
"aamiin..." jawabnya dengan mengecup keningku.
Bagaimana tidak mlehoy dan pipi jadi merah, ada saja yang Mas Udin lakukan padaku. Meskipun sudah hampir 4 tahun menikah, tapi jika di gombalin atau di cium, pipiku akan memanas karena malu.
Jam 11 malam akhirnya kami selesai mengerjakan semuanya, setelah itu langsung bersih bersih cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka kemudian pergi untuk istirahat.
Mungkin sangking capeknya, aku sampai tak mendengar adzan subuh. Bahkan saat melihat cahaya matahari dari celah jendela kamarku, aku kaget karena Mas Udin pun belum bangun.
"Mas... astaghfirullah.. bangun... udah siang ini, kita kesiangan.... nggak denger suara adzan subuh tadi!" terus ku goyang goyangkan tubuh Mas Udin.
Dia yang kaget hanya mengerjapkan mata, tiba tiba langsung bangun dan menyeret ku keluar kamar.
"Mas.. heh, kenapa? kamu kenapa sih? kamu mimpi?" Aku yang bingung terus memberondongnya dengan pertanyaan.
"Lah tadi katanya udah siang, ya ayo bantuin aku siap siap jualan"
"ohh... kirain kesambet apa hahaaa, ya cuci muka dulu apa kencing dulu gitu biar sadar" ku suruh dia sambil mendorongnya masuk ke kamar mandi, biar nggak linglung.
Sambil menunggu Mas Udin di kamar mandi, karena lama, aku yakin Mas Udin pasti lagi buang air besar.
Segera ku buatkan teh hangat, karena kesiangan aku jadi bingung mau ngapain dulu. Langsung saja ku ambil sapu, mumpung Athar belum bangun juga.
"Ini mas tehnya, di minum dulu baru siap siap" kataku sambil memberikan segelas besar teh hangat.
"iya ma , makasih... aku tadi juga seperti nggak sadar nyeret kamu, hahaha maaf ya, gara gara kesiangan ini pasti, hahaha"
"nah kan, makanya aku suruh kamu cuci muka dulu, biar sadar, hahahaha" tawaku tak kalah kencang ketika mengingat yang terjadi barusan.
"ya udah yuk, itu seblak keringnya di taruh wadah box yang putih itu, nanti aku promosikan" katanya sambil beranjak keluar.
"iya mas..."
PoV Udin
Alhamdulillah sekarang istriku mulai membuat cemilan yang bisa di jual, katanya namanya seblak kering.
Apapun yang dia lakukan masih di jalan yang benar, aku pasti akan selalu mensuport nya.
"ya udah , ini semua udah siap, mas berangkat dulu, doakan semua laris, assalamu'alaikum"
"iya mas, aamiin, waalaikumsalam" jawabnya sambil mencium punggung tanganku dengan takzim.
Tujuan pertamaku di pasar, karena depan pasar ada SD nya juga, jadi biasanya akan ramai orang lalu lalang.
__ADS_1
Ku lihat dari kejauhan, sudah ada beberapa teman jualanku yang mangkal. Wah kalah cepat aku.
"tumben siangan, biasanya juga sekolah belum mulai, udah datang, hahaha" kata temanku penjual cilok.
"iya nih, tadi kesiangan bangunnya hehe" ku garuk kepalaku yang tak gatal.
Setelah beberapa menit, waktu yang aku tunggu tunggu datang juga, jam istirahat anak anak sekolah.
"sempol mas, 2000, nggak pake kecap, eh ini apa yang di wadah?" tanya seorang siswa yang biasa beli daganganku.
"itu seblak kering, di beli dong , cuma 2000 , buatan istri ku , udah pasti enak" rayuku sambil promosi.
"boleh deh 1, nanti kalau enak mau beli lagi" katanya lagi.
"wajib dong, hahaha"
Ternyata kata itu bocah enak, akhirnya dia ikut promosi ke teman temannya. Dan alhamdulillah sudah habis 10 bungkus.
Setelah jam istirahat selesai, aku pindah ke sekolah lain, siapa tau masih keburu.
Benar saja, ternyata di SD lain baru saja istirahat.
