda.
"Terus yang hilang uang berapa?" tanyaku yang mulai penasaran.
"emmm anu, emmm...."
"am em am em, berapa si mas? ngomong aja" aku mulai curiga, sepertinya yang hilang nominalnya cukup besar.
__ADS_1
"tapi janji dulu, jangan marah..." katanya lagi sambil mengarahkan jari kelingkingnya di depanku.
"iya, janji" langsung saja ku sodorkan juga jari kelingkingku, biar cepat.
"50 ribu." katanya tak berani menatap mataku.
"apaaaaa 50 ribu???!!!!!" mataku melotot karena terkejut, bagi kami uang 50 ribu adalah uang yang besar.
Rasanya pengen nangis, marah, ngamuk jadi satu. Tapi kok nggak tega juga, kan yang nyari uang juga Mas Udin.
'hmmmmmm fyuuuhhhhhh' ku ambil nafas dalam dalam, kemudian ku hembuskan. Aku ulangi sampai tiga kali, kata mamak biar lega kalo lagi nahan marah.
Dengan senyum yang lebar, akhirnya ku pegang tangannya. Aku yakin, dia pasti sudah berusaha nyari berkali kali tapi mungkin karena belum rejeki kita, ya nggak ketemu.
"Ya udah, nggak papa, besok kita jemput rezeki-Nya bareng bareng ya mas" kataku pelan, mencoba tenang.
"Makasih yaa , kamu nggak marah hehe"
"Mau marah juga percuma mas, uangnya juga nggak bakal balik lagi yang hilang"
"Ya udah aku mau bersih bersih dulu yaa, terus mau buat adonan sempol" katanya sambil pergi ke kamar mandi.
"iya ma, makasih yaa"
Setelah ku siapkan semuanya, akhirnya Mas Udin keluar juga dari kamar mandi. Lamanya sudah seperti ayam sedang mengerami telurnya.
"yuk, makan bareng bareng, aku tau kalau kamu juga belum makan, kan seharian kamu gendong Athar, nanti aku pijat yaa, biar hilang capeknya"
Ah, kadang mau marah dengan kesalahan kecilnya. Tapi kalau lagi kaya gini, bunga bunga kebahagiaan bermunculan dimana mana.
"Heh, kok bengong, ayok" katanya mengagetkanku dengan menepuk pipiku. Wah, sampai sedang berkhayal juga ternyata aku.
"eh eh iya hehe , ayo mas"
Akhirnya jam 11 malam, sempol buatan Mas Udin dan seblak kering buatanku selesai. Waktunya istirahat.
---------------------------
Ku jemput rezeki pagi ini dengan semangat, membantu menata dagangan Mas Udin.
__ADS_1
Alhamdulillah, Athar semalam sangat nyenyak. Jadi ketika bangun pagi, dia terlihat lebih fresh.
"Ma, atan mau mama ama elung oyeng" (ma, athar mau makan sama telur goreng)
"ohhh, Athar mau makan sama telur goreng? ya udah tunggu sebentar ya, mama buatin" Dan hanya di balas dengan anggukan kecil dari kepala Athar.
"ma, semua udah siap, aku berangkat duluan yaaa, doain semoga dagangan kita laku semua"
"aamiin mas..." kataku sambil mencium punggung tangannya.
Setelah Mas Udin pergi, ku lanjutkan menggoreng telur dadar permintaan Athar. Ketika matang, langsung ku ambilkan nasi hangat, lalu ku suapi dia dengan lahap, dan diapun memakannya dengan cepat.
"thar... nanti selesai makan, kita ke kebun yuk, lihat buah nanas sama pepaya, Athar mau"
"yeeee atan mau ma, atan mauuuu" katanya sambil loncat loncat kegirangan, padahal cuma di ajak ke kebun.
Akhirnya selesai, ku gendong Athar untuk pergi ke kebun. Karna jalannya menanjak, takut kalau tak gendong nanti jatuh.
Ketika sedang naik, kok aku merasa bingung. Seperti ada orang yang masuk ke kebun ku. Kemarin lusa, aku ingat kalau ujung kebun, ku tutup dengan ranting ranting pohon yang sudah kering, kok sekarang nggak ada.
"Astaghfirullah...."
Rasanya benar benar pengen nangis saat ini juga, 2 hari lalu ada 4 buah nanas yang hampir matang. Dan ada juga sekitar 8 buah pepaya yang hampir matang juga. Tapi sekarang, semuanya nggak ada.
"Astaghfirullah, kenapa jadi sering kemalingan gini sih, padahal cuma buah buahan yang murah, masa ada yang tega ngambil, kan aku juga butuh... ya Allah...."
Tak terasa bulir bulir bening yang sedari tadi ku tahan meluncur juga, bahkan ketika Athar yang dengan polosnya bertanya kenapa mamanya menangis. Justru air mataku semakin deras.
Setelah beberapa menit, aku mencoba untuk menenangkan hati dan tersenyum ke arah Athar anakku yang ikut bingung karena melihat aku menangis.
"nggak papa sayang, tadi mata mama kena debu, perih terus nangis deh hahaha" ucapku berbohong, entah dia sudah mengerti atau belum.
"mama atit? ini atan iyup, fyuhhhh" (mama sakit? sini Athar tiup, fyuuhhh)
Masya Allah anakku, memang kamu alasan mama untuk selalu tersenyum nak.
"yeaayyyy, mama udah sembuh, sekarang kita pulang yuk, udah panas , mama haus" ucapku berbohong lagi.
"iya ayok"
__ADS_1