Kisah Nyata

Kisah Nyata
Bab 12 Hati Hati


__ADS_3

Rasanya badanku menjadi lemas, tidak bertenaga dan malas mau ngapa ngapain. Aku terus saja mengingat berapa uang yang harusnya ku dapat, tapi aku sudah kehilangannya, sebelum aku memetiknya.


"nggak papa lah, besok pasti akan ada buah dan sayur yang matang lagi, kayaknya aku harus lebih sering ke kebun, biar nggak kemalingan lagi" ucapku sendiri untuk menyemangati diri ini.


Hari sudah siang, dan Athar belum mandi. Sebaiknya ku ajak Athar mandi terus aku juga sekalian, biar badanku lebih segar dan semangat.


"sayang, mandi yuk , mau pake air hangat atau dingin?" tanyaku pada Athar saat sedang asyik menonton Upin dan Ipin.


"ayok ma, atan mau andi ain anet" (ayok ma, Athar mau mandi air hangat)


Hahaha, kadang aku suka ketawa ketawa sendiri kalau mendengar kata kata Athar, lucu. Tapi kadang aku juga bingung mau menanggapi apa, walaupun anak sendiri, aku juga sering tidak tau Athar bicara apa.


"ya udah , ayok"


Ku tuntun Athar ke kamar mandi, sebelumnya sudah ku siapkan minyak telon dan baju ganti Athar, biar nanti nunggunya nggak sampe kedinginan.


Setelah selesai, ku lilit handuk di badannya lalu ku gendong ke kamar untuk ganti baju. Semoga setelah ini Athar tertidur, biar aku bisa mandi dengan tenang.


Ku lap badannya, ku baluri minyak telon dan ku pakaikan baju pendek. Masih siang juga, kalau ku pakaikan baju panjang, nanti cepat gerah.


"ma , atan au hp, oleh?" (ma, Athar mau hp, boleh?)


"boleh, sebentar ya mama ambil dulu di depan"


Saat ku tinggal, Athar sedang menunggu sambil berbaring.


Lalu ku tinggal mencari hp, sepertinya aku lupa tadi taruh hp dimana. Setelah kesana kesini, depan belakang ternyata hpnya ada di saku celanaku. Masih muda juga, masa udah pelupa.


Aku kaget saat akan memberikan hp ku kepada Athar, ternyata dia menungguku sampai tertidur. Ya udah, langsung ku tinggal mandi aja.


Tepat saat adzan dzuhur berkumandang, aku selesai mandi. Aku merasa badanku jauh lebih segar dan jadi lebih semangat.


Karena tadi pagi aku belum sempat bersih bersih, jadinya sekarang semuanya aku bersihkan. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring di lanjut mencuci pakaian. Memilih jemuran yang sudah kering dan ku lipat sekalian.


"Eh ini udah dzuhur dari tadi, kok Mas Udin nggak pulang yaa, coba deh aku telfon"


'tuuutttt tuuttttt tuutttt'

__ADS_1


"assalamualaikum, halo ma, ada apa?" akhirnya di jawab juga telfon ku.


"waalaikumsalam, Mas nggak pulang? tumben"


"emang kenapa? kamu kangen yaaa hahahaha, uhuk uhuk uhuk" ku dengar di seberang telfon, Mas Udin yang barusan sedang tertawa terbahak bahak tiba tiba langsung terbatuk batuk, sepertinya dia tersedak.


"nah nah, batuk kan, makanya kalau tertawa jangan berlebihan, sukanya ngeledek istrinya, tersedak kan, kualat" omelanku akhirnya keluar juga.


"hehe hmmm, iya ma maaf , kamu kenapa telfon"


akhirnya suaranya melunak juga, haha.


"aku tanya, kamu kok tumben dzuhur nggak pulang" akhirnya ku ulang lagi pertanyaan yang sudah ku tanyakan tadi.


