
PoV Udin
Sebenarnya, aku merasa kasihan melihat istriku kehilangan buah nanas dan pepaya yang sudah bisa di jual. Tapi mau bagaimana lagi, orang udah di curi ya udah. Mungkin lain waktu aku bisa membuat jebakan, tapi kalau yang kena justru istriku sendiri, gimana ini.
"Mas, nanti sore kalau pulang jualan jangan lupa belikan kerupuk yaaaaaa, stok di dapur udah habis" kata istriku yang tiba tiba membuyarkan lamunanku.
"Iya ma, nanti mas belikan yaaa, udah sekarang kamu nggak usah sedih lagi, lebih baik kamu istirahat , ikutan tidur di samping Athar, biar pikiran kamu juga ikutan istirahat"
"Hehe iya mas, ya udah aku ke kamar dulu yaaa, sebenarnya aku juga ngantuk si... nanti kalau mau berangkat tinggal berangkat aja yaa, hati hati" jawab istriku sambil pergi ke kamar.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil, dia pasti juga paham. Dari pada di rumah ikutan ngantuk, lebih baik aku berangkat jualan aja, nggak apa apa dah berangkat paling awal, siapa tau nanti cepat habis, jadi lebih cepat pulang.
Langsung saja aku keluar rumah dan menghidupkan motorku, ku lajukan motor kesayangan istriku seperti biasanya, pelan. Jalanan di sini banyak yang berlubang, apalagi sudah musim hujan gini. Kalau tidak hati hati nanti minyak yang kubawa akan tumpah tumpah, kan bahaya.
Dan benar saja, teman teman jualan belum ada yang berangkat.
"bang, beli sempol 5 ribu, di kasih sambel yaaa"
"aku 7 ribu, yang 3 ribu nggak pedes, yang 4 ribu pedes banget ya bang"
"sempolnya 10 ribu ya mas, bagi dua, satu pedes , satu enggak"
"aku 2 ribu aja, nggak pedes"
"seblak keringnya mana? nggak bawa atau udah habis ini?"
"iya sebentar yaaa, itu maaf seblak keringnya udah habis hehe" jawabku sambil menggoreng sempol ayam, alhamdulillah baru juga mangkal langsung ada yang beli.
"lain kali bawa yang banyak dong mas, biar kita kebagian" kata ibu ibu dengan lipstik merah merona.
"iya bu, besok yaaa , ini kami yang 5 ribu ya" kataku sambil memberikan sempol yang sudah mulai pada mateng.
__ADS_1
Setelah semua pelanggan sudah mendapatkan apa yang mereka beli, aku langsung duduk kemudian menyalakan rokok, biar capeknya hilang.
Aku kalau lagi ngerasa capek, selalu mengingat kata kata Saeb di sinetron Preman Pensiun, intinya kalau kita belum kaya, belum punya banyak uang ya enggak boleh capek, gitu sih katanya. Ya boleh lah di coba sedikit sedikit.
Hisapan demi hisapan batang rokok ku nikmati, tiba tiba aku ingat kebun istriku yang udah 2 kali kemalingan, padahal deket banget, cuma di atas rumah, tapi kok bisa ya sampe kemalingan dan istriku nggak tau kalo di atas rumah ada malingnya.
"Hayoooo lagi ngelamunin apa hayooo"
Aku yang memang sedang ngelamun langsung kaget, saat pundakku di pegang penjual cilok.
"Bisa nggak sih bro nggak usah ngagetin, untung ini jantung nggak copot" ucapku dengan telapak tangan yang memegangi dada.
"hehehe, ya maaf... habis aku dateng kok sampe nggak nyapa, aku deketin juga anteng aja, ya udah aku kagetin sekalian, lagi mikirin apa si?"
"aku tuh lagi mikirin istri aku, kasian..."
