
PoV Udin
Ku goreng kan telur dadar untuk sarapan Athar, tapi untuk makan Sri, aku bingung. Ah, nanti ku tanyakan saja padanya mau makan apa, setelah selesai ku suapi Athar.
"sayang, ini telur gorengnya, bapa suapi yuk, sini duduk sini nak"
Ku panggil Athar yang sedang asyik bermain di depan rumah, meskipun sendiri sebenarnya Athar bisa asyik bermain, tapi ya namanya orang tua kadang kalau nggak kelihatan di depan mata, rasanya jadi nggak tenang.
"yeayyyy mam elung oyeng" (yeayyyy makan telur goreng)
Padahal cuma telur dadar, tapi se semangat itu Athar untuk makan.
*bug
"huwaaaaaa atit bapa atit huwaaaaaa, itu atunya natan huwaaaa" (huwaaaa sakit bapa sakit huwaaaaaa, itu batunya nakal huwaaaa)
"Aduh duh, sini bapa tolongin, yang sakit mana? sini bapa tiup, biar sembuh... fyuhhhh dah sembuh.... horeeee... lain kali Athar kalau jalan hati hati yaa" ucapku sambil meniup lututnya yang sedikit lecet.
"Athar kenapa mas? kaget aku tiba tiba denger Athar nangis, Athar kenapa sayang?"
Entah kapan datangnya, tiba tiba Sri udah ada di sampingku, untung nggak kagetan aku.
"kamu kan lagi istirahat, kenapa malah kesini? udah nggak papa ini Athar, tadi lagi jalan kakinya tersandung batu, terus jatuh"
"ya kan aku cuma pusing mas, bukan berarti aku nggak bisa jalan dong. ya udah kalau kamu maunya jagain Athar sendiri, aku mau tidur lagi aja" katanya sambil pergi dengan bibir yang manyun.
Hahaha, dasar perempuan. Lucu, gemesin, emosian, tapi kok aku bisa cinta yaaa. Ya Ampun, Sri Sri.
Ku gendong Athar ke kamar mandi, mau ku basuh lukanya , biar nggak infeksi.
"udah, sekarang Athar duduk ya, bapa suapi nasi hangat sama telur goreng, bismillah.... ayo haaakkkkkk"
Ternyata menyuapi anak memang harus memiliki kesabaran tingkat dewa. Udah 10 menit, tapi Athar baru masuk 5 suapan, belum separuh.
Hampir 30 menit, akhirnya habis semua sampai tak bersisa apapun di piring Athar.
"atan udah inyang paa" (Athar sudah kenya paa) katanya sambil memperlihatkan perutnya yang buncit.
"alhamdulillah dong kalau Athar kenyang, biar cepat besar ya nak, biar cepat sekolah sama ngaji, Athar mau ngaji nggak?"
__ADS_1
"mauuuuuu" jawabnya lagi dengan bibir yang lebih maju, persis seperti mamanya.
"besok yaa, sekarang Athar main di dalam rumah dulu, biar nggak jatuh lagi, bapa mau buatin mama makan, biar cepat sehat ya sayang yaa"
"ote" (oke) jawabnya sambil mengacungkan 2 jempol yang masih kecil kecil.
Gegas ku hampiri Sri yang sudah terlelap lagi, sepertinya memang dia benar benar tidak fit. Biasanya kalau cuma pusing, dia masih menyuruhku untuk pergi berjualan. Bahkan saat aku pulang, rumah sudah rapi dan makanan pun sudah ada.
"ma, mau di masakin apa?" tanyaku pelan sambil menggoyangkan badannya, biar nggak kaget.
"haaa, mau bubur sama sambal aja mas" jawabnya tanpa membuka matanya, bahkan tanpa menoleh ke arahku.
"baiklah, aku buatin dulu yaa"
"hemmm iya"
Langsung saja ku eksekusi, ku cuci beras sampai bersih. Kemudian ku taruh di panci dan ku nyalakan kompor. Meskipun laki laki, aku tak pernah bingung soal masak memasak. Tapi semenjak menikah, aku jarang memasak karena Sri selalu menyiapkannya lebih dulu.