"ohhh, maaf yaaa, aku lupa ngabarin, ini bannya bocor, terus lagi ku tambal, eh sambil di tambal ada yang beli, ya udah aku di sini dulu, sebentar lagi pulang"


"ohh ya udah nggak papa, aku takut kamu kenapa kenapa soalnya nggak ngasih kabar, ya udah dulu yaaa, aku mau lanjut bersih bersih"


"iya ma"


'tut tut tut'


Sambil melipat baju, aku masih memikirkan siapa sebenarnya yang tega mencuri buah di kebunku. Padahal cuma sedikit, coba kalau banyak, bisa di bilang aku gagal panen.


Ya, meskipun sedikit tapi kan aku juga butuh uangnya. Lumayan kan bisa buat beli keperluan dapur dan jajan rama, walaupun nggak banyak.


Lagi, ku ambil nafas dalam dalam, lalu ku buang dengan kasar. Berharap aku bisa melupakan kejadian tadi pagi.


'fyuuuhhhhhh'


Akhirnya, deru suara motor Mas Udin terdengar juga. Tak sabar aku ingin menceritakan semuanya.


"assalamualaikum ma..."


"ssstttttttt.."


Belum sempat dia melanjutkan kata katanya, aku sudah mengisyaratkan Mas Udin untuk diam, karena Athar sedang tidur.

__ADS_1


"sini duduk dulu, aku buatin minum, setelah itu aku mau cerita" kataku sambil pergi ke dapur, sepertinya Mas Udin mulai penasaran. Karena dia mengikuti ku di belakang.


"cerita apa sih ma, jangan buat aku penasaran dong" kata Mas Udin yang masih membuntuti ku.


"ya udah ini di minum dulu" kataku sambil memberikan satu gelas teh manis hangat.


"Udah habis kan, sekarang cerita lah" pintanya.


"haaaa, ya nggak gitu juga maksud aku mas, satu gelas besar gitu langsung kamu habiskan"


"hehehe, iya aku tahu... tapi aku haus"


"ohhh , kirain mentang mentang ku suruh minum lalu aku mau cerita, terus satu gelas gitu di habisin sekalian haha" kataku dengan senyum senyum.


"tadi aku ke kebun, niatnya mau nengok buah nanas sama pepaya, siapa tau udah matang, soalnya kan kemarin aku nggak sempat kesana, terus baru aja aku sampai, aku kaget mas... soalnya rumput di sekitar buah seperti baru aja ada yang menginjak, pas aku maju aku lebih kaget lagi, buah nanas sama pepaya yang matang udah nggak ada, huhuhu"


Air mata yang dari tadi sudah tidak keluar akhirnya keluar lagi, bahkan lebih banyak, rasanya di dalam dada ini sesak sekali.


"sini sini aku peluk" ucapnya sambil menarik badanku ke dalam pelukannya, Mas Udin selalu membiarkanku meluapkan tangis di dalam dekapannya, karena pelan pelan tangisku pasti akan mereda.


"udah nangisnya? udah lega? kalau belum, di lanjut lagi nggak papa kok, aku tungguin"


Lalu aku mundur melepaskan pelukannya, ku dongak kan wajahku menghadap ke wajahnya sambil tersenyum.


"udah mas" kataku singkat.


"sekarang giliran mas yang bicara ya.... nggak papa kalau sekarang kamu kehilangan buah itu, anggap aja sedekah... mungkin lain waktu Allah akan memberikan rezeki yang lebih berlipat lipat dari yang hilang tadi, udah ikhlasin aja ya ma"


"iya mas, walaupun masih gedek nih di hati aku, tapi aku mau coba ikhlas"


"ya udah, mas laper nih, dengerin cerita kamu tadi bikin cacing di perut aku makin ganas hahaha"


"hehe maaf, aku ambil dulu ya nasi sama tempe gorengnya, aku udah buat sambal juga lo mas" kataku sambil pergi ke dapur.


"favorit aku nih, sambal buatan kamu selalu juara di lidah aku, hemmmm , makin nggak sabar aku haha" jawabnya sambil memegangi perutnya.


"iya mas ini... maaf tapi yaa lauknya cuma ada tempe" kataku sambil menyerahkan piring berisi nasi beserta lauk dan sambal.

__ADS_1


"gini aja udah alhamdulillah banget ma, udah bisa buat perutku kekenyangan... hahaha bismillah... hap, enaknyaa...."


__ADS_2