"yok di beli di beli sempol nya, dari daging ayam pilihan , rasanya pasti enak pol. Ini juga ada seblak kering, rasanya pedas, asin, gurih. di jamin nagih"
"mas , penasaran sama seblak keringnya dong, harga nya berapa?" alhamdulillah ada yang tanya juga.
"harganya cuma 2000 aja, murah tapi uenak.... ini buatan istri ku, jadi rasanya pasti di jamin" rayuku dengan sedikit penekanan.
"boleh deh , seblak keringnya 1 sempol nya 3000, yang pedes ya"
30 menit berlalu dan jam istirahat sudah selesai, alhamdulillah seblak kering buatan istriku tinggal sisa 2 bungkus.
'alhamdulillah ya Allah' batinku.
Seperti biasa, ketika semua sudah masuk ke kelas masing masing, aku dan teman teman akan mangkal di pasar lagi, sampai nanti jam pulang sekolah baru kita akan ke sekolah lagi.
Memang seperti itu setiap harinya, kesana kemari dengan harap ada yang membeli dagangan kami.
"Nih seblak keringnya sisa 2, dimakan aja" ucapku kepada teman temanku. Sekalian biar mereka juga ikut mencicipi snack buatan istri tercintaku.
"wah, aku mau dong"
"iya nih, aku juga mau"
Ternyata kalau di kasih gratisan emang pada balapan sukanya.
__ADS_1
"enak lo ini, pintar juga istrimu buat yang aneh aneh gini, hahaha... uhuk uhuk" kata temanku penjual cilok yang tiba tiba batuk saat tertawa.
"hahaha makanya kalo lagi makan nggak usah bicara, keselek kan tuh hahaha, ini minum minum"
Bagiku, teman teman pedagang adalah keluarga keduaku. Semuanya penuh dengan canda tawa, saling mendukung dan tak pernah iri ketika salah satu dari kita sedang banyak pembeli.
Contohnya tadi aku, baru sebentar, seblak kering yang aku bawa sudah habis.
"Udah hampir jam 12, ke SMP yuk , udah hampir jam pulang sekolah juga" ajak ku pada mereka.
Seperti sedang konvoi, 5 - 6 motor beriringan setiap harinya membawa gerobak dagang, dari satu sekolah ke sekolah lain. Dari satu tempat ke tempat lain.
Sampai di SMP, kami langsung memarkirkan sepeda secara berjejeran. Dan benar saja, baru 5 menit mangkal bel sekolah sudah berbunyi dan semua siswa pergi keluar gerbang.
Tak butuh waktu lama, sekolah ini langsung sepi.
"Alhamdulillah rame semua yaa" kata penjual bakso.
"iya nih, alhamdulillah ya dapet semua" jawabku dengan senyum.
"Udah dzuhur, pergi dulu yaaa" kataku sambil melenggang pergi.
"iya iya, hati hati" jawab mereka serempak.
Ku laju kan motorku dengan semangat, sudah tak sabar rasanya ingin segera memberitahukan Sri, kalau dagangannya habis. Pasti dia akan sangat senang.
"Assalamualaikum, ma... athar...."
"Iya , waalaikumsalam mas" jawabnya dengan senyum, sepertinya dia pun tak sabar dengan dagangannya.
Sri istriku, senyumnya selalu membuat hatiku merasa sejuk. Sepusing apapun pikiranku, kalau pulang dan melihat senyum Sri dan Athar, semua masalah rasanya langsung hilang.
"gimana mas? seblak keringku laku nggak" Kan, sudah ku duga.
"Alhamdulillah ma, habis, nanti sore aku belikan kerupuk lagi , biar kamu buat seblak kering lagi ya" jawabku sambil memegang tangannya, tapi ku lihat justru pipinya yang memerah.
"Hehe, alhamdulillah mas, senang aku"
"iya ma, kata anak anak rasanya pedas asin enak banget"
"alhamdulillah kalau banyak yang suka ya mas, ya udah aku buatin teh hangat dulu, terus nanti makan ya, aku udah merebus daun singkong, goreng ikan asin sama nyambel"
"waaaah pasti enak banget, aku sholat dzuhur dulu yaa, nanti kita makan sama sama" jawabku yang selalu memuji masakannya, biar dia tambah senyum senyum.
"iya mas...."
__ADS_1