Lanjut ke bubur, setelah mendidih ku kecilkan apinya dan terus ku aduk aduk biar enggak gosong. Ku tambahkan sedikit garam, saat sudah hampir mengental, baru ku tambah santan sedikit, biar lebih gurih.
Setelah matang lanjut ku buat sambal kesukaannya. Ku siapkan cabai, bawang merah dan bawang putih. Ku cuci, lalu ku goreng sampai layu. Setelah itu ku angkat, tinggal di tambah sedikit garam, gula pasir dan micin. Tes rasa, udah siap.
"iya mas iya, nggak usah di goyang terus dong badanku, sakit tauk" gerutunya sambil mengambil mangkok berisi bubu panas di tanganku.
"hehehe iya maaf, habis kamu nggak bangun bangun sihh"
'slrruuuupppp'
"enak mas, aku habisin yaaaa"
"ya harus lah, kan biar cepat sehat"
"eh, Athar mana? tadi udah makan belum? kalau belum ambilkan buburnya sana mas"
"udah ma, kamu pokoknya istirahat yang tenang aja ya, urusan Athar aku yang handle hari ini" jawabku dengan penuh semangat.
"makasih ya mas, ini buburnya udah habis, aku mau tidur lagi" langsung saja dia meringkuk di dalam selimut kesayangannya itu. Selain pusing, sepertinya tadi dia juga lapar.
Sekarang tinggal giliran aku yang makan, aku penasaran mau cicip bubur sama sambalnya juga ah.
__ADS_1
Ternyata enak juga, sederhana tapi nikmat banget. Perpaduan yang pas antara bubur yang gurih terus di tambah sambal yang pedas, cocok.
"pa, atan au eek" (pa, Athar mau eek)
Eh, baru juga masuk 2 suap dan sedang menikmati enaknya makan bubur, harus di ganggu dengan permintaan Athar yang minta di temenin buang air besar. Berarti setiap hari, Sri juga begini dong. Kasian juga ya jadi perempuan.
"yuk sini, celananya di lepas dulu ya"
Ku antar Athar sampai depan pintu, dia nggak mau di tungguin tapi juga nggak mau di tinggal.
"udah pa"
Ku cebokin pantatnya, ku siram kacang yang di air, ku pakaikan lagi celananya dan ku suruh mainan lagi. Saat kembali ke meja, ku lihat buburnya, kok rasanya jadi nggak selera ya. Padahal tadi rasanya enak banget.
Ku coba memasukkan 1 suapan ke dalam mulut, dengan paksa.
Iya, rasanya jadi hambar. Ternyata pekerjaan perempuan emang gini, dan mungkin setiap hari Sri juga mengalami hal seperti ini. Sedang enak enaknya makan, eh si anak minta di anterin buang air besar.
Akhirnya tak ku habiskan sisa bubur yang tadi sempat menggoda, ku ambil gelas lalu ku habiskan air putih. Rasanya segar sekali.
Karena waktu udah semakin siang, aku harus segera mencuci baju, biar masih kebagian sinar matahari. Soalnya kalau udah habis dzuhur, hangatnya sinar matahari akan terhalangi oleh pepohonan di depan rumahku.
'sek sek sek'
Maklum, belum punya mesin cuci.
"duhh, belum juga separuh, ini pinggang rasanya kayak mau encok, lengan juga pegel banget, ternyata jadi ibu rumah tangga capek banget ya, kasian juga istriku"
Cepat cepat ku selesaikan, lalu ku jemur mumpung masih terik.
"ku luruskan pinggangku"
'kretek'
Baru ini aja, udah cuapek banget rasanya.
Saat mau masuk, mataku menangkap benda di sebelah rumah, kok ada yang beda.
"Loh, kok pisangnya nggak ada, perasaan tadi pagi waktu aku cek masih, ya ampun ini maling ya, siang bolong kaya gini pun ada juga niatan maling pisangku, awas aja kalau ketangkep"
__ADS_1