Kisah Nyata

Kisah Nyata
Bab 18 Penasaran


__ADS_3

Langsung ku seret tangannya buat duduk lagi, untuk melanjutkan ceritanya yang baru setengah, atau mungkin bisa jadi baru secuil.


"terus lanjutannya gimana?"


"iya... jadi selain itu tadi, ternyata ada daleman wanita sama laki laki, tapi udah rusak gitu, tapi kita semua nggak tau punya siapa, terus Pak RT telfon polisi, takut nanti ada warga yang geram, bisa bisa malah di habisi masa ya kan, kita semua nunggu kira kira 10 menitan. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, maling tadi di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan, terus aku di suruh Pak RT di suruh ikut, jadi yang ikut ada Pak RT, aku, Mas Danar, Mas Amin, Pak Diyo terus sama Pak Takim. Kita ikut di belakang mobil polisi menggunakan motor, terus.."


"stop, kok aku sakit perut ya, aku ke kamar mandi dulu ya, sebentar, beneran sebentar doang , nggak main hp sambil berak soalnya" kataku menyindir Mas Udin sambil pergi ke kamar mandi.


"ya ampun mas, astghfirullah... uweeekkk uwekkk"


"kenapa ma kenapa?"


"kamu jorok banget sih, itu liat! kenapa nggak di siram sih? uweekkk uwekkk" sambil mau mutah pun tetap ku siram sendiri, mau nggak jadi buang air besar tapi kok perut tambah mules, dan dengan terpaksa aku harus berjongkok juga.


Tak sampai 10 menit, aku keluar dari kamar mandi. Saat aku ke depan, ternyata Mas Udin dan Athar nggak ada.


"hih, kemana sih mereka? keluar nggak bilang bilang"


Dari pada aku emosi, lebih baik aku bersih bersih dulu, jadi nanti kalau Mas Udin sama Athar pulang, aku bisa minta dia cerita lagi tanpa harus memikirkan piring kotor dan lainnya, karena sudah ku bersihkan terlebih dulu.


Piring bekas makan tadi langsung ku taruh di wastafel, dan ku cuci sekalian semua bekas aku memasak tadi.


Selesai, ku ambil sapu. ku sapu semua dari belakang ke depan, biar lebih mudah, jika sudah langsung ku pel sekalian.


"heran aku, Mas Udin sama Athar pergi kemana sih! udah hampir selesai beberes rumah pun mereka belum pulang juga"


Aku yang lelah, akhirnya membaringkan tubuhku di kasur. Tak terasa aku malah sampai ketiduran.


PoV Udin


"hahaha iya, semalam tuh udah ketangkep malingnya, tapi kata polisi dia odgj alias orang gila"


"itu anakmu, nggak ada emaknya kok nggak rewel ya?" tanya Riski, teman jualanku yang paling dekat denganku.


"iyya lah, anak siapa dulu hahaha"


Sengaja tadi keluar nggak pamit dulu, yang penting aku pergi ke rumah Riski serta Athar ku bawa juga, biar nggak makin kesel.


"pa , atan antuk au bobok" (pa, Athar ngantuk mau bobok)


"eh udah ngantuk, ya udah yuk pulang, bapa ke kamar mandi dulu sebentar ya, mau pipis"


"iya pa"


Saat aku balik, ternyata Athar udah ketiduran di kursi, ya udah dengan terpaksa aku harus nunggu Athar bangun dulu, baru pulang.


"lah kok aku lupa ya, ternyata aku kesini nggak bawa hp, makanya dari tadi nggak denger istriku telpon nyariin aku sama Athar"


"kayaknya kamu tuh pelupa emang udah penyakit bawaan dari orok deh, hahaha" kata Riski meledekku.

__ADS_1


"eh jangan keras keras, anakku bangun nanti"


"di pindahin aja, taruh kamarku, biar lebih nyenyak, terus nggak keganggu kalau kita lagi ngobrol" suruh riski.


"ya udah, aku bopong dulu, tolong bukain pintunya dong"


Setelah ku taruh pelan pelan, ku tinggalkan Athar tidur sendiri di kamar Riski.


"biasanya anakmu, kalau tidur suka lama Din?"


"lama, kalau udah kenyang gini perutnya, bisa sampai 2 jam"


"Masya Allah, bener bener nikmat"


"aku kok pengen pulang dulu ngambil hp, biar nggak gabut gini"


"ya sana, anak mu biar aku yang jagain" suruh Riski lagi.


"enggak ah, nggak tenang aku, nanti sekalian pulang aja kalau Athar udah bangun" kataku.


Udah 1 jam Athar belum bangun juga, aku semakin jenuh nunggunya. Di tambah, Sri pasti lagi bingung mikirin aku sama Athar pergi kemana, kasian juga kalau di pikir pikir.


"kok aku ikutan ngantuk ya ki, mau numpang ikutan tidur di sebelah Athar aja ah, huaaahhh" kataku sambil menguap, ya karena memang benar benar ngantuk.