"cia elahhhhh, udah punya anak juga masih bucin, hahaha"
"yaaahhh yahhhh ngambek, kan udah minta maaf , yaa udah sini cerita, aku dengerin, siapa tau aku punya solusi" bujuknya sambil mengambil 1 batang rokok di saku ku.
Kebiasaan buruk, udah salah malah masih minta, untung temen. Tapi sepertinya memang aku harus cerita, siapa tau dia memang bisa memberikan solusi untukku.
"beneran ya kasih solusi" selidik ku tajam ke arahnya.
Hanya anggukan yang ku dapatkan.
"Jadi, istriku tuh lagi sering nanam nanam sayur sama buah di kebun atas rumah, ya buahnya yang gampang gampang aja, nanas sama pepaya , terus pisang. Tapi udah 2 kali istriku kehilangan buahnya. Yang pertama pisang di belakang rumah, yang kedua nanas sama pepaya. Katanya kalau di jual dapet uang 30 ribu, kan lumayan. Nah sekarang aku mau minta saran apa solusi lah, gimana biar nggak kemalingan lagi?"
Panjang lebar ku ceritakan semuanya, berharap dia punya solusi.
"emmm kayaknya aku nggak ada ide, solusi atau saran deh , hehehe" jawabnya dengan mimik tanpa dosa, ya Allah... kok aku punya temen model kaya dia ya.
__ADS_1
"nyesel aku cerita, capek capek mengulang kata kata istriku, eh kamu nggak bisa ngasi saran apa apa" jawabku sewot sambil pergi ke gerobakku, ada yang beli soalnya.
"bang, maaf ya... tadi aku nggak sengaja denger, katanya istri abang kemalingan buah di kebun ya, lebih hati hati lagi ya bang, kemarin tetangga aku juga gitu, sayur sayurannya kemalingan, katanya kerugiannya kalo di hitung hampir 150 ribu" kata ibu yang menggunakan gamis hijau, tidak tau datang dari mana, tiba tiba sudah muncul di depan mata.
"hehe iya bu, makasih udah di ingetin, ibu mau beli sempol?"
"enggak, saya cuma mau ngingetin aja, permisi ya mas"
Ternyata ada orang baik hati model ginian.
Tak terasa tempat yang ku datangi ini, sudah sepi aja. Daganganku tinggal 5 tusuk, ku goreng aja biar nanti pulang bisa di makan Athar.
"Mas, sempolnya masih? aku mau beli 5 ribu"
Saat ku lihat, ternyata seorang anak kecil yang lucu, pipi tembem , badan gemuk.
"Ada, aku goreng dulu yaaa, mau bumbu apa? pedes nggak?"
"Enggak mas, nggak usah di kasih bumbu apa apa, aku nggak suka"
Alhamdulillah habis juga, lebih baik aku pulang. Tapi sebelum pulang, aku harus membelikan bahan seblak kering untuk di istriku nanti malam.
Ku lajukan motorku ke toko grosir dekat tempat mangkal aku barusan. Selain dekat, harga juga lebih murah dari pada di warung dekat rumah.
Saat aku sedang mengambil kerupuk mentah, aku tak sengaja mendengar obrolan ibu ibu gemoy dengan lipstik merah merona dan munggunakan kacamata photocromic.
"bu, masa cabe rawit di depan rumah aku aja ada yang nyabut, padahal cuma cabe rawit lo"
"itu mah mending bu cuma cabe rawit, lah saya bunga janda bolong, kan lagi mahal banget harganya, pengen nangis tau rasanya waktu liat pot depan rumah udah nggak ada, mana 2 lagi yang di ambil"
Setelah mendengarkan mereka ngobrol, aku bergegas pergi ke kasir untuk membayar.
__ADS_1
Ternyata maling lagi ada dimana mana, bahkan nggak cuma buah atau sayur. Bunga pun di ambil, astaghfirullah. Awas aja kalau aku ngeliat tuh orang, ku bejek bejek tangannya.