"ya sana tinggal tidur aja si, kaya sama siapa aja"


PoV Sri.


Aku terbangun saat perutku kebelet pipis, aku keluar kamar tapi rumah ini masih sepi. Mas Udin dan Athar belum pulang juga. Sebenarnya mereka kemana sih, udah lama banget lo kayaknya. Nggak tau apa aku di rumah sendiri gini bingung, kan nggak pamit mau pergi kemana gitu.


"Cerita belum selesai, di tinggal di rumah sendirian, hp di tinggal juga, bener bener ni suami ya, awas aja kalau pulang, eh tapi ada baiknya juga tadi ya, aku jadi bisa tidur siang dengan nyenyak"


Aku yang gabut akhirnya memilih pergi ke kebun untuk melihat buah dan sayur yang udah hampir masak.


"alhamdulillah malingnya udah ketangkap, jadi insha Allah kebunku sudah aman lagi"


Ku lihat ada banyak daun singkong, aku petik ajalah, kalau dapat banyak kan bisa di jual juga, lumayan.


"huhh selesai juga, capek ah mending aku bawa pulang dulu"


Ku susuri jalan dengan hati hati, karena gerimis jalannya jadi licin.


Saat sampai di depan rumah, ternyata keadaan masih seperti semula, sepi. Aku jadi benar benar bingung, sebenarnya Mas Udin bawa Athar kemana sih, apa jangan jangan dia menghindar dariku, biar aku nggak terus menanyakan kejadian semalam, baiklah mas jika itu mau kamu.


Ku buka kuncinya dan ku taruh daun singkong di lantai. Lalu aku mengambil air, sepertinya aku butuh yang dingin dingin, biar nggak gampang emosi kalau capek.


"sebaiknya aku ikat sekalian aja, biar nanti lebih mudah kalau mau di jual"


Ku cari tali rafia di belakang, ternyata nggak ada. Di atas lemari juga nggak ada, di sekitar tv nggak ada. Aku yang hampir menyerah mencoba duduk dulu, sambil memikir dimana ini menaruhnya.

__ADS_1


Saat sedang duduk, mataku melihat sesuatu di bawah meja, semoga saja benda yang ku cari. Saat ku lihat dengan alat bantu senter, alhamdulillah akhirnya ketemu juga.


"lumayan dapet 6 iket, aku coba menelpon Mbak Yati ah"


'tuuttt tuuttt tuuttt'


"kok nggak di jawab yaa, coba sekali lagi deh"


"halo Mbak Sri, ada apa ya?" tanya Mbak Yati dari seberang sana.


"iya halo mbak, ini aku ada daun singkong, baru aja metik, dapet 6 iket, kalau mau di ambil ya kesini"


"emm anu mbak, maaf ya... nggak bisa ngambil"


"kenapa mbak?"


'tut tut tut tut'


Lah kenapa tiba tiba Mbak Yati jadi gini ya, aku jadi bingung. Kenapa hari ini orang orang lagi pada aneh aneh, bikin pusing aja.


...****************...


Akhirnya orang yang aku tunggu tunggu datang juga, Mas Udin dan Athar.


"Assala..."


"kamu dari mana sih mas? bawa anak pergi nggak bilang nggak pamit , hp nggak di bawa, bikin kepikiran aja"


Belum sempat Mas Udin selesai mengucap salam, aku langsung memotongnya dengan semprotan yang dari tadi ku tahan.


"eh ma, sabar dulu... jawab dulu salamnya..."


"kamu aja belum ngucap salam, terus aku jawab salam siapa?"


"Assalamualaikum...." katanya dengan sangat pelan dan lembut.


"Waalaikumsalam... udah kann... sekarang cerita kami habis kabur kemana?" kataku dengan mata penuh selidik.


"kok kabur sih ma, aku nggak kabur lhoooo , nyatanya sekarang aku pulang, hehe"


"heha hehe, nggak usah senyum senyum gitu, kalau nggak kabur ya harusnya tadi pamit dong" kataku dengan bibir mancung.


"iya aku cerita yaa, kamu dengerin dulu dan jangan di potong kalai aku belum selesai, oke?"


"ya" jawabku singkat, padat dan jelas.


"Tadi Athar rewel saat kamu di kamar mandi, ya aku inisiatif bawa Athar keluar jalan jalan, terus aku mampir di temen aku, itu Riski... kamu tau kaannn... lah sampe sana baru sebentar, Athar ngantuk. Baru mau aku bawa pulang, dia udah ketiduran di kursi, terus suruh Riski di suruh taruh di kamar dia, ya udah aku bopong ke kamar Riski, nah aku ikutan ngantuk, jadi aku ikutan tidur juga hehehe, terus ini baru bangun dan langsung pulang, hehehe maaf yaa"


Ku tarik nafas panjang panjang lalu ku hembuskan, biar lega rasanya. Meskipun masih dongkol tapi setidaknya udah sedikit tenang karena Mas Udin dan Athar udah pulang, dan dia bilang dengan jujur.

__ADS_1


__ADS_2